Author: Sad Anonim.
"Hari yang indah Sam," ucap seorang wanita bernama Maggie.
"Oh ya, tentu. Hari ini sangat cerah hingga aku harus menutup mataku dengan kaca nako hitam ini," ucap Sam sambil tertawa.
Maggie juga ikut tertawa dengan lawakan seorang polisi berpangkat sersan satu ini. Sam kemudian mengambil topi yang sering ia kenakan jika bertugas, ia sebenarnya berniat untuk membeli segelas kopi susu dicafe Jack. Satu-satunya cafe dikota kecil bernama Roader ini. Setelah berpamitan dengan Maggie, Sam mendorong pelan pintu cafe itu dan berjalan menuju bangku yang ada didepan bartender.
"Hey Jack, seperti biasa ya," ucap Sam.
Jack mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Sam. Dengan gesit ia mencampurkan beberapa sendok kopi menambahkannya dengan segelas air panas dan terakhir ia mencampurkan susu dan gula secara bersamaan.
"Ini Sam, satu gelas kopi susu untuk pria yang sebentar lagi ingin menikah," ucap Jack.
Sam hanya tersenyum tipis. Ya, sebentar lagi ia ingin melepas masa lajangnya dengan seorang wanita yang menjadi polisi dikantornya.
"Ah kau ini, jangan menyebarkan gosip," ucap Sam.
Jack hanya tertawa mendengar ucapan Sam yang malu-malu kucing itu. Mereka lalu membahas hal-hal yang berhubungan dengan acara pernikahan dan apa saja yang harus Sam persiapkan. Karena, Jack sudah mempunyai istri. Maka dengan senang hati ia menceritakan semua pengalamannya pada Sam.
Tiba-tiba walkie talkie yang tergantung dipinggang Sam berbunyi.
"Drrtt... Petugas Sam, apa kau bisa kekantor?"
"Ya Sam disini, baik! aku akan segera kesana," ucap Sam.
Ia lalu mematikan walkie talkienya dan membayar kopi yang ia minum. Lalu ia bergegas menuju mobilnya dan melaju menuju kantornya yang berjarak 5 blok. Sesampainya dikantor, Sam langsung menuju ruang pimpinan polisi dikota itu.
"Ada apa pak?" tanya Sam.
"Aku memiliki tugas untukmu," ucap Gerrald.
"Tugas apa?"
"Kau harus menyelidiki sebuah gedung kosong yang ada diujung selatan," ucap Gerrald.
"Gedung yang ada disamping sekolah itu?" tanya Sam.
"Ya, aku mendapat rumor. Bahwa tempat itu dijadikan sebagai tempat persembunyian narkoba," ucap Gerrald.
"Baikah! aku akan mengawasinya sendiri," ucap Sam.
Sam beranjak dari ruangan itu. Ia berjalan menuju ruangannya untuk mengambil sebuah pistol bertype Colt Python yang disisinya sudah diukir dengan ukiran naga berwarna emas, sebuah senter dan belati yang terbuat dari baja hitam dan dilapisi perak. Semua adalah pemberian sang ayah yang entah kenapa membuat semua senjata itu menjadi seperti itu.
Sam bahkan tak menyangka jika sang ayah bisa membuat senjata sebagus itu. Dan kini ia siap untuk menjalankan tugasnya. Dua senjata itu selalu menemaninya dalam menjalankan tugas. Sam mengganti pakaiannya dengan setelan jaket kulit berwarna coklat dan celana jeans hitam agar ia tak terlihat seperti seorang polisi.
Andai saja ia tau apa yang akan menimpanya, mungkin ia bisa memilih untuk menolak tugas ini.
***
"Uhh tempat ini sangat buruk," ucap Sam.
Kini Sam telah berada didalam gedung yang ditunjuk oleh Gerrald. Ia telah memeriksa beberapa tempat dan kini ia ada dilantai dua. Ia masih mencoba mencari gudang tempat penyimpanan narkoba yang ditakutkan oleh Gerrald.
Brakkk!!!
Suara keras itu membuat Sam terkejut, dengan cahaya dari senter yang ia bawa. Ia mencoba melihat ke asal suara itu, ia kini menuju sebuah ruangan yang pintunya terbuka setengah. Ia mendorong dengan pelan pintu itu dan mendapati sesuatu.....
