This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, August 30, 2016

Map

Author: Sad Anonim


Seorang pria ditemukan meninggal dengan keadaan leher yang terbelah, setelah diselidiki pria itu bernama Anton. Ia adalah seorang sejarahwan. Saat itu polisi dan penyidik langsung melakukan olah TKP, mereka hanya menemukan secarik kertas dengan tulisan.

"6,12LU"

Kertas itu tepat terselip diantara jari-jari tangan kanan korban. Tak ada sidik jari sama sekali, semua bersih.
Hingga saat seorang penyidik tak sengaja membuat mayat korban terbalik, terdapat tulisan lagi dilantai tempat korban terbaring.

"Aku ingin bermain, Kubik selalu menjadi kegemaranku, berjalan mundur juga hal yang membuatku selalu tertawa. Jadi temukanlah diriku."

Polisi yang kebingungan dengan hal itu memanggil detektif Frank.

Frank melihat tulisan itu dan memanggil semua orang yang terakhir kali bertemu korban.

Darek.
Pria berumur 26 tahun.
Aku bertemu korban saat pukul 12 malam. Ia memintaku untuk menemaninya malam itu sambil minum. Namun, aku menolaknya. Ia bilang ia ingin merayakan penemuan bernilai jutaan dollar yang baru saja ia temukan.


Cilu.
Seorang pria berumur 28 tahun, seumuran dengan korban.
Malam itu aku bertemu korban pada pukul 11:53 malam. Dia mengajakku untuk minum, namun aku menolaknya. Aku sangat mengantuk sat itu dan masuk kedalam kamarku yang berjarak 3 kamar dari kamarnya. Aku tak menyangka ada orang yang tega melakukan hal sekeji itu.


John.
Pria berumur 24 tahun.
Seorang supir.
Aku memang memiliki masalah dengannya soal gajih, tapi aku tak mungkin melakukan hal itu.

Untuk kali ini Frank cukup kesulitan menemukan pembunuh sebenarnya. Semua keterangan bisa saja palsu.

Friday, August 26, 2016

Poltergeist Part-1: The Job

Author: Sad Anonim.



"Hari yang indah Sam," ucap seorang wanita bernama Maggie.

"Oh ya, tentu. Hari ini sangat cerah hingga aku harus menutup mataku dengan kaca nako hitam ini," ucap Sam sambil tertawa.

Maggie juga ikut tertawa dengan lawakan seorang polisi berpangkat sersan satu ini. Sam kemudian mengambil topi yang sering ia kenakan jika bertugas, ia sebenarnya berniat untuk membeli segelas kopi susu dicafe Jack. Satu-satunya cafe dikota kecil bernama Roader ini. Setelah berpamitan dengan Maggie, Sam mendorong pelan pintu cafe itu dan berjalan menuju bangku yang ada didepan bartender.

"Hey Jack, seperti biasa ya," ucap Sam.

Jack mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Sam. Dengan gesit ia mencampurkan beberapa sendok kopi menambahkannya dengan segelas air panas dan terakhir ia mencampurkan susu dan gula secara bersamaan.

"Ini Sam, satu gelas kopi susu untuk pria yang sebentar lagi ingin menikah," ucap Jack.
Sam hanya tersenyum tipis. Ya, sebentar lagi ia ingin melepas masa lajangnya dengan seorang wanita yang menjadi polisi dikantornya.

"Ah kau ini, jangan menyebarkan gosip," ucap Sam.

Jack hanya tertawa mendengar ucapan Sam yang malu-malu kucing itu. Mereka lalu membahas hal-hal yang berhubungan dengan acara pernikahan dan apa saja yang harus Sam persiapkan. Karena, Jack sudah mempunyai istri. Maka dengan senang hati ia menceritakan semua pengalamannya pada Sam.
Tiba-tiba walkie talkie yang tergantung dipinggang Sam berbunyi.

"Drrtt... Petugas Sam, apa kau bisa kekantor?"

"Ya Sam disini, baik! aku akan segera kesana," ucap Sam.

Ia lalu mematikan walkie talkienya dan membayar kopi yang ia minum. Lalu ia bergegas menuju mobilnya dan melaju menuju kantornya yang berjarak 5 blok. Sesampainya dikantor, Sam langsung menuju ruang pimpinan polisi dikota itu.

"Ada apa pak?" tanya Sam.

"Aku memiliki tugas untukmu," ucap Gerrald.

"Tugas apa?"

"Kau harus menyelidiki sebuah gedung kosong yang ada diujung selatan," ucap Gerrald.

"Gedung yang ada disamping sekolah itu?" tanya Sam.

"Ya, aku mendapat rumor. Bahwa tempat itu dijadikan sebagai tempat persembunyian narkoba," ucap Gerrald.

"Baikah! aku akan mengawasinya sendiri," ucap Sam.

Sam beranjak dari ruangan itu. Ia berjalan menuju ruangannya untuk mengambil sebuah pistol bertype Colt Python yang disisinya sudah diukir dengan ukiran naga berwarna emas, sebuah senter dan belati yang terbuat dari baja hitam dan dilapisi perak. Semua adalah pemberian sang ayah yang entah kenapa membuat semua senjata itu menjadi seperti itu.

Sam bahkan tak menyangka jika sang ayah bisa membuat senjata sebagus itu. Dan kini ia siap untuk menjalankan tugasnya. Dua senjata itu selalu menemaninya dalam menjalankan tugas. Sam mengganti pakaiannya dengan setelan jaket kulit berwarna coklat dan celana jeans hitam agar ia tak terlihat seperti seorang polisi.
Andai saja ia tau apa yang akan menimpanya, mungkin ia bisa memilih untuk menolak tugas ini.

***

"Uhh tempat ini sangat buruk," ucap Sam.
Kini Sam telah berada didalam gedung yang ditunjuk oleh Gerrald. Ia telah memeriksa beberapa tempat dan kini ia ada dilantai dua. Ia masih mencoba mencari gudang tempat penyimpanan narkoba yang ditakutkan oleh Gerrald.
Brakkk!!!

Suara keras itu membuat Sam terkejut, dengan cahaya dari senter yang ia bawa. Ia mencoba melihat ke asal suara itu, ia kini menuju sebuah ruangan yang pintunya terbuka setengah. Ia mendorong dengan pelan pintu itu dan mendapati sesuatu.....

"Sialan, ini toilet. Cihh baunya tak tertolong," ucap Sam sambik menutupi hidungnya dengan jaket yang ia kenakan.

Ia membuka satu-persatu pintu kamar mandi yang berjumlah 4 buah itu. Semua kosong, hingga ia sampai dipintu terakhir. Pintu itu dengan sendirinya terbuka dan dari dalam seseorang dengan cepat menabrak tubuh Sam dan membuat Sam terjatuh.

"Hey tunggu!!" teriak Sam.

Sam dengan cepat bangkit dan mencoba mengejar orang itu. Namun ia kehilangan jejak saat ia sampai dipersimpangan antara dua buah lorong. Sam mengambil lorong yang ada disebelah kirinya, ia lalu mencoba membuka dan melihat setiap ruangan yang ada di lorong itu. Semuanya terlihat kosong dan sangat kotor, sarang laba-laba menggantung dimana-mana dan membuat Sam sangat malas untuk menerobos masuk kedalam ruangan itu.

"Brakk!!!"
"Brakk!!"
"Braakkkkk!!"


