Author: Sad Anonim
Aku tinggal didaerah kalimantan, hutan disini masih terjaga walaupun sudah mulai banyak perusahaan yang mulai membabat hutan tapi itu hanya beberapa persen luas hutan dikalimantan dan tak akan mempengaruhi ekosistem. Aku juga tak tau mengapa perusahaan-perusahaan yang mencoba menambang hasil bumi disini seperti terhalang sesuatu. Seperti ada sebuah kekuatan yang melindungi seluruh hutan ini dari pembabatan liar.
Baiklah aku akan menceritakan sedikit tentang pengalaman yang pernah aku alami saat aku berkerja disebuah perusahaan dan bertugas untuk menemukan lokasi yang cocok untuk pembangunan perusahaan.
***
Aku lupa kejadian ini terjadi pada tahun berapa, yang pasti itu terjadi dihari kamis. Hujan terus mengguyur dedaunan dari pohon-pohon yang tersusun indah. Aku bahkan tak sampai hati untuk merusak keindahan alam yang diciptakan sang maha kuasa ini. Namun, tuntutan pekerjaan ini mengharuskanku melakukannya. Aku berserta 3 temanku menerobos hutan dimana kami akan melakukan pengujian dan pemetaan dasar.
Kami berangkat dari kampung terdekat dengan bekal seadanya. Tetua disini menyarankan kami untuk tidak mencoba merusak hutan disini, atau tidak kami akan menemui hal-hal yang sangat menakutkan. Aku yang memang sedikit percaya akan hal gaib hanya mengiyakan, namun tidak dengan ketiga temanku yang berasal dari luar pulau kalimantan.
Mereka hanya tertawa dan mengejek tetua bahwa ia hanya ingin membuat mereka pergi ketakutan.
Sekitar 5 kilometer berjalan, akhirnya kami sampai dilokasi yang kami tuju. Disana kami mendirikan tenda dan mulai melakukan pekerjaan kami masing-masing. Entahlah, tiba-tiba firasatku tidak enak. Apalagi kini hari sudah mulai gelap. Aku menyalakan api unggun untuk menghalangi hewan buas dihutan ini tak mencoba mengincar kami.
Kami saling bercerita disekitar api unggun sambil menunggu mie yang kami rebus matang. Tak terasa 3 menit sudah berlalu, aku langsung saja menumpahkan mie yang kucampur dengan dua buah telor kesebuah mangkuk plastik. Aku mencampurkan semua bumbu dan mulai menyantapnya. Saat sedang asyiknya kami menyantap mie dan bercerita.
Sesuatu membuat suara yang cukup nyaring dan membuat kami semua waspada. Rino dengan cepat menyambar senapannya yang berada disamping tubuhnya. Dengan lampu senter kami mencoba memeriksa hal apa itu. Kami melihat sepasang laki-laki dan perempuan, mereka berdiri berdampingan dengan pandangan kosong. Aku yang penasaran mencoba bertanya pada mereka.
"Kalian sedang apa?" tanyaku.
Namun, mereka tak menjawab. Akupun mengulangi pertanyaanku, tapi tetap saja. Mereka hanya diam membisu. Rino dan Agungpun mencoba mendekat kearah mereka, dan hal yang membuat mata kami terbelalak terjadi. Mereka memegang kepala mereka dan menariknya keatas. Kepala itu putus bersama beberapa organ dalam mereka.
Kami semua hanya bisa berdiri mematung. Kaki kami semua gemetar, tak ada yang bisa kami lakukan dan kami pikirkan. Sebab yang ada diotak kami hanya rasa takut yang bahkan tak pernah kami rasakan seumur hidup. Tiba-tiba suara tawa terdengar diseluruh penjuru hutan, daun-daun bergoyang dengan kencangnya padahal saat itu tak ada angin kencang yang berhembus.
Disampingku, sebuah wanita melayang. Aku bisa menggerakkan tanganku dan menyorotkan lampu dari senter yang kupegang kearahnya. Ia mengenakn gaun berwarna merah, dan saat ia menatap kearahku. Gigi-giginya yang panjang dan seperti gergaji itu membuatku bergidik ngeri. Kami mencoba untuk lari dari situ, namun tak ada yang sanggup untuk menggerakkan tubuh mereka.
Sekitar 10 menit kami melihat semua hal-hal gaib yang mengerikan berkeliaran disekitar kami. Namun, saat seseorang menepuk pundakku. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku dan aku berteriak sekuat-kuatnya. Tangan itu langsung membekap mulutku dan seseorang berbisik padaku.
"Jangan berisik!"
Aku menoleh dan melihat tetua dari desa yang kami singgahi tadi bersama empat orang yang tak kukenal.
