Saturday, August 13, 2016

Ular Derik

Author: Sad Anonim. 



Aku dan ayahku adalah seorang pemburu ular. Kami sering menjelajah hanya untuk mencari ular berbisa dan jika beruntung kami mungkin akan menemukan spesies baru. Ya semua itu kami jalani hampir 10 tahun, namun kami berdua memutuskan untuk berhenti karena sesuatu yang sangat menakutkan. Bahkan sampai saat ini kejadian itu masih menghantui kami. 
Hari itu aku dan ayahku berencana untuk mencari ular viper di daerah Afrika. 

Kami bermalam disebuah padang gurun karena perjalanan kami yang menempuh jarak yang lumayan jauh. Saat aku hendak memasak didekat perapian aku mendengar suara.

"Krrssekkk kreesseekkkk." 

Dengan cepat aku mencari letak asal suara itu dan aku menemukan seekor ular viper yang cukup aneh. Sisiknya berwarna agak kemerahan saat aku melihatnya dengan senterku. Dengan cepat aku berlari dan menghampiri ayah dan teman ayahku yang sedang asyik bercengkrama didekat api unggun. 

Aku memberitahukan pada mereka untuk mengambil peralatan yang biasa kami gunakan dalam menangkap ular. Saat kami hendak menuju tempatku melihat ular tadi, seorang penunjuk jalan melarang kami untuk mengejar ular itu. Dia mengatakan akan sangat bahaya jika kami berburu ular pada malam hari. 

Tapi kami yang sudah terbiasa hanya tertawa dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu aku menunjukkan pada ayah dan teman ayahku tempat aku melihat ular itu. 

Ya dia masih disana jaraknya dengan kami hampir 2 meter, kami melihat ia seperti sedang menelan sesuatu. Jadi ayahku dan teman ayahku itu berjalan dengan sangat perlahan kearah ular itu. Kami mencoba menangkapnya dari belakang, dengan sangat cepat dan mantab ayahku menahan ekor ular itu. Namun kami semua terdiam, kaki kami bergetar dan entah kenapa kami tak bisa menggerakkan kaki kami. 

Ular itu bukan lah viper, bahkan itu bukan ular. Itu adalah SEBUAH TANGAN!! Ya sebuah tangan yang dipenuhi dengan sisik yang diselimuti darah. Dan lebih mengerikannya lagi ia sedang melumat seekor tikus.

 "Krettaakkk kreeettgaaakkk." Itu suara retakkan tulang dari tikus yang ia lumat. 

Lalu tiba-tiba ada yang menepuk pundak kami satu persatu. Itu adalah penunjuk jalan tadi, ia menyarankan pada kami agar kembali dan tak melanjutkan perjalanan kami. Kami hanya bisa mengangguk dan malam itu juga kami pulang mengendarai mobil jeep kami. 

*** 

2 Tahun sudah kejadian itu berlalu, dan sejak itu kami sudah tak melakukan perkerjaan itu lagi. Teman ayahku menjadi gila, ia selalu mengatakan bahwa tangan itu selalu menghantuinya. Ya aku tak menyalahkan dia tentang hal itu. 
Sebab setiap malam, aku selalu mendengar suara gesekkan antara sisiknya dan pasir, suara retakkan tulang yang dilumat oleh tangan itu. 

Dan yang paling menggangguku adalah. Saat aku terbangun tengah malam, tangan itu merayap didinding dari samping kasurku hingga keatas tepat berhadapan denganku.

0 comments:

Post a Comment