Suara yang cukup keras itu terdengar lagi. Sam dengan perlahan melihat apa yang menyebabkan suara itu untuk kali ini. Karena ia merasakan bahwa dirinya tak aman, ia mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Tiba-tiba lampu digedung itu menyala, dan mata Sam melotot melihat apa yang ada diujung lorong dan menyebabkan bunyi keras itu. Sebuah kursi melayang dengan sendirinya dan menghantam sebuah pintu yang sepertinya terkunci.

Sam tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh matanya. Ia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan penglihatannya tak salah. Bulu kuduknya seketika berdiri, ia tak menyangka melihat hal yang selama ini ia anggap konyol dan mustahil benar-benar terjadi.

Sam mematikan senternya dan melihat kearah ruangan yang kini menjadi terang. Tak sengaja matanya menatap sebuah pintu yang terbuka sedikit, dengan perlahan ia berjalan menuju pintu itu dan masuk kedalamnya. Disana ia menemukan sebuah buku yang bagian kulit luarnya terbakar.

Matanya melotot saat melihat halaman pertama yang tercetak dibuku itu.

"Buku ini! ini adalah...."

Bersambung (Part-1).

Wednesday, August 24, 2016

Garis Tuhan


Author: Sad Anonim. 
 
Kau tau sayang? 
Aku akan selalu menunggumu disini. Dikursi tua disebuah taman tempat kita pertama kali bertemu. Tempat dimana kita berkenalan dengan wajah dihiasi semua merah karena malu. Aku sangat ingat betul waktu itu. Saat mata bulatmu melirikku diam-diam. 
 
Saat kau tersenyum melihat tingkah konyolku bersama teman-temanku. Aku masih ingat semua itu. Apalagi saat kita hendak berjabat tangan, bukannya menyambut tanganku. Kau malah lari sambil tersenyum meninggalkanku. Dan saat kita untuk pertama kalinya berkencan, dimana aku mengungkapkan isi hatiku padamu. 
 
 Kau menerima cintaku dengan tulus dan dalam beberapa tahun lamanya akhirnya kita memutuskan untuk menikah. Aku masih saja tertawa jika mengingat saat malam pertama kita. Aku tersangkut ujung meja dan langsung menabrakmu yang sedang ingin berganti pakaian. Lalu saat aku ingin bangkit, ternyata kancing bajumu tersangkut dibajuku. 
 
Hal konyol yang menghilangkan suasana romantis malam itu. Aku juga masih ingat, saat untuk pertama kalinya kau melahirkan. Melahirkan seorang anak perempuan yang sangat mirip denganmu. Yah, walaupun kita sering bertengkar karena hal sepele. Tapi, hal itulah yang sangat berkesan bagiku. Kau!! Hanya kau yang mau menerimaku apa adanya. 
 
Walaupun kau tau aku makhluk yang abadi hingga akhir jaman. 
Walaupun kau tau aku tak bisa mati, tidak seperti dirimu. 
 
 Saat dimana hal yang paling tak ku inginkan terjadi, saat dimana kau meregang nyawa. Saat dimana tugasku diberikan sang maha pencipta untukmu. Walaupun sangat berat, tapi sebagai malaikat pencabut nyawa. Aku tak bisa melanggarnya. 
 
 Dan kini, aku menunggumu disini. 
 
Menunggu reinkarnasi dari rohmu. 
 
Menunggu seseorang yang sangat mirip denganmu, menunggu cinta yang hanya digariskan tuhan padaku.

Trust It


Author: Sad Anonim. 
Kalian pernah membaca tentang urban legend? 
Urban legend yang menceritakan saat orang meninggal, seluruh kaca atau cermin harus ditutup agar arwah orang yang meninggal itu tak masuk kedalam cermin? 
Aku sarankan kepada kalian untuk percaya, karena jika kalian mengalami kejadian yang aku alami ini. Mungkin kalian akan mulai percaya pada semua mitos dan urban legend tentang larangan-larangan yang mungkin tak masuk akal. Baiklah aku akan menceritakannya untuk kalian. 
 ***
14 Desember 2006. Hari itu hari dimana kakekku menceritakan kepadaku tentang urban legend ini. Kakekku selalu mewanti-wanti diriku agar tak melakukan hal yang dilarang itu. Saat itu tetanggaku baru saja meninggal, dan dengan isengnya aku membuka sebuah kain penutup cermin yang tepat berada disamping mayat. Kakekku yang melihat aku melakukan hal itu dengan sigap menutup kembali cermin yang ku buka tadi. Ia menarik telingaku sambil membawaku berjalan masuk kedalam rumahku. 
Ia memarahiku dengan suara yang cukup keras. Aku yang masih berumur 14 tahun ketakutan dengan amarah yang diluapkan oleh kakekku. Sebab aku tak pernah melihatnya semarah itu padaku. Aku hanya bisa menunduk sambil diceramahi oleh kakekku. 
*** 
27 Desember 2014. 
Hari itu adalah hari ternaas bagiku. Aku mengalami kecelakaan bersama kakekku. Aku bisa melihat ia meregang nyawa saat diberada diruang operasi. Kata dokter ia mengalami pendarah pada jantung dan kepalannya hingga ia tak bisa diselamatkan lagi. Semua keluarga kami berduka hari itu. Sosok tegas yang selalu memberi nasihat dan pelajaran hidup untuk kami sudah pergi untuk selamanya. Aku dan seluruh keluarga besarku hadir dalam upacara pemakamannya yang diadakan dirumah duka. 
Orang tuaku adalah orang yang paling bersedih karena insiden ini. Mereka terus menangis diatas jasad kakek Frank. Ibuku bahkan jatuh pingsan tak lama kemudian karena rasa sedih yang ia alami. Upacara berlangsung penuh duka, hingga salah seorang anak kecil berumur 14 tahun dengan tiba-tiba menarik penutup cermin yang ada disampingku. Aku bisa melihat dunia ini berputar dan tiba-tiba pandanganku gelap.
 Saat tersadar, aku merasakn tangan seseorang menggenggam tanganku dan menggoyang-goyangkannya. Aku bisa melihat raut wajah Kakekku, betapa bahagianya aku saat itu. Namun saat aku bangkit aku melihat pemandangan yang membuatku diam membeku. Wajahku pucat pasih bahkan aku tak bisa berfikir dan mengkontrol tubuhku. 
Aku melihat tetanggaku yang meninggal 8 tahun yang lalu. Aku tak mengerti akan semua ini. Lalu kakekku menepuk pundakku dan menggiringku kearah sebuah cermin besar. Disana aku melihat tulisan nama kakekku terpajang rapi. Tapi namakupun ikut tersusun rapi disamping nama kakekku. Aku lalu menatap wajah kakekku yang pucat itu. Ia mengangguk lalu menatap mataku dengan tajam. 
"Sekarang kau sudah percaya bukan tentang apa yang ku larang 8 tahun yang lalu?" ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.

Jimmy Yang Tak Pernah Takut.


