Jill, gadis berumur 12 tahun dengan
rambut pirang sedang asyik menghias pohon natal dengan beberapa pernak-pernik.
Tiba-tiba suara telpon berdering, ia melangkah kemeja dan mengangkat telpon.
Telpom itu ternyata dari ibunya yang adalah seorang perawat dirumah sakit
setempat. Ibunya bilang bahwa ia tak bisa pulang cepat, dan mungkin akan
kembali saat tengah malam. Jill yang memang anak baik dan pemberani hanya
mengiyakan.
Jill menutup telponnya dan kembali
menghiasi pohon natal. Tak berselang lama, pohon natal itu kini terlihat
cantik. Anak umur 12 tahun itu lalu duduk disofa sambil menonton acara tv yang
sedang berlangsung. Apartemen yang dihuni oleh 20 keluarga ini hampir kosong,
hampir seluruh penghuni apartemen ini pulang untuk merayakan natal dengan
keluarga besar mereka yang entah ada dimana.
Dan saat waktu menunjukkan pukul 10
malam, Jill merasa bosan menunggu ibunya yanh tak kunjung pulang. Samar-samar
Jill mendengar suara ketukan dipintu. Ia berjalan dengan perlahan dan mengintip
dari lubang kunci. Disana ia melihat seorang pria berjenggot dengan pakaian
merah yang terlihat kotor. Tubuhnya besar dan terlihat menjijikkan.
Jill hanya diam, ia ingin mengetahui
apa maksud dari orang ini. Ketukan dipintu semakin keras, bahkan seakan-akan
itu bukanlah ketukan. Tapi sebuah paksaan untuk mendorong pintu itu agar
terbuka. Jill tetap diam ditempatnya berdiri sambil mengintip dari lubang
kunci.
"Jill bukalah pintunya, aku tau
kau ada disana anak manis," ucap pria itu.
Jill ketakutan, namun ia tetap
mencoba mengintip dari lubang kunci itu. Suara ketukan dipintu kini berhenti,
orang itupun tak lagi berada didepan pintu. Jill sedikit bernafas lega, ia
tentu saja ketakutan. Apa yang bisa anak umur 12 tahun lakukan jika harus
melawan pria bertubuh besar seperti orang gila yang mencoba untuk masuk tadi.
Namun, suara yang cukup keras terdengar. Jill mencoba mengintip lagi lewat
lubang pintu, betapa terkejutnya ia saat melihat pria itu mengayunkan kapak dan
mencoba untuk merusak pintu.
Jill lalu berlari naik kelantai dua
untuk bersembunyi didalam kamar. Ia mengunci pintu kamar dan masuk kedalam
lemari pakaian. Disitu Jill bisa mendengar suara pintu yang berhasil dirusak
oleh penyusup itu. Jill menangis, tubuhnya gemetar ketakutan. Apalagi saat
suara langkah kaki yang dengan cepat menaiki anak tangga. Suara benturan antara
mata kapak dan kayupun terdengar lagi. Hal itu membuat Jill semakin ketakutan.
Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dan suara langkah kaki itu berhenti
tepat didepan lemari tempat Jill bersembunyi.
"Jill, aku tau kau disana.
Keluarlah!!"ucap pria itu.
Dengan paksa pria itu merusak pintu
lemari, ia berhasil merusak pintu itu dan membukanya. Dan disana ia melihat
Jill yang meringkuk ketakutan. Pria itu menarik rambut Jill, membawanya keluar
dan melemparkan tubuh gadis berumur 12 tahun itu kekasur.
"Baiklah Jill, kita akan
bersenang-senang dimalam natal ini. Ini aku santa claus yang akan memberikan
hadiah bagi anak baik sepertimu," ucap pria itu.
***
Merry pulang, ia terkejut saat
melihat pintu depan kamar apartemennya rusak. Ia masuk kedalam rumah denga
terburu-buru. Matanya hanya mencoba untuk mencari putri kecilnya, ia tak
memikirkan hal lain lagi. Bahkan bingkisan yang ia pegangpun ia jatuh dilantai
begitu saja. Ia tambah terkejut saat melihat isi rumah yang berantakkan.
Dan saat ia melihat ruang tengah,
hatinya menjadi lega. Ia melihat anaknya duduk manis sambil melihat kearah
pohon natal. Tapi tunggu!! pohon natal itu dihiasi isi perut manusia. Merry
berjalan pelan menghampiri anaknya. Ia menyentuh pelan bahu anaknya. Jill
memutar kepalanya, ia tersenyum dengan bibir penuh darah dan mulut yang sedang
mengunyah sesuatu. Merry melihat seonggok kepala yang bagian tempurungnya sudah
berlubang dan dari lubang itu keluar bagian otak yang tersisa setengah.
"Sayang ada apa?" tanya
Merry sambil mengelus kepala anaknya.
"Pria ini tadi menyusup
keapartemen kita dan mencoba untuk membunuhku bu. Tapi karena aku lapar jadinya
aku memakannya, maafkan aku bu," ucap Jill menunduk.
"Tak apa, jadi ibu bisa
menyimpan hati dan jantung yang ibu bawa untuk sarapan kita besok," ucap
Merry sambil tersenyum.