Saturday, September 3, 2016

Poltergeist Part-2: I'am Afraid

Author: Sad Anonim




"Bu... Buku ini?" 

Sepintas kenangan masa lalu Sam berputar kembali diotaknya. Ia mengingat saat dimana ia bermain dengan ayahnya diruang tengah. Mereka sedang bermain video game, hari yang begitu panas membuat mereka berdua malas untuk keluar rumah. 
Sam selalu menang dari ayahnya dalam permainan tinju yang mereka mainkan. Tak ada yang aneh hari itu, sampai ayahnya memberikan sebuah bungkus kado kecil. 
Kado itu adalah hadiah untuk hari ulang tahun Sam yang bahkan Sam telah lupa.

"Ini untukmu nak!" ucap Ayah Sam sambil mengelus pelan kepala anaknya.

"Ini apa ayah?" tanya Sam.

"Bukalah, simpan dengan baik ya. Ini akan sangat membantumu nanti," ucap Ayah Sam. 

Sam lalu membuka hadiah itu, sebuah buku tebal bercover tulisan aneh membuat Sam bertanya-tanya.

"Jangan bingung, sampai saatnya tiba kau akan mengetahui apa manfaat buku ini," ucap Ayah Sam sambil mengelus pelan kepala anaknya. 

Kini kembali kedunia nyata, Sam membuka lembaran pertama buku itu. Ia ingat betul buku itu menghilang bersama ayahnya 10 tahun yang lalu. Dihalaman pertama buku itu tertulis dengan huruf besar. 

 "Kau tak boleh kembali, kau akan bertemu dengan ayahmu." Sam mengernyitkan dahinya, ia sungguh penasaran dengan buku dan tempat ini. 

Namun, ia tetap mengingat tugasnya disini. Untuk mencari tempat penyimpanan narkoba. Sam lalu berdiri, ia keluar dari ruangan itu sambil melihat kesekeliling. Ia tak ingin mengalami kejutan dari makhluk yang bahkan tak pernah ia percayai. 
Perlahan Sam menyorotkan lampus senternya kearah lorong yang sangat gelap itu. Entah dari mana tiba-tiba suara tetesan air terdengar memenuhi lorong gelap itu. Dengan sangat perlahan, kaki gemetar Sam melangkah menuju suara asing itu. 

Bohong jika orang-orang tak takut dengan keadaan seperti Sam saat ini. Bahkan tentara yang memiliki prestasi dipeperanganpun pasti akan gemetar. Satu pintu membuat Sam penasaran. Pintu itu berwarna coklat, berbeda dengan pintu yang lain. Sam berjalan mendekat selangkah demi selangkah, dan saat ia hendak menyentuh gagang pintu itu. 

Angin dingin langsung menerpa tubuh Sam, dan saat ia menghadap kekanan. Sebuah wajah yang hancur sebelahnya dengan mulut yang berbentuk O.
Wajah Sam langsung pucat, hal yang sangat tak ia inginkan benar-benar terjadi. Hal yang sering ia liat difilm-film jepang ataupun horror dari negara lain. Setelah itu sosok itu berteriak dengan nyaringnya disamping telinga Sam. 

Sam langsung terduduk lemas, semua persendiannya seperti lolos dari tubuhnya. Perempuan itu mendekat kearah Sam, namun saat Sam memejamkan matanya karena takut. Semua menjadi hening! Sam tetap memejamkan matanya untuk beberapa saat sebelum ia membukanya. 

Dan..... 

Wajah itu tepat didepan hidung Sam dengan posisi terbalik. Sam tak tau lagi harus apa, sungguh ia sangat ingin pingsan saat itu namun tubuhnya tak mau melaksanakan apa yang otaknya pikirkan. Tiba-tiba buku itu melayang keluar dari jaket yang dikenakan oleh Sam. 

Sosok itu berteriak seperti orang yang ketakutan dan menghilang begitu saja, Sam keheranan dengan semua itu. Ia lalu mengambil buku yang masih melayang itu dan menyimpannya kembali. Sungguh ia sangat ingin berlari keluar dari tempat ini. 

Namun rasa penasarannya lebih besar dari ketakutannya, ia memutar pelan knop pintu itu dan mendorongnya. Sebuah tangga terpampang didepan Sam, perlahan ia menaiki satu-persatu anak tangga itu. Hingga ia menemukan sebuah pintu besar dengan dua knop yang sudah berkarat. 
Sam mengeluarkan dua buah peniti, untuk membuka kunci dipintu itu. Sam yang sudah berpengalaman dalam membuka pintu yang terkunci dengan mudah membukanya. 

Dan saat ia mendorong pintu itu, aroma tak sedap langsung menusuk hidung Sam. Bau yang bahkan lebih busuk dari mayat yang telah berhari-hari dibiarkan. Sam tak menyangka, gedung yang terlihat kecil ini ternyata sangatlah besar. Sam mengarahkan lampu senternya, pemandangan yang sangat mengerikan terlihat. 

Dinding-dinding dipenuhi dengam bercak darah dan beberapa organ tubuh manusia yang tergantung dan tergeletak sembarangan. Sam tak akan muntah dengan hal ini, karena ia pernah melihat yang bahkan lebih buruk dari kondisi ini terkecuali saat ia bertemu makhluk astral tadi. Sam menarik pistolnya dari sarung pistol dipinggangnya, dengan kondisi siap menembak Sam berjalan dan melihat lorong yang terbelah menjadi dua. 

Dipersimpangan lorong itu terdapat dua buah pintu yang berwarna putih dan coklat. Sam memilih pintu berwarna putih, pintu itu sebenarnya adalah pintu yang salah. 
Dan pintu itu akan mengantarkan Sam kesebuah hal yang lebih mengerikan dan lebih membingungkannya lagi. 

Bersambung (Part-2).

0 comments:

Post a Comment