Author: Sad Anonim. 
Jimmy adalah seorang anak yang pemberani, ia tak pernah takut bahkan saat umurnya 5 tahun ia ditinggal sendirian dirumahnya yang berada dipinggir hutan oleh kedua orang tuanya. Jimmy selalu merasa senang dan tak pernah menampakkan wajah sedih atau putus asa. Seperti saat ia terjebak ditengah hutan bersama kelompok pramukannya saat ia duduk disekolah menengah pertama.
Teman-temannya menangis histeris, sedangkan Jimmy hanya menatap lurus, tersenyum dan mencoba mencari jalan keluar dari hutan menyeramkan itu. Ia tak pernah sedikitpun takut, saat suara lolongan anjing hutan atau srigala liar yang menggema saat malam tiba. Jimmy tau, jika ia tak takut mereka tak akan berani mendekatinya. Dan beberapa hari yang lalu, Jimmy mengalami hal yang cukup menakutkan bagi orang lain. Ia disekap oleh beberapa orang disebuah gudang.
Disana ia dipukul berulang kali dan tak jarang ia juga mengalami tindak kekerasan yang lain. Seminggu ia disekap disana dan saat mereka lengah, Jimmy berhasil mengambil pisau yang tergeletak disampingnya. Ia berhasil melepaskan diri, berjalan dengan pelan dan menikam satu persatu orang yang menyekapnya. Ia tak takut dengan apa yang ia lakukan, karena ia sudah dilatih oleh almarhum kakeknya. Semua orang yang menyekapnya berhasil ia bunuh, dan beberapa organ dalam dari para penyekap itu diambil oleh Jimmy. Ia tak ingin rugi dengan apa yang telah terjadi padanya. 
Berselang dua hari setelah kejadian itu, Jimmy mendapatkan surat ancaman dari seseorang untuk menjauhi gadis yang sekarang ia dekati. Ya, Jimmy tak akan takut dengan hal semacam ini. Ia menantang orang itu dan terus mendekati gadis pujaannya. Sayangnya ancaman itu hanya ancaman belaka. Jimmy tak mendapatkan hal yang berarti setelah hari itu. Namun hal yang terjadi hari ini pada Jimmy membuatnya sangat ketakutan. Kata-kata almarhum kakeknya memang benar adanya. 
Ia tak akan merasa takut dengan apa yang dilakukan manusia, hewan ataupun apa yang terjadi dibumi ini terkecuali satu hal. 
Saat kau hanya bisa terbaring dikasurmu. 
Saat kau mencoba menggerakkan seluruh tubuhmu dan kau tak bisa. Saat seseorang datang dengan sebuah sabit yang besar, panjang, dan tajam. Saat orang itu menampilkan gambaran antara tempat indah yang diselimuti hamparan rumput tipis dan deretan bunga-bunga indah dan sebuah tempat tandus yang dipenuhi oleh kobaran api, yang tak ada rumput sama sekali kecuali jeretan paku dan kawat berduri yang berwarna kehitaman. 
Dan saat kau ditarik dari tubuhmu dan dimasukkan ketempat penuh api itu.

Wednesday, August 17, 2016

LDR (Long Distance Relationship)

Author: Sad Anonim


Sayang, aku kira hubungan jarak jauh ini bisa kita jalani. Aku kira semuanya bisa seperti saat kita saling menatap satu sama lain. Saling bercanda dengan es krim cone yang saling kita tempelkan dihidung, aku menempelkannya dihidung mancung kecil mu. Dan kau sebaliknya dihidung besarku.

Aku kira semua akan sama saat kau berpura-pura marah dan mendiamkanku. Saat aku akan mencoba membujukmu dengan segala cara dan saat aku menyerah. Kau tersenyum dengan indahnya dan merangkulku dari belakang.
Aku kira hal-hal kecil seperti ucapan selamat malam yang selalu aku ucapkan untukmu akan membawamu dalam tidur nyenyakmu didalam pelukkanku.

AKU KIRA SEMUA ITU AKAN SAMA SAYANG!

Tapi, semua itu hanya indah diawal. Beberapa hari saat kita menjalin hubungan jarak jauh itu karena aku harus bertugas di negri antah berentah ini.
Semua itu berubah karena orang itu. Orang yang kini sedang ada dihadapanku dengan wajah ketakutan. Dengan wajah memelas untuk diberi belas kasihan.
Tapi, aku tak bisa sayang!!

Semua yang ia lakukan sudah diluar batas kemanusiaan. Dia! DIA yang telah membuatmu berada jauh disana. Tempat dimana aku tak bisa menjangkaunya, tempat dimana aku hanya bisa memandang fotomu saat aku rindu.

Sayang, aku tak tau apa yang kau alami saat pria ini datang malam itu. Tapi, semua itu membuatku tak bisa membedakan dunia nyata dan khayalanku. Aku kini tak bisa menyentuhmu lagi hanya karena nafsu binatang dari pria ini. Aku harus sayangku!
AKU HARUS!!

Aku akan melakukan ini sayang. Mengambil sebuah belati, menancapkannya tepat dipaha pria itu. Merobek pahanya hingga terbuka lebar dan menarik keluar semua urat dipahanya itu. Membuka seluruh pakaiannya, menyiram luka yang terbuka lebar dipahanya dengan campuran air garam dan lemon yang kuperas sendiri.

Menarik garis lurus dari pusar diperut pria itu sampai kearah kemaluan dan testisnya dengan belati itu. Menekan dengan kuat saat ujung tajam dari belati itu sampai di kemaluannya. Membuat kemaluan pria itu terbelah dan merobek testisnya yang bergelantungan.
Mendengar teriakan tertahan darinya saat luka yang baru saja kubuat kusiram dengan sisa air campuran garam dan perasan lemon. Lalu menusuk lehernya tepat di jakunnya yang turun naik dengan cepat hingga menembus kebelakang tengkuknya. Melihat dirinya meregang nyawa saat darah dari luka ditenggorokkan dan bagian tubuh lainnya keluar dengan derasnya dan menjauh dari tubuhnya. Lalu membakar dirinya dan seluruh isi rumahnya.
Aku tak bisa berpikir lagi sayang. Hubungan jarak jauh ini sungguh sangat menyakitkan untukku. Namun, aku bahagia.

AKU SUNGGUH SANGAT BAHAGIA!
Saat aku menusukkan belati itu tepat dijantungku. Saat darah dalam tubuhku tak dapat lagi terpompa dan mengisi seluruh organ didalam tubuhku. Tak bisa lagi mengantarkan oksigen yang ditampung oleh paru-paruku keseluruh tubuhku. Dan saat malaikat kematian itu datang dibeberapa saat sebelum nyawaku lepas dari tubuhku, dan terlebih lagi.
SAAT AKU MELIHAT WAJAHMU LAGI!

Dengan senyum indah yang menghiasi dan mengantarkan aku kedalam pelukkanmu dialam abadi ini.

De Javu

Author: Sad Anonim
 

Malam kemarin aku bermimpi sangat buruk. Dalam mimpiku aku mengalami sebuah insiden yang merenggut nyawaku sendiri, saat itu aku berada disebuah seminar yang diadakan oleh salah satu pejabat tinggi negara.

Walaupun ia dikabarkan melakukan tindak korupsi, tapi sampai saat ini semuanya belum terbukti kebenarannya.
Dia mengadakan seminar tentang betapa indahnya hidup, aku yang tertarik ikut dalam seminar siang itu. Entah kenapa, dari awal masuk kedalam gedung itu aku merasakan hal yang sangat mengganjal dalam dadaku. Rasanya firasatku menyuruhku untuk pergi dari ruangan itu secepatnya.

Ternyata firasatku itu terbukti benar, saat seminar itu selesai masing-masing dari kami bisa berjabat tangan dengannya. Dan saat giliranku, sebuah bukket bunga yang dipegang oleh seorang wanita dan berada tak jauh dariku tiba-tiba meledak dan menghancurkan tubuhku bersama tubuh pejabat itu.

Aku langsung terbangun dengan kucuran keringat yang membanjiri tubuhku. Untuk menenangkan diri, aku berjalan kedapur untuk mengambil sebotol air dingin. Aku meminumnya sambil berjalan kearah ruang tv dan menghidupkannya, aku memilih siaran berita dan melihat siang ini akan ada acara seminar.

