Saturday, August 13, 2016

Penyusup Natal

Author: Sad Anonim



Jill, gadis berumur 12 tahun dengan rambut pirang sedang asyik menghias pohon natal dengan beberapa pernak-pernik. Tiba-tiba suara telpon berdering, ia melangkah kemeja dan mengangkat telpon. 
Telpom itu ternyata dari ibunya yang adalah seorang perawat dirumah sakit setempat. Ibunya bilang bahwa ia tak bisa pulang cepat, dan mungkin akan kembali saat tengah malam. Jill yang memang anak baik dan pemberani hanya mengiyakan. 
Jill menutup telponnya dan kembali menghiasi pohon natal. Tak berselang lama, pohon natal itu kini terlihat cantik. Anak umur 12 tahun itu lalu duduk disofa sambil menonton acara tv yang sedang berlangsung. Apartemen yang dihuni oleh 20 keluarga ini hampir kosong, hampir seluruh penghuni apartemen ini pulang untuk merayakan natal dengan keluarga besar mereka yang entah ada dimana. 
Dan saat waktu menunjukkan pukul 10 malam, Jill merasa bosan menunggu ibunya yanh tak kunjung pulang. Samar-samar Jill mendengar suara ketukan dipintu. Ia berjalan dengan perlahan dan mengintip dari lubang kunci. Disana ia melihat seorang pria berjenggot dengan pakaian merah yang terlihat kotor. Tubuhnya besar dan terlihat menjijikkan. 
Jill hanya diam, ia ingin mengetahui apa maksud dari orang ini. Ketukan dipintu semakin keras, bahkan seakan-akan itu bukanlah ketukan. Tapi sebuah paksaan untuk mendorong pintu itu agar terbuka. Jill tetap diam ditempatnya berdiri sambil mengintip dari lubang kunci. 
"Jill bukalah pintunya, aku tau kau ada disana anak manis," ucap pria itu. 
Jill ketakutan, namun ia tetap mencoba mengintip dari lubang kunci itu. Suara ketukan dipintu kini berhenti, orang itupun tak lagi berada didepan pintu. Jill sedikit bernafas lega, ia tentu saja ketakutan. Apa yang bisa anak umur 12 tahun lakukan jika harus melawan pria bertubuh besar seperti orang gila yang mencoba untuk masuk tadi. Namun, suara yang cukup keras terdengar. Jill mencoba mengintip lagi lewat lubang pintu, betapa terkejutnya ia saat melihat pria itu mengayunkan kapak dan mencoba untuk merusak pintu. 
Jill lalu berlari naik kelantai dua untuk bersembunyi didalam kamar. Ia mengunci pintu kamar dan masuk kedalam lemari pakaian. Disitu Jill bisa mendengar suara pintu yang berhasil dirusak oleh penyusup itu. Jill menangis, tubuhnya gemetar ketakutan. Apalagi saat suara langkah kaki yang dengan cepat menaiki anak tangga. Suara benturan antara mata kapak dan kayupun terdengar lagi. Hal itu membuat Jill semakin ketakutan. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dan suara langkah kaki itu berhenti tepat didepan lemari tempat Jill bersembunyi. 
"Jill, aku tau kau disana. Keluarlah!!"ucap pria itu. 
Dengan paksa pria itu merusak pintu lemari, ia berhasil merusak pintu itu dan membukanya. Dan disana ia melihat Jill yang meringkuk ketakutan. Pria itu menarik rambut Jill, membawanya keluar dan melemparkan tubuh gadis berumur 12 tahun itu kekasur. 
"Baiklah Jill, kita akan bersenang-senang dimalam natal ini. Ini aku santa claus yang akan memberikan hadiah bagi anak baik sepertimu," ucap pria itu.
*** 
Merry pulang, ia terkejut saat melihat pintu depan kamar apartemennya rusak. Ia masuk kedalam rumah denga terburu-buru. Matanya hanya mencoba untuk mencari putri kecilnya, ia tak memikirkan hal lain lagi. Bahkan bingkisan yang ia pegangpun ia jatuh dilantai begitu saja. Ia tambah terkejut saat melihat isi rumah yang berantakkan. 
Dan saat ia melihat ruang tengah, hatinya menjadi lega. Ia melihat anaknya duduk manis sambil melihat kearah pohon natal. Tapi tunggu!! pohon natal itu dihiasi isi perut manusia. Merry berjalan pelan menghampiri anaknya. Ia menyentuh pelan bahu anaknya. Jill memutar kepalanya, ia tersenyum dengan bibir penuh darah dan mulut yang sedang mengunyah sesuatu. Merry melihat seonggok kepala yang bagian tempurungnya sudah berlubang dan dari lubang itu keluar bagian otak yang tersisa setengah.
"Sayang ada apa?" tanya Merry sambil mengelus kepala anaknya. 
"Pria ini tadi menyusup keapartemen kita dan mencoba untuk membunuhku bu. Tapi karena aku lapar jadinya aku memakannya, maafkan aku bu," ucap Jill menunduk. 
"Tak apa, jadi ibu bisa menyimpan hati dan jantung yang ibu bawa untuk sarapan kita besok," ucap Merry sambil tersenyum.

0 comments:

Post a Comment