Author: Sad Anonim.
Sudah dua hari aku dan kekasihku Nara, berada diatas atap rumah berlantai dua ini. Kami terpaksa berada disini, karena Tsunami yang memporak-porandakan kota kecil kami yang berada dipesisir laut. Sebuah Tsunami yang memiliki kedalaman 4 sampai 5 meter mungkin. Semua ini terjadi pada pagi hari, saat semua orang baru saja bangun dari lelap tidurnya.
Dan dengan tiba-tiba suara sirine bencana Tsunami berbunyi, semua orang berhamburan keluar dari rumah mereka. Menaiki mobil mereka dan melaju tak terkendali, banyak sekali orang yang mengalami kecelakaan pada waktu itu. Aku yang tak mampu berpikir banyak langsung menarik tangan kekasihku untuk naik keatap rumah kami. Tak lupa aku juga membawa makanan yang ada dikulkas. Dan untungnya persedian kami lumayan banyak. Beberapa detik setelah kami sampai diatas atap, gelombang air yang sangat deras itu menghantam beberapa rumah dan mobil yang ada dijalanan.
Beberapa orang ada yang terjebak dalam arus air itu dan beberapa ada yang memanjat tiang listrik, namun saat air itu semakin meninggi. Beberapa orang yang memanjat tiang listrik itu terkena arus dan menghilang dari permukaan. Kekasihku menangis ketakutan, aku memeluknya dan bersyukur pada tuhan. Karena rumah ini tak roboh diterjang tsunami.
Kondisi diperparah dengan hujan yang datang melanda, hujan yang sangat lebat itu membuat volume air semakin meninggi. Untungnya atap rumahku ini terdapat sebuah teras tempat biasa aku menjemur pakaianku. Hal itu sedikit membantuku dan kekasihku agar tak basah kuyup dan kedinginan. Malam itu kami tertidur sambil berpelukkan untuk menghilangkan hawa dingin yang diciptakan oleh hujan lebat itu.
***
Paginya, aku terbangun karena suara minta tolong. Aku duduk dan berjalan melihat kesekelilingku. Disana, sekitar 100 meter dari tempatku beridir. Disebuah sofa yang mengapung ada seseorang yang berpegangan erat pada sofa itu. Posisi sofa itu seperti tertahan oleh sesuatu dan membuat orang itu tak terbawa arus.
"Hey, kau tak apa?" tanyaku.
"Ya, bisa kah kau membantuku untuk naik?" teriaknya.
"Tunggu!" ucapku.
Lalu aku melihat kesekeliling dan mendapati sebuah tali yang terlilit disebuah besi. Tali yang biasa aku gunakan untuk membuat jemuran tambahan jika pakaian yang ingin ku jemur berlebihan. Aku melemparkan tali itu dan untungnya tepat dan sampai tetap disamping tangannya. Ia meraih tali itu dan berpegangan erat. Aku dan kekasihku Nara menariknya, arus masih saja deras dan untungnya posisi kami menarik tak berlawanan arus tapi searah. Dengan sekuat tenaga aku dan Nara menarik wanita itu, namun tiba-tiba ia disambar oleh seekor hiu yang entah datang dari mana.
Nara yang melihat tubuh wanita yang ingin kami tolong itu terpenggal dan tercabik-cabik, sangat shock. Ia terduduk dan muntah, aku mengelus punggungnya membuatnya agar merasa nyaman.
Siang itu aku hanya berusaha untuk menenangkan Nara, arus air terlihat sudah mulai melambat. Ketinggian airpun sedikit demi sedikit menurun. Namun, tetap saja sangat bahaya untuk menyebrang kegedung sebelah untuk mencari bantuan. Setelah berpikir keras, aku mengambil tali dan membuat tulisan SOS. Semoga saja ada pasukan penyelamat yang melihat kami disini.
Aku dan Nara terus menunggu hingga hari ini, tepatnya malam ini. Kami mendengar suara deru mesin diudara. Dan berjarak sekitar setengah meter dari kami, aku melihat sorotan lampu yang semakin mendekat pada kami. Aku dan Nara mengambil pakaian kami yang berwarna putih, kami mengibar-ngibarkan baju kami sebagai tanda. Aku dan Nara tersenyum bahagia saat lampu itu semakin dekat dengan kami dan meyorot pada kami. Namun, senyum kami berubah. Saat melihat benda apa itu, suara mesin yang kami dengan bukanlah suara mesin helikopter penyelamat.
Tapi itu adalah sebuah mesin dari sebuah benda yang berbentuk seperti piringan segi empat. Sorotan lampu yang awalnya putih berubah menjadi biru, dan rasanya kami terhisap oleh cahaya itu.