Aku lalu bergegas untuk mandi dan mengenakan pakaian yang rapi, karena seminar itu akan dimulai 3 jam lagi. Aku tak ingin terlambat oleh kemacetan. Dengan mobil SUVku, aku melaju membelah kota dan sampai 30 mejit sebelum acara seminar itu dimulai. Firasatku mulai tak enak, aku sadar mungkin hal yang ada didalam mimpiku bisa terjadi.

Jadi aku memilih tempat duduk yang berbeda, di mimpi aku duduk dibagian kiri depan. Kini aku mengambil tempat duduk paling belakang disebelah kiri, seminar itu berjalan dengan sangat lancar hingga tak terasa semua telah mencapai pengujung acara. Kami mendapatkan kesempatan yang sama seperti apa yang ada didalam mimpiku yaitu berjabat tangan dengan pejabat itu.

Aku memilih tempat yang cukup jauh dari wanita yang memegang bukket bunga itu. Aku mengambil jarak yang lumayan, dan saat pejabat itu berjabat tangan dengan pria yang ada disebelah wanita itu.
Ledakan terjadi, semua orang disana shock sesaat. Semuanya hanya diam, berbeda denganku yang memang mengetahui hal ini. Dengan cepat para polisi mengamankan tempat itu dan mengevakuasi kami dari tempat seminar itu.

Dengan cepat aku menyingkir dari kerumunan itu, aku melepas topeng wajah yang aku kenakan dan membuang jam tanganku kesebuah tempat sampah.

Tanganku dilapisi kaos tangan tipis untuk menutup sidik jariku dari jam tangan yang sudah kusetting sebagai detonator. Mimpi itu ternyata membantuku untuk rencana pengeboman kecil itu hahaha.

Maafkan aku nyonya, aku terpaksa mengorbankanmu.
Karena kaulah kunci kesuksesan dari semua rencana ini.

Monday, August 15, 2016

Kampung Penjaga

Author: Sad Anonim


Aku tinggal didaerah kalimantan, hutan disini masih terjaga walaupun sudah mulai banyak perusahaan yang mulai membabat hutan tapi itu hanya beberapa persen luas hutan dikalimantan dan tak akan mempengaruhi ekosistem. Aku juga tak tau mengapa perusahaan-perusahaan yang mencoba menambang hasil bumi disini seperti terhalang sesuatu. Seperti ada sebuah kekuatan yang melindungi seluruh hutan ini dari pembabatan liar.
Baiklah aku akan menceritakan sedikit tentang pengalaman yang pernah aku alami saat aku berkerja disebuah perusahaan dan bertugas untuk menemukan lokasi yang cocok untuk pembangunan perusahaan.

***


Aku lupa kejadian ini terjadi pada tahun berapa, yang pasti itu terjadi dihari kamis. Hujan terus mengguyur dedaunan dari pohon-pohon yang tersusun indah. Aku bahkan tak sampai hati untuk merusak keindahan alam yang diciptakan sang maha kuasa ini. Namun, tuntutan pekerjaan ini mengharuskanku melakukannya. Aku berserta 3 temanku menerobos hutan dimana kami akan melakukan pengujian dan pemetaan dasar.

Kami berangkat dari kampung terdekat dengan bekal seadanya. Tetua disini menyarankan kami untuk tidak mencoba merusak hutan disini, atau tidak kami akan menemui hal-hal yang sangat menakutkan. Aku yang memang sedikit percaya akan hal gaib hanya mengiyakan, namun tidak dengan ketiga temanku yang berasal dari luar pulau kalimantan. 

Mereka hanya tertawa dan mengejek tetua bahwa ia hanya ingin membuat mereka pergi ketakutan.
Sekitar 5 kilometer berjalan, akhirnya kami sampai dilokasi yang kami tuju. Disana kami mendirikan tenda dan mulai melakukan pekerjaan kami masing-masing. Entahlah, tiba-tiba firasatku tidak enak. Apalagi kini hari sudah mulai gelap. Aku menyalakan api unggun untuk menghalangi hewan buas dihutan ini tak mencoba mengincar kami.

Kami saling bercerita disekitar api unggun sambil menunggu mie yang kami rebus matang. Tak terasa 3 menit sudah berlalu, aku langsung saja menumpahkan mie yang kucampur dengan dua buah telor kesebuah mangkuk plastik. Aku mencampurkan semua bumbu dan mulai menyantapnya. Saat sedang asyiknya kami menyantap mie dan bercerita.

Sesuatu membuat suara yang cukup nyaring dan membuat kami semua waspada. Rino dengan cepat menyambar senapannya yang berada disamping tubuhnya. Dengan lampu senter kami mencoba memeriksa hal apa itu. Kami melihat sepasang laki-laki dan perempuan, mereka berdiri berdampingan dengan pandangan kosong. Aku yang penasaran mencoba bertanya pada mereka.

"Kalian sedang apa?" tanyaku.

Namun, mereka tak menjawab. Akupun mengulangi pertanyaanku, tapi tetap saja. Mereka hanya diam membisu. Rino dan Agungpun mencoba mendekat kearah mereka, dan hal yang membuat mata kami terbelalak terjadi. Mereka memegang kepala mereka dan menariknya keatas. Kepala itu putus bersama beberapa organ dalam mereka.

Kami semua hanya bisa berdiri mematung. Kaki kami semua gemetar, tak ada yang bisa kami lakukan dan kami pikirkan. Sebab yang ada diotak kami hanya rasa takut yang bahkan tak pernah kami rasakan seumur hidup. Tiba-tiba suara tawa terdengar diseluruh penjuru hutan, daun-daun bergoyang dengan kencangnya padahal saat itu tak ada angin kencang yang berhembus.

Disampingku, sebuah wanita melayang. Aku bisa menggerakkan tanganku dan menyorotkan lampu dari senter yang kupegang kearahnya. Ia mengenakn gaun berwarna merah, dan saat ia menatap kearahku. Gigi-giginya yang panjang dan seperti gergaji itu membuatku bergidik ngeri. Kami mencoba untuk lari dari situ, namun tak ada yang sanggup untuk menggerakkan tubuh mereka.

Sekitar 10 menit kami melihat semua hal-hal gaib yang mengerikan berkeliaran disekitar kami. Namun, saat seseorang menepuk pundakku. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku dan aku berteriak sekuat-kuatnya. Tangan itu langsung membekap mulutku dan seseorang berbisik padaku.

"Jangan berisik!"

Aku menoleh dan melihat tetua dari desa yang kami singgahi tadi bersama empat orang yang tak kukenal. 

Aku meminta tolong pada tetua untuk menyadarkan ketiga teman-temanku. Ia menepuk pundak Niko dan langsung membekap mulutnya, sama halnya dengan Agung dan Rino. Ia langsung mengajak kami untuk pergi dari tempat itu. Sesampainya di desa kami langsung disuruh duduk didekat api unggun. Dan tetua melakukan ritual pada kami, entah ritual apa itu tapi cukup membantu kami menghilangkan rasa takut dan shock kami.
Kami disuruh tetua untuk beristirahat disalah satu rumah penduduk sambil menunggu esok pagi.

***


Besoknya kami pulang kekota dan memberitahukan pada atasan kami apa yang sudah kami alami, tentu ia hanya tertawa dan mengatakan pada kami bahwa kami tak bisa diandalkan. Jabatan kami diturunkan dan dia sendiri berangkat bersama 5 orang yang ia percaya dan ia pilih untuk menemaninya.