Aku meminta tolong pada tetua untuk menyadarkan ketiga teman-temanku. Ia menepuk pundak Niko dan langsung membekap mulutnya, sama halnya dengan Agung dan Rino. Ia langsung mengajak kami untuk pergi dari tempat itu. Sesampainya di desa kami langsung disuruh duduk didekat api unggun. Dan tetua melakukan ritual pada kami, entah ritual apa itu tapi cukup membantu kami menghilangkan rasa takut dan shock kami.
Kami disuruh tetua untuk beristirahat disalah satu rumah penduduk sambil menunggu esok pagi.
***
Besoknya kami pulang kekota dan memberitahukan pada atasan kami apa yang sudah kami alami, tentu ia hanya tertawa dan mengatakan pada kami bahwa kami tak bisa diandalkan. Jabatan kami diturunkan dan dia sendiri berangkat bersama 5 orang yang ia percaya dan ia pilih untuk menemaninya.
Kami hanya bisa melihatnya pergi saat semua apa yang kami ucapkan tak ia gubris. Tugas pemetaan itu sebenarnya hanya berlangsung 2 hari. Tapi, sudah 2 minggu mereka tak kembali dan tak ada kabar. Hal itu disampaikan pada direktur utama dan ia meminta kami untuk mencari mereka dengan bantuan polisi dan penduduk setempat. Hari itu kami berangkat, tim kami berjumlah 10 orang dan kami dengan bantuan tetua desa yang menyelamatkan kami dulu masuk menelusuri hutan.
Tak butuh waktu lama, saat sore menjelang kami menemukan mereka semua terkapar dengan kondisi perut yang terbelah dan beberapa organ dalam mereka tak utuh lagi. Dan hari itu juga kami mengangkut jenazah mereka kedesa dan rencananya besok kami akan membawanya kekota untuk dimakamkan karena kondisi yang tak memungkinkan saat malam hari.
Disana sang tetua menceritakan bahwa hutan ini dijaga oleh sebuah kampung gaib. Sudah banyak yang mencoba untuk merusak hutan ini dengan berbagai macam proyek, dan hasilnya beberapa orang ditemukan tewas dan ada juga yang menghilang. Dan aku bersyukur saat itu aku bersama tiga temanku bisa kembali dengan selamat dan tak kurang suatu apapu.
Tamat
Aku tinggal didaerah kalimantan, hutan disini masih terjaga walaupun sudah mulai banyak perusahaan yang mulai membabat hutan tapi itu hanya beberapa persen luas hutan dikalimantan dan tak akan mempengaruhi ekosistem. Aku juga tak tau mengapa perusahaan-perusahaan yang mencoba menambang hasil bumi disini seperti terhalang sesuatu. Seperti ada sebuah kekuatan yang melindungi seluruh hutan ini dari pembabatan liar.
Baiklah aku akan menceritakan sedikit tentang pengalaman yang pernah aku alami saat aku berkerja disebuah perusahaan dan bertugas untuk menemukan lokasi yang cocok untuk pembangunan perusahaan.
***
Aku lupa kejadian ini terjadi pada tahun berapa, yang pasti itu terjadi dihari kamis. Hujan terus mengguyur dedaunan dari pohon-pohon yang tersusun indah. Aku bahkan tak sampai hati untuk merusak keindahan alam yang diciptakan sang maha kuasa ini. Namun, tuntutan pekerjaan ini mengharuskanku melakukannya. Aku berserta 3 temanku menerobos hutan dimana kami akan melakukan pengujian dan pemetaan dasar.
Kami berangkat dari kampung terdekat dengan bekal seadanya. Tetua disini menyarankan kami untuk tidak mencoba merusak hutan disini, atau tidak kami akan menemui hal-hal yang sangat menakutkan. Aku yang memang sedikit percaya akan hal gaib hanya mengiyakan, namun tidak dengan ketiga temanku yang berasal dari luar pulau kalimantan.
Mereka hanya tertawa dan mengejek tetua bahwa ia hanya ingin membuat mereka pergi ketakutan.
Sekitar 5 kilometer berjalan, akhirnya kami sampai dilokasi yang kami tuju. Disana kami mendirikan tenda dan mulai melakukan pekerjaan kami masing-masing. Entahlah, tiba-tiba firasatku tidak enak. Apalagi kini hari sudah mulai gelap. Aku menyalakan api unggun untuk menghalangi hewan buas dihutan ini tak mencoba mengincar kami.
Kami saling bercerita disekitar api unggun sambil menunggu mie yang kami rebus matang. Tak terasa 3 menit sudah berlalu, aku langsung saja menumpahkan mie yang kucampur dengan dua buah telor kesebuah mangkuk plastik. Aku mencampurkan semua bumbu dan mulai menyantapnya. Saat sedang asyiknya kami menyantap mie dan bercerita.
