Author: Sad Anonim.
Hari itu Anto kembali berkeliling disebuah komplek pemakaman. Ia memang ditugaskan oleh RT setempat untuk mengawasi pemakaman itu. Sebab beberapa bulan yang lalu, terjadi sebuah insiden pengculikkan mayat.
Entah kenapa, malam ini ia merasakan hawa yang lain. Lebih dingin dari biasanya. Ia terus saja menyusuri luasnya tanah berukuran 1 hektar ini. Walaupun disekelilinya banyak berdiri rumah warga. Namun, tetap saja tempat itu terlihat angker dijam 12 malam lebih.
Tak lama, ia sampai didekat pohon beringin yang berdiri kokoh didalam komplek perkuburan itu. Ia mendengar suara tawa seorang wanita. Dan tentu ia gemetar dibuatnya. Dalam benak Anto, itu pasti suara kuntilanak. Jadi, ia langsung berlari kearah sebuah pohon mangga yang tak begitu besar, namun cukup untuk menyembunyikan dirinya.
Ia mengintip dari balik pohon mangga itu untuk melihat apakah benar ada kuntilanak. Ia melihat pohon beringin itu, dari ujung akar hingga keranting pohon.
Dan disana, ia melihat sosok yang dari tadi ia takutkan. Sosok seorang wanita sedang bergenlantungan diantara ranting-ranting pohon beringin itu. Kakinya gemetar, bahkan ia sampai terkencing dicelana. Ini untuk pertama kalinya ia melihat sosok yang sering dibicarakan oleh warga sekitar.
Ia tak akan menyangka bahwa hal ini akan lebih mengerikan daripada hantu difilm-film yang pernah ia tonton. Ia memutuskan untuk pulang saat itu juga. Setelah nyawanya terkumpul, ia langsung berbalik.
Namun, satu hal membuatnya sangat terkejut dan hampir saja jantungan. Dibelakangnya berdiri sosok putih mirip guling dengan rongga dibagian kepalanya.
Ya dialah sang pocong. Anto membeku disana, ia sampai bersumpah untuk pingsan saja daripada harus menatap makhluk yang ada didepannya. Beberapa menit Anto masih terdiam disana, menatap sosok pocong yang tak memiliki wajah itu.
Dan entah kekuatan darimana, Ia bisa menggerakkan kakinya dan langsung berlari sekencang-kencangnya dari komplek perkuburan itu.
Besoknya ia baru tersadar. Bahwa pohon mangga tempat ia bersembunyi, sering dibicarakan oleh warga sebagai tempat hunian pocong.
Dan hari itu juga, Anto berhenti dari perkerjaan itu.
Hari itu Anto kembali berkeliling disebuah komplek pemakaman. Ia memang ditugaskan oleh RT setempat untuk mengawasi pemakaman itu. Sebab beberapa bulan yang lalu, terjadi sebuah insiden pengculikkan mayat.
Entah kenapa, malam ini ia merasakan hawa yang lain. Lebih dingin dari biasanya. Ia terus saja menyusuri luasnya tanah berukuran 1 hektar ini. Walaupun disekelilinya banyak berdiri rumah warga. Namun, tetap saja tempat itu terlihat angker dijam 12 malam lebih.
Tak lama, ia sampai didekat pohon beringin yang berdiri kokoh didalam komplek perkuburan itu. Ia mendengar suara tawa seorang wanita. Dan tentu ia gemetar dibuatnya. Dalam benak Anto, itu pasti suara kuntilanak. Jadi, ia langsung berlari kearah sebuah pohon mangga yang tak begitu besar, namun cukup untuk menyembunyikan dirinya.
Ia mengintip dari balik pohon mangga itu untuk melihat apakah benar ada kuntilanak. Ia melihat pohon beringin itu, dari ujung akar hingga keranting pohon.
Dan disana, ia melihat sosok yang dari tadi ia takutkan. Sosok seorang wanita sedang bergenlantungan diantara ranting-ranting pohon beringin itu. Kakinya gemetar, bahkan ia sampai terkencing dicelana. Ini untuk pertama kalinya ia melihat sosok yang sering dibicarakan oleh warga sekitar.
Ia tak akan menyangka bahwa hal ini akan lebih mengerikan daripada hantu difilm-film yang pernah ia tonton. Ia memutuskan untuk pulang saat itu juga. Setelah nyawanya terkumpul, ia langsung berbalik.
Namun, satu hal membuatnya sangat terkejut dan hampir saja jantungan. Dibelakangnya berdiri sosok putih mirip guling dengan rongga dibagian kepalanya.
Ya dialah sang pocong. Anto membeku disana, ia sampai bersumpah untuk pingsan saja daripada harus menatap makhluk yang ada didepannya. Beberapa menit Anto masih terdiam disana, menatap sosok pocong yang tak memiliki wajah itu.
Dan entah kekuatan darimana, Ia bisa menggerakkan kakinya dan langsung berlari sekencang-kencangnya dari komplek perkuburan itu.
Besoknya ia baru tersadar. Bahwa pohon mangga tempat ia bersembunyi, sering dibicarakan oleh warga sebagai tempat hunian pocong.
Dan hari itu juga, Anto berhenti dari perkerjaan itu.







0 comments:
Post a Comment