Kami hanya bisa melihatnya pergi saat semua apa yang kami ucapkan tak ia gubris. Tugas pemetaan itu sebenarnya hanya berlangsung 2 hari. Tapi, sudah 2 minggu mereka tak kembali dan tak ada kabar. Hal itu disampaikan pada direktur utama dan ia meminta kami untuk mencari mereka dengan bantuan polisi dan penduduk setempat. Hari itu kami berangkat, tim kami berjumlah 10 orang dan kami dengan bantuan tetua desa yang menyelamatkan kami dulu masuk menelusuri hutan.

Tak butuh waktu lama, saat sore menjelang kami menemukan mereka semua terkapar dengan kondisi perut yang terbelah dan beberapa organ dalam mereka tak utuh lagi. Dan hari itu juga kami mengangkut jenazah mereka kedesa dan rencananya besok kami akan membawanya kekota untuk dimakamkan karena kondisi yang tak memungkinkan saat malam hari.

Disana sang tetua menceritakan bahwa hutan ini dijaga oleh sebuah kampung gaib. Sudah banyak yang mencoba untuk merusak hutan ini dengan berbagai macam proyek, dan hasilnya beberapa orang ditemukan tewas dan ada juga yang menghilang. Dan aku bersyukur saat itu aku bersama tiga temanku bisa kembali dengan selamat dan tak kurang suatu apapu.

Tamat

Saturday, August 13, 2016

Hujan Ditengah Malam

Author: Sad Anonim









"Akhhiirrrnnyyaaaaa."

Itulah hal yang pertama kali keluar dari mulutku saat semua perkerjaanku selesai. Aku melirik kearah jam tanganku yang menunjukkan pukul 12 malam, dengan bergegas aku merapikan semua peralatan kantorku. Sepertinya malam ini aku menjadi orang terakhir yang pulang dari kantorku.

Aku berjalan kelorong dan masuk kedalam sebuah lift. Tak berselang lama, aku sudah sampai dilantai bawah. Aku menyapa petugas keamanan yang sedang berjaga sambil menonton tv. Setelah itu aku berjalan melewati halaman kantor yang cukup luas ini dan menyusuri trotoar.
Aku memang berjalan kaki, karena jarak rumahku hanya beberapa blok dari kantorku. Dan tanpa diduga-duga, hujan turun dengan derasnya. Aku dengan cepat berlari kesebuah toko yang sudah tutup.
Aku berteduh diterasnya yang tak terkena hujan.

"Sialan, padahal aku ingin segera berbaring dikasurku,"umpatku dalam hati.

Aku duduk sambil menunggu hujan reda. Dan semoga saja hujan ini tak berlangsung lama, aku bukannya takut untuk menerjang hujan ini. Tapi aku takut laptopku rusak jika aku nekad untuk menerobos hujan. Sambil menunggu, aku memutar lagu di handphoneku sambil memakan snack yang selalu aku sediakan di dalam tasku. Saking asyiknya aku tak menyadari ada seseorang yang lewat diseberang jalan. Aku sadar saat suara klakson mobil yang lewat berhasil menembus alunan lagu yang keluar dari earphoneku.

Aku lalu memandangnya, sepertinya dia seorang wanita. Entah kenapa, tiba-tiba firasatku menyuruhku untuk cepat pergi dari tempatku sekarang. Aku menekan kuat perasaan takutku ini, dan aku kembali memperhatikan gadis itu saat sebuah mobil kembali melintas. Wajah gadis itu tak bisa kulihat dengan jelas karena ia sedang memegang payung, namun yang pasti sepertinya dia sedang tersenyum. Entah kenapa ia hanya berdiri disana menghadapku.

Dibawah rintikkan hujan yang lebat ini, aku yang masih memikirkan resiko rusaknya handphone dan laptopkupun akhirnya memilih untuk tetap berada ditempat ini. Entah kenapa tatapan mataku tak bisa lepas dari sosok itu, semakin lama. Aku merasakan ketakutan yang semakin menjadi, dalam otakku aku mencoba untuk mengingat hal yanh indah untuk mengusir rasa takutku dan tiba-tiba saja aku menyadari akan sesuatu.

"Wanita itu berdiri ditengah hujan lebat, ditengah malam?" ucapku dalam hati.

Aku langsung berdiri, melihat kearah bak sampah dan mengambil sebuah kantong plastik yang lumayan besar. Aku memasukkan tas laptopku berserta handphoneku kedalam kantong plastik itu dan buru-buru aku menerjang hujan yang masih saja turun dengan derasnya.

Aku tak lagi menghiraukan wanita yang berdiri diseberang jalan. Dengan sedikit berlari aku meninggalkan tempat itu, aku berbelok dipersimpangan jalan dan berbalik sebentar untuk melihat wanita tadi. Betapa terkejutnya aku, wanita itu dari tadi bukannya berada diseberang jalan. Namun berada ditengah jalan, wanita itu tetap berdiri memandang lurus kearah toko tempatku berteduh tadi, dan saat sebuah mobil melintas dan menabrak tubuhnya gadis itu menghilang. Setelah melihat itu aku berbalik dan....

Wanita itu tepat didepanku, tak ada wajah disana. Hanya ada sebuah bibir yang tersenyum dan dagu yang dagingnya terkoyak. Aku sangat ketakutan hingga semuanya menjadi gelap. ***

Aku terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhku. Aku mendapati diriku yang tertidur diruangan kerjaku. Aku menatap kejendela dan hujan turun dengan derasnya, lalu aku melirik kearah jam tangaku.

"Pukul 12!" ucapku.

Lalu aku turun dan mencoba menghampiri petugas keamanan yang sedang berjaga. Aku menepuk bahunya dan ia berbalik. Aku mundur beberapa langkah dan terjatuh. Seharusnya aku tau, bahwa aku tak harus turun dari ruanganku. Dan saat itu juga, wajah yang tersisa setengah dari penjaga itu menampakkan senyumnya.
Sebuah senyum yang sama persis dengan wanita itu. Dan seharusnya aku ingat, jika aku bertemu dengannya dan terbangun disuatu tempat dengan kondisi hujan. Aku harus tetap diam. Karena itulah jalan keluarku. Salahku melupakan cerita kakek buyutku, Hujan yang turun ditengah malam, dan seorang wanita didalamnya.

Tamat.

Who Is Psychopath?

Author: Sad Anonim



Kalian tau apa yang dimaksud psikopat? tidak, mereka tak sama dengan apa yang google dan dokter sering bicarakan. Kami tak membunuh karena kesenangan, tapi karena rasa takut kami yang mendorong hal itu kami lakukan. 

Kalian tau? bersyukurlah kalian yang tak tuhan pilih sebagai yang terpilih. 

Karena kalian bisa hidup normal, bercanda, merasakan kesenangan bersama orang lain. Tidak dengan kami, setiap saat bisikan itu selalu datang. 

Bisikkan dimana kami ditugaskan untuk membunuh. Membunuh orang yang sudah digariskan untuk mati. Kau tau? kami sama saja seperti grim reaper. Bedanya hanya kami terlihat dan dia tidak. Dan aku pastikan kalian tak akan ingin hidup seperti kami.

Selalu berpura-pura dan berlindung dibalik topeng. Selalu mencoba berlari dari tugas yang tuhan berikan untuk kami. Selalu bersembunyi dibalik bayangan iblis yang selalu mencambuk kami, jika kami tak bisa menyelesaikan atau tak mau melakukan tugas itu. Hal terberat yang kami alami, dan hampir semuanya adalah membunuh keluarga dan anak kecil. 

Kalian pasti berfikir kami tak memiliki belas kasihan. Tapi, kenyataannya beda. Kami selalu menitikkan air mata dalam seringai iblis kami.

