Author: Sad Anonim.
Jenny seorang ibu rumah tangga yang berkerja sebagai seorang sekertaris disebuah kantor swasta. Perkerjaannya selalu menumpuk karena bosnya yang selalu meminta dia menemaninya kemanapun ia pergi. Jenny memang sengaja ingin berkerja karena ia bosan berada dirumah, suaminya yang adalah seorang polisi dengan pamgkat yang tinggi dan tentu gajihnya bisa memenuhi semua kebutuhan Jenny.
Malam ini, ia baru saja pulang dari kantornya. Semua ini karena bosnya yang mengajaknya untuk dinner disebuah restoran dihotel mewah. Dengan terpaksa ia harus berjalan kaki karena sudah tak ada lagi tumpangan yang melintas ditengah malam begini. Jarak kantor dari rumahnya tak begitu jauh, tapi lumayan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Dari ujung kegelapan, seseorang sudah mengintai Jenny sejak ia keluar dari kantornya. Pria ini memang sudah beberapa hari ini memantau pergerakkan Jenny. Jenny bukannya tak merasa sedang diawasi, namun ia tak ingin orang yang mengikutinya tau kalau dia sedang ketakutan.
Jenny mempercepat langkahnya, rumahnya hanya sekitar dua blok lagi. Namun orang yang dari tadi mengikuti Jenny sudah memiliki rencana yang matang. Saat Jenny sampai dipersimpangan yang cukup gelap.
Dengan cepat pria itu mencegat Jenny, ia mengacungkan sebuah pisau kewajah Jenny dan berusaha mengambil tas yang dipegang erat oleh Jenny. Dengan sekuat tenaga Jenny melawan, dan dia bisa menendang tangan pria itu dan membuat pisau dilengannya terlepas. Namun pria itu langsung mendorong Jenny dan membuat Jenny tersungkur keaspal.
Pria itu lalu menarik sebuah pistol dari saku jaketnya. Ia menodongkan senjata itu dan hendak menembak Jenny. Namun sepertinya keberuntungan berpihak pada Jenny. Suara sirine mobil polisi mengudara ditengah malam yang sunyi.
Tanpa babibu, polisi yang bertugas patroli itu dengan cepat melepaskan tembakan.
Dor!! Dor!!
Dua peluru melesat membelah udara dingin dimalam itu. Pria itu seketika terjatuh ketanah dan meregang nyawa.
***
"Aku turut bersedih atas meninggalnys istrimu Jack," ucap Sarah.
"Tak apa Sarah, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat itu semuanya sudah terjadi hiks.. Hikss.. Hiksss."
"Tenang Jack, aku ada disini. Sebaiknya kau istirahat," ucap Sarah sambil membawa Jack pergi dari acara pemakaman istrinya Jenny.
Sarah menyuruh Jack beristirahat dimobil patroli dan ia kembali lagi untuk mengurusi acara pemakaman Jenny istri rekan kerjanya itu.
Didalam mobil Jack tersenyum dan memandangi foto istrinya yang ia simpan dikantong jaketnya.
"Ini semua pantas untuk istri tak setia sepertimu Jenny, dan sebentar lagi aku akan melakukan hal yang sama dengan bosmu," ucap Jack.
Lalu ia mengambil ponselnya dari saku celana. Ia menekan sebuah nomer dan berbicara pada seseorang.
"Bagus, sekarang kau jalankan rencana berikutnya."
"Baiklah," ucap orang itu.
Orang yang ditelpon oleh Jack lalu menutup telponnya. Kini dia mendapatkan perkerjaan baru setelah mengintai wanita bernama Jenny.
Jenny seorang ibu rumah tangga yang berkerja sebagai seorang sekertaris disebuah kantor swasta. Perkerjaannya selalu menumpuk karena bosnya yang selalu meminta dia menemaninya kemanapun ia pergi. Jenny memang sengaja ingin berkerja karena ia bosan berada dirumah, suaminya yang adalah seorang polisi dengan pamgkat yang tinggi dan tentu gajihnya bisa memenuhi semua kebutuhan Jenny.
Malam ini, ia baru saja pulang dari kantornya. Semua ini karena bosnya yang mengajaknya untuk dinner disebuah restoran dihotel mewah. Dengan terpaksa ia harus berjalan kaki karena sudah tak ada lagi tumpangan yang melintas ditengah malam begini. Jarak kantor dari rumahnya tak begitu jauh, tapi lumayan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Dari ujung kegelapan, seseorang sudah mengintai Jenny sejak ia keluar dari kantornya. Pria ini memang sudah beberapa hari ini memantau pergerakkan Jenny. Jenny bukannya tak merasa sedang diawasi, namun ia tak ingin orang yang mengikutinya tau kalau dia sedang ketakutan.
Jenny mempercepat langkahnya, rumahnya hanya sekitar dua blok lagi. Namun orang yang dari tadi mengikuti Jenny sudah memiliki rencana yang matang. Saat Jenny sampai dipersimpangan yang cukup gelap.
Dengan cepat pria itu mencegat Jenny, ia mengacungkan sebuah pisau kewajah Jenny dan berusaha mengambil tas yang dipegang erat oleh Jenny. Dengan sekuat tenaga Jenny melawan, dan dia bisa menendang tangan pria itu dan membuat pisau dilengannya terlepas. Namun pria itu langsung mendorong Jenny dan membuat Jenny tersungkur keaspal.
Pria itu lalu menarik sebuah pistol dari saku jaketnya. Ia menodongkan senjata itu dan hendak menembak Jenny. Namun sepertinya keberuntungan berpihak pada Jenny. Suara sirine mobil polisi mengudara ditengah malam yang sunyi.
Tanpa babibu, polisi yang bertugas patroli itu dengan cepat melepaskan tembakan.
Dor!! Dor!!
Dua peluru melesat membelah udara dingin dimalam itu. Pria itu seketika terjatuh ketanah dan meregang nyawa.
***
"Aku turut bersedih atas meninggalnys istrimu Jack," ucap Sarah.
"Tak apa Sarah, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat itu semuanya sudah terjadi hiks.. Hikss.. Hiksss."
"Tenang Jack, aku ada disini. Sebaiknya kau istirahat," ucap Sarah sambil membawa Jack pergi dari acara pemakaman istrinya Jenny.
Sarah menyuruh Jack beristirahat dimobil patroli dan ia kembali lagi untuk mengurusi acara pemakaman Jenny istri rekan kerjanya itu.
Didalam mobil Jack tersenyum dan memandangi foto istrinya yang ia simpan dikantong jaketnya.
"Ini semua pantas untuk istri tak setia sepertimu Jenny, dan sebentar lagi aku akan melakukan hal yang sama dengan bosmu," ucap Jack.
Lalu ia mengambil ponselnya dari saku celana. Ia menekan sebuah nomer dan berbicara pada seseorang.
"Bagus, sekarang kau jalankan rencana berikutnya."
"Baiklah," ucap orang itu.
Orang yang ditelpon oleh Jack lalu menutup telponnya. Kini dia mendapatkan perkerjaan baru setelah mengintai wanita bernama Jenny.







0 comments:
Post a Comment