"Sialan, ini toilet. Cihh baunya tak tertolong," ucap Sam sambik menutupi hidungnya dengan jaket yang ia kenakan.
Ia membuka satu-persatu pintu kamar mandi yang berjumlah 4 buah itu. Semua kosong, hingga ia sampai dipintu terakhir. Pintu itu dengan sendirinya terbuka dan dari dalam seseorang dengan cepat menabrak tubuh Sam dan membuat Sam terjatuh.
"Hey tunggu!!" teriak Sam.
Sam dengan cepat bangkit dan mencoba mengejar orang itu. Namun ia kehilangan jejak saat ia sampai dipersimpangan antara dua buah lorong. Sam mengambil lorong yang ada disebelah kirinya, ia lalu mencoba membuka dan melihat setiap ruangan yang ada di lorong itu. Semuanya terlihat kosong dan sangat kotor, sarang laba-laba menggantung dimana-mana dan membuat Sam sangat malas untuk menerobos masuk kedalam ruangan itu.
"Brakk!!!"
"Brakk!!"
"Braakkkkk!!"
Suara yang cukup keras itu terdengar lagi. Sam dengan perlahan melihat apa yang menyebabkan suara itu untuk kali ini. Karena ia merasakan bahwa dirinya tak aman, ia mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Tiba-tiba lampu digedung itu menyala, dan mata Sam melotot melihat apa yang ada diujung lorong dan menyebabkan bunyi keras itu. Sebuah kursi melayang dengan sendirinya dan menghantam sebuah pintu yang sepertinya terkunci.
Sam tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh matanya. Ia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan penglihatannya tak salah. Bulu kuduknya seketika berdiri, ia tak menyangka melihat hal yang selama ini ia anggap konyol dan mustahil benar-benar terjadi.
Sam mematikan senternya dan melihat kearah ruangan yang kini menjadi terang. Tak sengaja matanya menatap sebuah pintu yang terbuka sedikit, dengan perlahan ia berjalan menuju pintu itu dan masuk kedalamnya. Disana ia menemukan sebuah buku yang bagian kulit luarnya terbakar.
Matanya melotot saat melihat halaman pertama yang tercetak dibuku itu.
"Buku ini! ini adalah...."
Bersambung (Part-1).
"Hari yang indah Sam," ucap seorang wanita bernama Maggie.
"Oh ya, tentu. Hari ini sangat cerah hingga aku harus menutup mataku dengan kaca nako hitam ini," ucap Sam sambil tertawa.
Maggie juga ikut tertawa dengan lawakan seorang polisi berpangkat sersan satu ini. Sam kemudian mengambil topi yang sering ia kenakan jika bertugas, ia sebenarnya berniat untuk membeli segelas kopi susu dicafe Jack. Satu-satunya cafe dikota kecil bernama Roader ini. Setelah berpamitan dengan Maggie, Sam mendorong pelan pintu cafe itu dan berjalan menuju bangku yang ada didepan bartender.
"Hey Jack, seperti biasa ya," ucap Sam.
Jack mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Sam. Dengan gesit ia mencampurkan beberapa sendok kopi menambahkannya dengan segelas air panas dan terakhir ia mencampurkan susu dan gula secara bersamaan.
"Ini Sam, satu gelas kopi susu untuk pria yang sebentar lagi ingin menikah," ucap Jack.
Sam hanya tersenyum tipis. Ya, sebentar lagi ia ingin melepas masa lajangnya dengan seorang wanita yang menjadi polisi dikantornya.
"Ah kau ini, jangan menyebarkan gosip," ucap Sam.
Jack hanya tertawa mendengar ucapan Sam yang malu-malu kucing itu. Mereka lalu membahas hal-hal yang berhubungan dengan acara pernikahan dan apa saja yang harus Sam persiapkan. Karena, Jack sudah mempunyai istri. Maka dengan senang hati ia menceritakan semua pengalamannya pada Sam.
Tiba-tiba walkie talkie yang tergantung dipinggang Sam berbunyi.
"Drrtt... Petugas Sam, apa kau bisa kekantor?"
"Ya Sam disini, baik! aku akan segera kesana," ucap Sam.
Ia lalu mematikan walkie talkienya dan membayar kopi yang ia minum. Lalu ia bergegas menuju mobilnya dan melaju menuju kantornya yang berjarak 5 blok. Sesampainya dikantor, Sam langsung menuju ruang pimpinan polisi dikota itu.