Dan satu hal lagi yang harus kalian tau. Seluruh psikopat sejati atau murni, tak pernah tertangkap dalam melaksanakan tugasnya. Dan kami sangat membenci orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai kami. 

Dalam diam dan gelapnya malam, kami selalu berusaha untuk melacak mereka. Dan jika mereka lengah.

Hahahahaha..... 

Kami akan masuk dan tentu akan menyiksa kalian dan menghilangkan semua barang bukti. Jadi jangan lupa kunci pintu ya!!

Angin

Author: Sad Anonim
Level: Easy



Malam ini angin berhembus cukup kencang, untungnya aku membawa mantel yang cukup tebal. Jadi, aku tak akan merasa kedinginan dan paling parah, masuk angin.

Aku baru saja pulang dari kantor. Dan berjalan disebuah gang sepi. Gang ini adalah rute paling cepat menuju rumahku. Walaupun aku sudah bermantel tebal, tapi tetap saja rasanya aku tak tahan dengan dinginnya angin yang berhembus kencang ini. 

 Dan saat sampai dipersimpangan. Aku dikejutkan oleh tubuh seorang gadis yang bersimbah darah. Entah dari mana asalnya, tapi sepertinya gadis itu seperti baru saja dilempar oleh sesuatu. 

 Aku agak terkejut dan melihat kearah gadis itu, disana aku melihat ada seseorang yang melihat gadis itu. Aku mencoba berlari, namun aku tak bisa berlari dengan kencang. Karena angin yang berhembus cukup kencang ini. 

Dan aku mencoba berbalik untuk melihat orang tadi. Ia melihatku yang coba berlari, namun tertahan oleh angin. Aku lalu memutuskan untuk bersembunyi disebuah bak sampah dekat situ. Sambil mengintip, apakah orang tadi sudah pergi menjauh. Tak lama aku menunggu, orang itu sudah pergi. 

Dan aku berusaha menghampiri gadis itu dan membawanya menjauh dari tempat itu. "Huhftt untung saja aku bisa menjauh" ucapku sambil membuang mantel tebalku, karena sangat berat saat tertimpa angin.

Penyelamatan

Author: Sad Anonim. 



Sudah dua hari aku dan kekasihku Nara, berada diatas atap rumah berlantai dua ini. Kami terpaksa berada disini, karena Tsunami yang memporak-porandakan kota kecil kami yang berada dipesisir laut. Sebuah Tsunami yang memiliki kedalaman 4 sampai 5 meter mungkin. Semua ini terjadi pada pagi hari, saat semua orang baru saja bangun dari lelap tidurnya.

Dan dengan tiba-tiba suara sirine bencana Tsunami berbunyi, semua orang berhamburan keluar dari rumah mereka. Menaiki mobil mereka dan melaju tak terkendali, banyak sekali orang yang mengalami kecelakaan pada waktu itu. Aku yang tak mampu berpikir banyak langsung menarik tangan kekasihku untuk naik keatap rumah kami. Tak lupa aku juga membawa makanan yang ada dikulkas. Dan untungnya persedian kami lumayan banyak. Beberapa detik setelah kami sampai diatas atap, gelombang air yang sangat deras itu menghantam beberapa rumah dan mobil yang ada dijalanan.

Beberapa orang ada yang terjebak dalam arus air itu dan beberapa ada yang memanjat tiang listrik, namun saat air itu semakin meninggi. Beberapa orang yang memanjat tiang listrik itu terkena arus dan menghilang dari permukaan. Kekasihku menangis ketakutan, aku memeluknya dan bersyukur pada tuhan. Karena rumah ini tak roboh diterjang tsunami.
Kondisi diperparah dengan hujan yang datang melanda, hujan yang sangat lebat itu membuat volume air semakin meninggi. Untungnya atap rumahku ini terdapat sebuah teras tempat biasa aku menjemur pakaianku. Hal itu sedikit membantuku dan kekasihku agar tak basah kuyup dan kedinginan. Malam itu kami tertidur sambil berpelukkan untuk menghilangkan hawa dingin yang diciptakan oleh hujan lebat itu. 
*** 

Paginya, aku terbangun karena suara minta tolong. Aku duduk dan berjalan melihat kesekelilingku. Disana, sekitar 100 meter dari tempatku beridir. Disebuah sofa yang mengapung ada seseorang yang berpegangan erat pada sofa itu. Posisi sofa itu seperti tertahan oleh sesuatu dan membuat orang itu tak terbawa arus. 

"Hey, kau tak apa?" tanyaku. 
"Ya, bisa kah kau membantuku untuk naik?" teriaknya.
 "Tunggu!" ucapku. 


Lalu aku melihat kesekeliling dan mendapati sebuah tali yang terlilit disebuah besi. Tali yang biasa aku gunakan untuk membuat jemuran tambahan jika pakaian yang ingin ku jemur berlebihan. Aku melemparkan tali itu dan untungnya tepat dan sampai tetap disamping tangannya. Ia meraih tali itu dan berpegangan erat. Aku dan kekasihku Nara menariknya, arus masih saja deras dan untungnya posisi kami menarik tak berlawanan arus tapi searah. Dengan sekuat tenaga aku dan Nara menarik wanita itu, namun tiba-tiba ia disambar oleh seekor hiu yang entah datang dari mana.

Nara yang melihat tubuh wanita yang ingin kami tolong itu terpenggal dan tercabik-cabik, sangat shock. Ia terduduk dan muntah, aku mengelus punggungnya membuatnya agar merasa nyaman. 

Siang itu aku hanya berusaha untuk menenangkan Nara, arus air terlihat sudah mulai melambat. Ketinggian airpun sedikit demi sedikit menurun. Namun, tetap saja sangat bahaya untuk menyebrang kegedung sebelah untuk mencari bantuan. Setelah berpikir keras, aku mengambil tali dan membuat tulisan SOS. Semoga saja ada pasukan penyelamat yang melihat kami disini. 

Aku dan Nara terus menunggu hingga hari ini, tepatnya malam ini. Kami mendengar suara deru mesin diudara. Dan berjarak sekitar setengah meter dari kami, aku melihat sorotan lampu yang semakin mendekat pada kami. Aku dan Nara mengambil pakaian kami yang berwarna putih, kami mengibar-ngibarkan baju kami sebagai tanda. Aku dan Nara tersenyum bahagia saat lampu itu semakin dekat dengan kami dan meyorot pada kami. Namun, senyum kami berubah. Saat melihat benda apa itu, suara mesin yang kami dengan bukanlah suara mesin helikopter penyelamat. 

Tapi itu adalah sebuah mesin dari sebuah benda yang berbentuk seperti piringan segi empat. Sorotan lampu yang awalnya putih berubah menjadi biru, dan rasanya kami terhisap oleh cahaya itu.

Suara Misterius

Short Story 



Saat ibumu memanggilmu dari arah dapur, dan saat kau menuruni tangga. Dari arah kamar ibumu kau mendengar suara ibumu yang mengatakan "Jangan kesana nak, ibu juga mendengarnya."

Lalu kau kembali lagi kekamarmu. Berbaring dikasur sambil menutup seluruh tubuhmy dengan selimut. Dan saat kau hendak memejamkan matamu, kau teringat sesuatu.

IBUMU TELAH MENINGGAL BEBERAPA TAHUN YANG LALU.

**** 

Saat kau berjalan sendiri ditempat yang sepi dan cukup membuatmu takut. Kau mencoba mengusir perasaan itu dengan memakai earphone dan saat itu lagu yang kau dengarkan adalah lagu lingsir wengi. 

