Saturday, September 3, 2016

Mia

Author: Sad Anonim. 






Saat itu aku berjalan ditrotoar selepas pulang sekolah, kau tiba-tiba menepuk pelan bahuku. Aku menoleh dan melihat wajah cantikmu sedang menunduk malu. Aku sedikit heran, sikapmu tak berubah saat bertemu denganku. 


Padahal sudah 3 bulan ini kita menjalin hubungan, tapi hal itulah yang membuatku makin menyayangimu. Aku paham apa yang kau mau, kau pasti ingin pulang bersamaku. Aku hanya bisa tersenyum saat melihat wajahmu memerah saat aku mengajakmu pulang bersama. Sambil berjalan, sesekali aku melihat wajah cantikmu. 

Kau bahkan tetap terlihat cantik walaupun aku melihatmu dari samping. Terkadang pandangan kita tak sengaja bertemu, aku tersenyum saat kau langsung membuang muka dan memukul pelan lenganku karena malu. Tak terasa kita sudah sampai, rumah kita hanya terhalang satu rumah milik Paman Arthur. 

Aku ingat betul sesaat sebelum masuk kedalam rumah, kau memintaku untuk menemuimu ditaman. Aku tersenyum lalu mengiyakan ajakkannya, tentu saja aku mau. Sebab hari ini adalah hari spesial untuk kami, hari dimana kami mengikat janji 4 bulan yang lalu. Baru beberapa langkah, kau kembali keluar dan mengatakan padaku akan datang jam 3 sore. 

Aku mengangguk lalu kembali meneruskan langkahku. Sesampainya dirumah, aku melepaskan seluruh pakaian seragamku, mengganti dengan pakaian rumah dan mengecheck tabunganku. Syukurlah, uang ditabungan ini cukup banyak. 
Aku mengambil setengahnya dan pergi membeli sekuntum bunga dan sekotak coklat kesukaanmu. 

Aku datang setengah jam lebih dulu, dan duduk di sebuah kursi nomer tiga yang menatap langsung kebahu jalan. Tempat dimana aku mengungkapkan perasaanku pada gadis cantik yang kini menjadi kekasihku. 

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, jalanan lumayan padat dan banyak orang berlalu lalang dijalan ini. Mataku berfokus mencari keberadaannya, dan disana... 

Diseberang jalan itu, berdiri seorang gadis cantik dengan setelan jaket pink dan celana jeans hitam berdiri diantara padatnya orang. Aku melihat tingkah lucunya yang menatap kekiri-dan kekanan saat hendak menyeberang dizebracross, saat kau berdesakkan dengan orang-orang itu. Aku yang kasihan melihatmu berdiri dan berjalan menuju bahu jalan, aku menunggumu disisi lain dari zebracross ini. Saat itu kau melihatku dan tersenyum sembari melambaikan tangan padaku. 

Aku membalas lambaian tanganmu dengan senyum. Entah kenapa saat itu begitu terasa lama, dan tiba-tiba. Senyum diwajahmu berubah, aku tak sanggup mengingat hal itu. Saat itu tubuhmu melayang terpental beberapa meter akibat sebuah mobil yang kehilangan kendali dan menabrak dirimu dan beberapa orang lain. 

Aku sungguh sangat shock, namun itu hanya sebentar. Aku tersadar dan langsung berlari kearahmu, memeluk erat dirimu. Sungguh aku tak bisa melihat dirimu dalam keadaan terluka sedikitpun. Dan kini tubuhmu dipenuhi luka dan darah, aku dengan cepat meminta tolong untuk memanggil ambulance. Dan mengantarkanmu menuju rumah sakit. 

*** "Ayah, ayah! ayo lampunya sudah hijau," ucap gadis kecil yang berdiri sambil memegang tangan kananku. 

Aku lalu tersenyum padanya dan meletakkan sekotak coklat dan sekuntum bunga Melati yang sangat disukai olehnya. Lalu aku melangkah menyebrangi zebracross ini dan menuju taman, aku duduk dibangku nomer 3. Dan entah itu hanya ilusi atau apa. Aku melihatmu berdiri djtengah jalan, tersenyum melihatku. Kau masih tetap sama, kecantikkanmu tak luntur oleh waktu. Tak seperti diriku yang kini sudah menua. Sungguh, betapa rindunya aku pada dirimu. Sampai aku mengkhayalkan bahwa kau masih berdiri disana. Mia.

0 comments:

Post a Comment