Sudah dua hari aku dan kekasihku Nara, berada diatas atap rumah berlantai dua ini. Kami terpaksa berada disini, karena Tsunami yang memporak-porandakan kota kecil kami yang berada dipesisir laut. Sebuah Tsunami yang memiliki kedalaman 4 sampai 5 meter mungkin. Semua ini terjadi pada pagi hari, saat semua orang baru saja bangun dari lelap tidurnya.
Dan dengan tiba-tiba suara sirine bencana Tsunami berbunyi, semua orang berhamburan keluar dari rumah mereka. Menaiki mobil mereka dan melaju tak terkendali, banyak sekali orang yang mengalami kecelakaan pada waktu itu. Aku yang tak mampu berpikir banyak langsung menarik tangan kekasihku untuk naik keatap rumah kami. Tak lupa aku juga membawa makanan yang ada dikulkas. Dan untungnya persedian kami lumayan banyak. Beberapa detik setelah kami sampai diatas atap, gelombang air yang sangat deras itu menghantam beberapa rumah dan mobil yang ada dijalanan.
Beberapa orang ada yang terjebak dalam arus air itu dan beberapa ada yang memanjat tiang listrik, namun saat air itu semakin meninggi. Beberapa orang yang memanjat tiang listrik itu terkena arus dan menghilang dari permukaan. Kekasihku menangis ketakutan, aku memeluknya dan bersyukur pada tuhan. Karena rumah ini tak roboh diterjang tsunami.
Kondisi diperparah dengan hujan yang datang melanda, hujan yang sangat lebat itu membuat volume air semakin meninggi. Untungnya atap rumahku ini terdapat sebuah teras tempat biasa aku menjemur pakaianku. Hal itu sedikit membantuku dan kekasihku agar tak basah kuyup dan kedinginan. Malam itu kami tertidur sambil berpelukkan untuk menghilangkan hawa dingin yang diciptakan oleh hujan lebat itu.
***
Paginya, aku terbangun karena suara minta tolong. Aku duduk dan berjalan melihat kesekelilingku. Disana, sekitar 100 meter dari tempatku beridir. Disebuah sofa yang mengapung ada seseorang yang berpegangan erat pada sofa itu. Posisi sofa itu seperti tertahan oleh sesuatu dan membuat orang itu tak terbawa arus.
"Hey, kau tak apa?" tanyaku.
"Ya, bisa kah kau membantuku untuk naik?" teriaknya.
"Tunggu!" ucapku.
Lalu aku melihat kesekeliling dan mendapati sebuah tali yang terlilit disebuah besi. Tali yang biasa aku gunakan untuk membuat jemuran tambahan jika pakaian yang ingin ku jemur berlebihan. Aku melemparkan tali itu dan untungnya tepat dan sampai tetap disamping tangannya. Ia meraih tali itu dan berpegangan erat. Aku dan kekasihku Nara menariknya, arus masih saja deras dan untungnya posisi kami menarik tak berlawanan arus tapi searah. Dengan sekuat tenaga aku dan Nara menarik wanita itu, namun tiba-tiba ia disambar oleh seekor hiu yang entah datang dari mana.
Nara yang melihat tubuh wanita yang ingin kami tolong itu terpenggal dan tercabik-cabik, sangat shock. Ia terduduk dan muntah, aku mengelus punggungnya membuatnya agar merasa nyaman.
Siang itu aku hanya berusaha untuk menenangkan Nara, arus air terlihat sudah mulai melambat. Ketinggian airpun sedikit demi sedikit menurun. Namun, tetap saja sangat bahaya untuk menyebrang kegedung sebelah untuk mencari bantuan. Setelah berpikir keras, aku mengambil tali dan membuat tulisan SOS. Semoga saja ada pasukan penyelamat yang melihat kami disini.
Aku dan Nara terus menunggu hingga hari ini, tepatnya malam ini. Kami mendengar suara deru mesin diudara. Dan berjarak sekitar setengah meter dari kami, aku melihat sorotan lampu yang semakin mendekat pada kami. Aku dan Nara mengambil pakaian kami yang berwarna putih, kami mengibar-ngibarkan baju kami sebagai tanda. Aku dan Nara tersenyum bahagia saat lampu itu semakin dekat dengan kami dan meyorot pada kami. Namun, senyum kami berubah. Saat melihat benda apa itu, suara mesin yang kami dengan bukanlah suara mesin helikopter penyelamat.
Tapi itu adalah sebuah mesin dari sebuah benda yang berbentuk seperti piringan segi empat. Sorotan lampu yang awalnya putih berubah menjadi biru, dan rasanya kami terhisap oleh cahaya itu.







0 comments:
Post a Comment