Kau tambah ketakutan. 

Apalagi kau sadar. 

SAAT ITU KAU BELUM MEMILIH LAGU SAMA SEKALI DARI HANDPHONEMU.

Penjaga Makam

Author: Sad Anonim.



Hari itu Anto kembali berkeliling disebuah komplek pemakaman. Ia memang ditugaskan oleh RT setempat untuk mengawasi pemakaman itu. Sebab beberapa bulan yang lalu, terjadi sebuah insiden pengculikkan mayat. 

Entah kenapa, malam ini ia merasakan hawa yang lain. Lebih dingin dari biasanya. Ia terus saja menyusuri luasnya tanah berukuran 1 hektar ini. Walaupun disekelilinya banyak berdiri rumah warga. Namun, tetap saja tempat itu terlihat angker dijam 12 malam lebih. 

Tak lama, ia sampai didekat pohon beringin yang berdiri kokoh didalam komplek perkuburan itu. Ia mendengar suara tawa seorang wanita. Dan tentu ia gemetar dibuatnya. Dalam benak Anto, itu pasti suara kuntilanak. Jadi, ia langsung berlari kearah sebuah pohon mangga yang tak begitu besar, namun cukup untuk menyembunyikan dirinya. 

Ia mengintip dari balik pohon mangga itu untuk melihat apakah benar ada kuntilanak. Ia melihat pohon beringin itu, dari ujung akar hingga keranting pohon. 

Dan disana, ia melihat sosok yang dari tadi ia takutkan. Sosok seorang wanita sedang bergenlantungan diantara ranting-ranting pohon beringin itu. Kakinya gemetar, bahkan ia sampai terkencing dicelana. Ini untuk pertama kalinya ia melihat sosok yang sering dibicarakan oleh warga sekitar.

Ia tak akan menyangka bahwa hal ini akan lebih mengerikan daripada hantu difilm-film yang pernah ia tonton. Ia memutuskan untuk pulang saat itu juga. Setelah nyawanya terkumpul, ia langsung berbalik. 

Namun, satu hal membuatnya sangat terkejut dan hampir saja jantungan. Dibelakangnya berdiri sosok putih mirip guling dengan rongga dibagian kepalanya. 

Ya dialah sang pocong. Anto membeku disana, ia sampai bersumpah untuk pingsan saja daripada harus menatap makhluk yang ada didepannya. Beberapa menit Anto masih terdiam disana, menatap sosok pocong yang tak memiliki wajah itu. 

Dan entah kekuatan darimana, Ia bisa menggerakkan kakinya dan langsung berlari sekencang-kencangnya dari komplek perkuburan itu. 

Besoknya ia baru tersadar. Bahwa pohon mangga tempat ia bersembunyi, sering dibicarakan oleh warga sebagai tempat hunian pocong. 

Dan hari itu juga, Anto berhenti dari perkerjaan itu.

Fire Murder

Author: Sad Anonim
Level: Medium.

Pagi ini, ditemukan mayat seorang pria hangus terbakar. Wajah dan bagian tubuhnya mengalami luka bakar hingga 96%, korban diduga dibunuh dengan cara menyiramkan bensin dan membakar korban. 

Namun, tak ada tanda-tanda bensin ataupun bahan bakar lain disekitar tempat korban ditemukan. Polisi yang kebingungan mengutus detektif Frank untuk mengusut kasus ini. 

Ia memeriksa seluruh TKP, dan hanya menemukan sebuah kertas yang sebagian telah hangus terbakar oleh api dan sebuah lingkaran dipeta. 

Kertas itu berisi tentang "Sammael yang memanggilku dan membawaku." Dan kordinat dari lokasi dipeta yang ia tandai adalah Bujur timur 16-5 derajat, 7-14 derajat arah barat daya, 151,8 derajat barat laut, 141 derajat timur laut, 14-21 derajat utara. 
Dan semua itu beraturan tak terkenali. Detektif meminta beberapa orang yang sempat bertemu korban. 

Alex, teman korban 21 tahun: Aku sempat bertemu dengannya sore hari, saat itu ia sedang membeli garam dan beberapa lilin. Entah untuk apa. Nina, tetangga korban 19 tahun: Aku hanya sempat mendengar korban berteriak-teriak sekitar pukul 7 malam, lalu dia diam begitu saja. 

Tak ada tercium bau hangus seperti seseorang yang membakar sesuatu pada saat itu. Stuart, saingan korban. 22 Tahun: Aku sempat kerumahnya pukul setengah tujuh malam. 

Namun, ia tak menggubrisku saat aku mengetuk pintu rumahnya. Jadi aku langsung pulang setelah itu, karena aku mengira ia tak ada dirumah. 

Temukan apa penyebab kematian dan siapa pelaku, setiap alibi bisa saja palsu. 

Namun, sang detektif bisa dengan mudah mengetahui apa yang terjadi.

A Perfect Plan

Author: Sad Anonim

Aku duduk termenung dibalkon rumahku sambil menikmati latte dan melihat rintikkan hujan yang semakin deras. Aku hanya melamun melihat derasnya hujan yang mengantarkanku kepada ingatan pahit beberapa hari yang lalu.

Ingatan saat aku memergoki kekasihku yang sudah 2 tahun ini menemani hari-hariku. Aku memergokinya sedang bermesraan dengan pria yang sangat aku kenal, dia temanku semenjak sekolah dasar.
 Hatiku sakit, aku hanya bisa terdiam menatap apa yang mereka perbuat dibelakangku. Pikiranku kosong, saat itu aku merasa nyawaku ada ditempat lain. Dan saat aku sadar, aku melangkah pergi.

Aku menutup pintu dengan keras, tak sedikitpun dia wanita yang kucintai itu berusaha untuk mengejarku. Aku masuk kedalam mobilku, tapi sebelumnya aku sempat berjalan kesamping rumah Anne. Aku memutar keran ditangki.

Tangki yang telah kuisi dengan bensi beberapa hari yang lalu, aliran bensin itu masuk dan meluncur dengan deras disaluran tanah yang sudah aku buat beberapa hari yang lalu juga. Dengan cepat aku berlari untuk mengunci semua pintu karena aku memiliki kunci cadangan dari rumah Anne ini. Ya karena aku tinggal bersamanya 1 tahun yang lalu.

Aku melihat disekeliling rumah Anne sudah basah oleh bensin yang terus mengalir itu. Aku lupa berapa liter aku mengisinya, tapi itu cukup untuk menghanguskan tempat ini. Meskipun pemadam datang untuk memadamkan api.

Mereka tak sadar dengan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan menimpa mereka. Lalu sambil menghidupkan sebatang rokok, aku melemparkan pemantik api yang masih menyala itu ketempat genangan bensin yang sudah aku siapkan.

Rumah itu langsung terbakar dengan sangat cepat, mungkin tak sampai 1 menit. Aku mendengar suara teriakan mereka meminta tolong. Aku hanya tersenyum dan masuk kedalam mobilku dan pergi meninggalkan tempat itu. Untung saat itu sudah tengah malam. Lalu aku tersadar dari lamunanku itu, aku lalu berjalan masuk kedalam rumahku dan menuju kamar yang ada diruangan basement.

Aku membuka pintu kamar yang terkunci rapat itu. Dan disana, terdapat dua sosok mayat yang telah hangus sedang berbaring diatas sebuah kasur putih. Ya ini rencanaku, semuanya. Ini rencana yang sangat bagus menurutku dan paling briliant.
Untung saja aku atasan dari pemadam kebakaran didaerah ini, jadi aku bisa leluasa menyembunyikan mayat mereka dengan bantuan bawahanku.