Sesuatu membuat suara yang cukup nyaring dan membuat kami semua waspada. Rino dengan cepat menyambar senapannya yang berada disamping tubuhnya. Dengan lampu senter kami mencoba memeriksa hal apa itu. Kami melihat sepasang laki-laki dan perempuan, mereka berdiri berdampingan dengan pandangan kosong. Aku yang penasaran mencoba bertanya pada mereka.
"Kalian sedang apa?" tanyaku.
Namun, mereka tak menjawab. Akupun mengulangi pertanyaanku, tapi tetap saja. Mereka hanya diam membisu. Rino dan Agungpun mencoba mendekat kearah mereka, dan hal yang membuat mata kami terbelalak terjadi. Mereka memegang kepala mereka dan menariknya keatas. Kepala itu putus bersama beberapa organ dalam mereka.
Kami semua hanya bisa berdiri mematung. Kaki kami semua gemetar, tak ada yang bisa kami lakukan dan kami pikirkan. Sebab yang ada diotak kami hanya rasa takut yang bahkan tak pernah kami rasakan seumur hidup. Tiba-tiba suara tawa terdengar diseluruh penjuru hutan, daun-daun bergoyang dengan kencangnya padahal saat itu tak ada angin kencang yang berhembus.
Disampingku, sebuah wanita melayang. Aku bisa menggerakkan tanganku dan menyorotkan lampu dari senter yang kupegang kearahnya. Ia mengenakn gaun berwarna merah, dan saat ia menatap kearahku. Gigi-giginya yang panjang dan seperti gergaji itu membuatku bergidik ngeri. Kami mencoba untuk lari dari situ, namun tak ada yang sanggup untuk menggerakkan tubuh mereka.
Sekitar 10 menit kami melihat semua hal-hal gaib yang mengerikan berkeliaran disekitar kami. Namun, saat seseorang menepuk pundakku. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku dan aku berteriak sekuat-kuatnya. Tangan itu langsung membekap mulutku dan seseorang berbisik padaku.
"Jangan berisik!"
Aku menoleh dan melihat tetua dari desa yang kami singgahi tadi bersama empat orang yang tak kukenal.
Aku meminta tolong pada tetua untuk menyadarkan ketiga teman-temanku. Ia menepuk pundak Niko dan langsung membekap mulutnya, sama halnya dengan Agung dan Rino. Ia langsung mengajak kami untuk pergi dari tempat itu. Sesampainya di desa kami langsung disuruh duduk didekat api unggun. Dan tetua melakukan ritual pada kami, entah ritual apa itu tapi cukup membantu kami menghilangkan rasa takut dan shock kami.
Kami disuruh tetua untuk beristirahat disalah satu rumah penduduk sambil menunggu esok pagi.
***
Besoknya kami pulang kekota dan memberitahukan pada atasan kami apa yang sudah kami alami, tentu ia hanya tertawa dan mengatakan pada kami bahwa kami tak bisa diandalkan. Jabatan kami diturunkan dan dia sendiri berangkat bersama 5 orang yang ia percaya dan ia pilih untuk menemaninya.
Kami hanya bisa melihatnya pergi saat semua apa yang kami ucapkan tak ia gubris. Tugas pemetaan itu sebenarnya hanya berlangsung 2 hari. Tapi, sudah 2 minggu mereka tak kembali dan tak ada kabar. Hal itu disampaikan pada direktur utama dan ia meminta kami untuk mencari mereka dengan bantuan polisi dan penduduk setempat. Hari itu kami berangkat, tim kami berjumlah 10 orang dan kami dengan bantuan tetua desa yang menyelamatkan kami dulu masuk menelusuri hutan.
Tak butuh waktu lama, saat sore menjelang kami menemukan mereka semua terkapar dengan kondisi perut yang terbelah dan beberapa organ dalam mereka tak utuh lagi. Dan hari itu juga kami mengangkut jenazah mereka kedesa dan rencananya besok kami akan membawanya kekota untuk dimakamkan karena kondisi yang tak memungkinkan saat malam hari.
Disana sang tetua menceritakan bahwa hutan ini dijaga oleh sebuah kampung gaib. Sudah banyak yang mencoba untuk merusak hutan ini dengan berbagai macam proyek, dan hasilnya beberapa orang ditemukan tewas dan ada juga yang menghilang. Dan aku bersyukur saat itu aku bersama tiga temanku bisa kembali dengan selamat dan tak kurang suatu apapu.
Tamat







0 comments:
Post a Comment