Author: Sad Anonim.
Disini, aku akan menceritakan sebuah kisah yang terjadi pada seorang penderita insomnia.
Entah kenapa, malam ini perasaanku sangat tak nyaman. Seperti ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi padaku. Dari tadi aku hanya mondar-mandir didepan jendela kamar yang kubuka gordennya. Sesekali aku melihat keluar jendela, namun hanya gelapnya malam yang menemaniku saat ini. Lampu temaram yang dipasang ditiang-tiang lampy dijalan hanya menambah kesan horor.
Aku yakin, tak akan ada orang yang mau keluar pada malam hari seperti ini. Entah kenapa, ini yang pertama kali untukku. Merasa tak nyaman atas penyakit insomnia yang aku derita sejak 1 bulan yang lalu. Merasa tak nyaman saat bangun sendiri ditengah malam yang gelap ini.
Hampir setengah jam aku berjalan mondar-mandir. Iseng aku mengambil teleskopku dan memasangnya didepan jendela kamarku. Aku meneropong kearah rumah yang ada diseberang jalan, sebuah rumah bertingkat dua bergaya minimalis yang ditinggali dua orang gadis yang sangat cantik dan sexy dikompleks ini.
Sungguh, bahkan akupun tertarik pada mereka. Aku mendekatkan mataku kearah corong teleskop ini, mencoba mencari dan melihat kondisi rumah yang lampunya masih menyala itu.
"Ah mungkin mereka sedang berpesta dengan pacar mereka," ucapku dalam hati.
Aku terus mengamati kondisi rumah itu. Lama aku hanya melihat jendela kosong, namun saat aku hendak menghentikan kegiatan mengintipku. Aku melihat seseorang yang berjalan mengendap-endap dari satu jendela ke jendela yang lainnya.
Lalu orang itu berhenti disebuah jendela yang menurutku adalah kamar dua gadis itu. Orang itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mataku terbelalak melihat bentuk bayangan dari benda yang dipegang orang itu. Itu sebuah pisau dapur. Orang itu lalu mengayunkan pisaunya kebawah seperti menghujam sesuatu, lalu lampu dijendela itu mati.
Dengan spontan aku langsung menutup jendela kamarku dan mematikan lampu kamarku yang menyala. Aku berharap orang itu tak melihatku. Sesekali aku mengintip dari celah gorden yang aku buka sedikit untuk melihat orang itu, apakah ia akan berjalan menghampiri rumahku seperti halnya adegan difilm-film horror yang sering ku lihat.
Namun, untung aku tak melihat pria itu. Aku lalu memutuskan berbaring dikasurku. Setengah jam aku memandang lurus ke plafon rumahku yang dicat berwarna putih ini. Dan saat mataku hampir terlelap, aku mendengar suara pintu belakang rumahku yang terbuka. Aku langsung melompat dan mengambil pemukul baseball yang biasa aku simpan dibawah kasur.
Dengan perlahan aku keluar dari kamarku yang berada dilantai dua. Aku turun dan langsung menyalakan lampu.
"Ah ternyata kau Carlos, aku kira siapa," ucapku.
"Haha, Eric apa kau ingin memukulku dengan tongkat itu?" tanyanya.
"Ya, bisa dibilang begitu. Apa kau mendapatkan dua gadis itu?" tanyaku.
"Ya, lihat lah ini," ucap Carlos sambil membuka dua karung yang sudah ia letakkan dilantai entah kapan.
"Bagus, kita bisa menjadikan mereka budak kita, bawa mereka kelantai bawah," ucapku.
"Cih.. Kau hanya bisa memerintah. Angkatlah satu, kau kira ini enteng?" ucap Carlos.
"Ya ya, baik lah," ucapku dengan berat hati.
Disini, aku akan menceritakan sebuah kisah yang terjadi pada seorang penderita insomnia.
Entah kenapa, malam ini perasaanku sangat tak nyaman. Seperti ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi padaku. Dari tadi aku hanya mondar-mandir didepan jendela kamar yang kubuka gordennya. Sesekali aku melihat keluar jendela, namun hanya gelapnya malam yang menemaniku saat ini. Lampu temaram yang dipasang ditiang-tiang lampy dijalan hanya menambah kesan horor.
Aku yakin, tak akan ada orang yang mau keluar pada malam hari seperti ini. Entah kenapa, ini yang pertama kali untukku. Merasa tak nyaman atas penyakit insomnia yang aku derita sejak 1 bulan yang lalu. Merasa tak nyaman saat bangun sendiri ditengah malam yang gelap ini.
Hampir setengah jam aku berjalan mondar-mandir. Iseng aku mengambil teleskopku dan memasangnya didepan jendela kamarku. Aku meneropong kearah rumah yang ada diseberang jalan, sebuah rumah bertingkat dua bergaya minimalis yang ditinggali dua orang gadis yang sangat cantik dan sexy dikompleks ini.
Sungguh, bahkan akupun tertarik pada mereka. Aku mendekatkan mataku kearah corong teleskop ini, mencoba mencari dan melihat kondisi rumah yang lampunya masih menyala itu.
"Ah mungkin mereka sedang berpesta dengan pacar mereka," ucapku dalam hati.
Aku terus mengamati kondisi rumah itu. Lama aku hanya melihat jendela kosong, namun saat aku hendak menghentikan kegiatan mengintipku. Aku melihat seseorang yang berjalan mengendap-endap dari satu jendela ke jendela yang lainnya.
Lalu orang itu berhenti disebuah jendela yang menurutku adalah kamar dua gadis itu. Orang itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mataku terbelalak melihat bentuk bayangan dari benda yang dipegang orang itu. Itu sebuah pisau dapur. Orang itu lalu mengayunkan pisaunya kebawah seperti menghujam sesuatu, lalu lampu dijendela itu mati.
Dengan spontan aku langsung menutup jendela kamarku dan mematikan lampu kamarku yang menyala. Aku berharap orang itu tak melihatku. Sesekali aku mengintip dari celah gorden yang aku buka sedikit untuk melihat orang itu, apakah ia akan berjalan menghampiri rumahku seperti halnya adegan difilm-film horror yang sering ku lihat.
Namun, untung aku tak melihat pria itu. Aku lalu memutuskan berbaring dikasurku. Setengah jam aku memandang lurus ke plafon rumahku yang dicat berwarna putih ini. Dan saat mataku hampir terlelap, aku mendengar suara pintu belakang rumahku yang terbuka. Aku langsung melompat dan mengambil pemukul baseball yang biasa aku simpan dibawah kasur.
Dengan perlahan aku keluar dari kamarku yang berada dilantai dua. Aku turun dan langsung menyalakan lampu.
"Ah ternyata kau Carlos, aku kira siapa," ucapku.
"Haha, Eric apa kau ingin memukulku dengan tongkat itu?" tanyanya.
"Ya, bisa dibilang begitu. Apa kau mendapatkan dua gadis itu?" tanyaku.
"Ya, lihat lah ini," ucap Carlos sambil membuka dua karung yang sudah ia letakkan dilantai entah kapan.
"Bagus, kita bisa menjadikan mereka budak kita, bawa mereka kelantai bawah," ucapku.
"Cih.. Kau hanya bisa memerintah. Angkatlah satu, kau kira ini enteng?" ucap Carlos.
"Ya ya, baik lah," ucapku dengan berat hati.







0 comments:
Post a Comment