Rencana yang sangat matang bukan?

Just It

Author: Sad Anonim

Seorang anak perempuan bernama Alicia selalu bermimpi disetiap malamnya. Seluruh mimpinya adalah mimpi buruk yang sangat mengerikan untuk anak berumur 10 tahun seperti dia.

Setiap malam ia selalu memimpikan hal-hal aneh yang menimpa dirinya. Entah itu kecelakaan, pembunuhan, atau pemerkosaan. Seperti halnya mimpi yang ia alami satu minggu berturut-turut.

Malam pertama. Dia memimpikan bahwa dirinya sedang disekap dan diikat dengan kencang oleh sebuah rantai. Ia dipukul terus menerus hingga wajahnya tak berbentuk. Namun hal ini tak begitu ia takutkan. Karena ia sering mengalaminya.

Malam kedua. Mimpi itu sama hanya kini ia diikat dengan posisi berdiri dan seluruh pakaiannya dilepas. Kini ia tak dicambuk melainkan dipukul dengan balok kayu.

Malam ketiga. Ia kini diikat tangan dan kakinya disebuah tiang. Ia seperti digantung dan tubuhnya ditempeli dengan benda panas yang baru diangkat dari perapian.

Malam keempat. Ia kini dibaringkan disebuah pembaringan yang terbuat dari batu. Hanya itu, ia tak disiksa seperti malam sebelumnya.

Malam kelima. Ia masih berbaring dipembaringan itu, namun kini ia merasakan sesuatu yang mencengkram erat pergelangan kaki dan tangannya.

Hari keenam. Ia merasa sedang ditindih oleh seorang pria bertubuh besar tanpa busana.

Hari ketujuh. Ia kini seperti berada diruang operasi. Ia merasa perutnya terbelah dan ada beberapa orang yang memegang organ-organ dalam tubuhnya. Untuk kali ini ia merasa sangat ketakutan. Karena saat semua itu semakin mengerikan. Ia mencoba untuk bangun seperti malam-malam sebelumnya. Namun ia tak bisa melakukannya dan rasa sakit itu semakin terasa hingga membuat Alicia hanya bisa melihat warna gelap.

***

"Maafkan kami pak bu, anak kalian sehat namun sepertinya jiwa anak tuan dan nyonya tak ada didalam raganya," ucap seseorang berpenampilan seperti suster.

Tamat.

Penyusup Natal

Author: Sad Anonim



Jill, gadis berumur 12 tahun dengan rambut pirang sedang asyik menghias pohon natal dengan beberapa pernak-pernik. Tiba-tiba suara telpon berdering, ia melangkah kemeja dan mengangkat telpon. 
Telpom itu ternyata dari ibunya yang adalah seorang perawat dirumah sakit setempat. Ibunya bilang bahwa ia tak bisa pulang cepat, dan mungkin akan kembali saat tengah malam. Jill yang memang anak baik dan pemberani hanya mengiyakan. 
Jill menutup telponnya dan kembali menghiasi pohon natal. Tak berselang lama, pohon natal itu kini terlihat cantik. Anak umur 12 tahun itu lalu duduk disofa sambil menonton acara tv yang sedang berlangsung. Apartemen yang dihuni oleh 20 keluarga ini hampir kosong, hampir seluruh penghuni apartemen ini pulang untuk merayakan natal dengan keluarga besar mereka yang entah ada dimana. 
Dan saat waktu menunjukkan pukul 10 malam, Jill merasa bosan menunggu ibunya yanh tak kunjung pulang. Samar-samar Jill mendengar suara ketukan dipintu. Ia berjalan dengan perlahan dan mengintip dari lubang kunci. Disana ia melihat seorang pria berjenggot dengan pakaian merah yang terlihat kotor. Tubuhnya besar dan terlihat menjijikkan. 
Jill hanya diam, ia ingin mengetahui apa maksud dari orang ini. Ketukan dipintu semakin keras, bahkan seakan-akan itu bukanlah ketukan. Tapi sebuah paksaan untuk mendorong pintu itu agar terbuka. Jill tetap diam ditempatnya berdiri sambil mengintip dari lubang kunci. 
"Jill bukalah pintunya, aku tau kau ada disana anak manis," ucap pria itu. 
Jill ketakutan, namun ia tetap mencoba mengintip dari lubang kunci itu. Suara ketukan dipintu kini berhenti, orang itupun tak lagi berada didepan pintu. Jill sedikit bernafas lega, ia tentu saja ketakutan. Apa yang bisa anak umur 12 tahun lakukan jika harus melawan pria bertubuh besar seperti orang gila yang mencoba untuk masuk tadi. Namun, suara yang cukup keras terdengar. Jill mencoba mengintip lagi lewat lubang pintu, betapa terkejutnya ia saat melihat pria itu mengayunkan kapak dan mencoba untuk merusak pintu. 
Jill lalu berlari naik kelantai dua untuk bersembunyi didalam kamar. Ia mengunci pintu kamar dan masuk kedalam lemari pakaian. Disitu Jill bisa mendengar suara pintu yang berhasil dirusak oleh penyusup itu. Jill menangis, tubuhnya gemetar ketakutan. Apalagi saat suara langkah kaki yang dengan cepat menaiki anak tangga. Suara benturan antara mata kapak dan kayupun terdengar lagi. Hal itu membuat Jill semakin ketakutan. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dan suara langkah kaki itu berhenti tepat didepan lemari tempat Jill bersembunyi. 
"Jill, aku tau kau disana. Keluarlah!!"ucap pria itu. 
Dengan paksa pria itu merusak pintu lemari, ia berhasil merusak pintu itu dan membukanya. Dan disana ia melihat Jill yang meringkuk ketakutan. Pria itu menarik rambut Jill, membawanya keluar dan melemparkan tubuh gadis berumur 12 tahun itu kekasur. 
"Baiklah Jill, kita akan bersenang-senang dimalam natal ini. Ini aku santa claus yang akan memberikan hadiah bagi anak baik sepertimu," ucap pria itu.
*** 
Merry pulang, ia terkejut saat melihat pintu depan kamar apartemennya rusak. Ia masuk kedalam rumah denga terburu-buru. Matanya hanya mencoba untuk mencari putri kecilnya, ia tak memikirkan hal lain lagi. Bahkan bingkisan yang ia pegangpun ia jatuh dilantai begitu saja. Ia tambah terkejut saat melihat isi rumah yang berantakkan. 
Dan saat ia melihat ruang tengah, hatinya menjadi lega. Ia melihat anaknya duduk manis sambil melihat kearah pohon natal. Tapi tunggu!! pohon natal itu dihiasi isi perut manusia. Merry berjalan pelan menghampiri anaknya. Ia menyentuh pelan bahu anaknya. Jill memutar kepalanya, ia tersenyum dengan bibir penuh darah dan mulut yang sedang mengunyah sesuatu. Merry melihat seonggok kepala yang bagian tempurungnya sudah berlubang dan dari lubang itu keluar bagian otak yang tersisa setengah.
"Sayang ada apa?" tanya Merry sambil mengelus kepala anaknya. 
"Pria ini tadi menyusup keapartemen kita dan mencoba untuk membunuhku bu. Tapi karena aku lapar jadinya aku memakannya, maafkan aku bu," ucap Jill menunduk. 
"Tak apa, jadi ibu bisa menyimpan hati dan jantung yang ibu bawa untuk sarapan kita besok," ucap Merry sambil tersenyum.