"Ada apa pak?" tanya Sam.
"Aku memiliki tugas untukmu," ucap Gerrald.
"Tugas apa?"
"Kau harus menyelidiki sebuah gedung kosong yang ada diujung selatan," ucap Gerrald.
"Gedung yang ada disamping sekolah itu?" tanya Sam.
"Ya, aku mendapat rumor. Bahwa tempat itu dijadikan sebagai tempat persembunyian narkoba," ucap Gerrald.
"Baikah! aku akan mengawasinya sendiri," ucap Sam.
Sam beranjak dari ruangan itu. Ia berjalan menuju ruangannya untuk mengambil sebuah pistol bertype Colt Python yang disisinya sudah diukir dengan ukiran naga berwarna emas, sebuah senter dan belati yang terbuat dari baja hitam dan dilapisi perak. Semua adalah pemberian sang ayah yang entah kenapa membuat semua senjata itu menjadi seperti itu.
Sam bahkan tak menyangka jika sang ayah bisa membuat senjata sebagus itu. Dan kini ia siap untuk menjalankan tugasnya. Dua senjata itu selalu menemaninya dalam menjalankan tugas. Sam mengganti pakaiannya dengan setelan jaket kulit berwarna coklat dan celana jeans hitam agar ia tak terlihat seperti seorang polisi.
Andai saja ia tau apa yang akan menimpanya, mungkin ia bisa memilih untuk menolak tugas ini.
***
"Uhh tempat ini sangat buruk," ucap Sam.
Kini Sam telah berada didalam gedung yang ditunjuk oleh Gerrald. Ia telah memeriksa beberapa tempat dan kini ia ada dilantai dua. Ia masih mencoba mencari gudang tempat penyimpanan narkoba yang ditakutkan oleh Gerrald.
Brakkk!!!
Suara keras itu membuat Sam terkejut, dengan cahaya dari senter yang ia bawa. Ia mencoba melihat ke asal suara itu, ia kini menuju sebuah ruangan yang pintunya terbuka setengah. Ia mendorong dengan pelan pintu itu dan mendapati sesuatu.....
"Sialan, ini toilet. Cihh baunya tak tertolong," ucap Sam sambik menutupi hidungnya dengan jaket yang ia kenakan.
Ia membuka satu-persatu pintu kamar mandi yang berjumlah 4 buah itu. Semua kosong, hingga ia sampai dipintu terakhir. Pintu itu dengan sendirinya terbuka dan dari dalam seseorang dengan cepat menabrak tubuh Sam dan membuat Sam terjatuh.
"Hey tunggu!!" teriak Sam.
Sam dengan cepat bangkit dan mencoba mengejar orang itu. Namun ia kehilangan jejak saat ia sampai dipersimpangan antara dua buah lorong. Sam mengambil lorong yang ada disebelah kirinya, ia lalu mencoba membuka dan melihat setiap ruangan yang ada di lorong itu. Semuanya terlihat kosong dan sangat kotor, sarang laba-laba menggantung dimana-mana dan membuat Sam sangat malas untuk menerobos masuk kedalam ruangan itu.
"Brakk!!!"
"Brakk!!"
"Braakkkkk!!"
Suara yang cukup keras itu terdengar lagi. Sam dengan perlahan melihat apa yang menyebabkan suara itu untuk kali ini. Karena ia merasakan bahwa dirinya tak aman, ia mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Tiba-tiba lampu digedung itu menyala, dan mata Sam melotot melihat apa yang ada diujung lorong dan menyebabkan bunyi keras itu. Sebuah kursi melayang dengan sendirinya dan menghantam sebuah pintu yang sepertinya terkunci.
Sam tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh matanya. Ia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan penglihatannya tak salah. Bulu kuduknya seketika berdiri, ia tak menyangka melihat hal yang selama ini ia anggap konyol dan mustahil benar-benar terjadi.
Sam mematikan senternya dan melihat kearah ruangan yang kini menjadi terang. Tak sengaja matanya menatap sebuah pintu yang terbuka sedikit, dengan perlahan ia berjalan menuju pintu itu dan masuk kedalamnya. Disana ia menemukan sebuah buku yang bagian kulit luarnya terbakar.
Matanya melotot saat melihat halaman pertama yang tercetak dibuku itu.
"Buku ini! ini adalah...."
Bersambung (Part-1).






0 comments:
Post a Comment