Wednesday, September 14, 2016

The Photo Model

Author: Sad Anonim. 


Aku memiliki seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang model. Dia kerap kali diminta untuk berfoto dengan aksesoris seperti kelinci, tak heran. Suaminya adalah seorang fotografer yang terkenal dikotaku. Ya tak salah banyak orang yang menyebut mereka pasangan yang serasi. Namun, hal yang membuatku terganggu mulai terjadi. 

Tepatnya setelah dua tahun mereka menikah dan menjadi tetanggaku. Keributan mulai sering terdengar diantara mereka, entah apa yang mereka ributkan. Aku tak terlalu peduli, namun malam itu. Suara mereka mengganggu tidurku yang sedang nyenyaknya. Aku mendengar mereka meributkan pose foto. 

Hanya POSE!! sialan sekali mereka. Besoknya aku melihat sang suami pergi menggunakan mobil jeep miliknya, tiba-tiba terlintas dibenakku untuk menghampiri Claren istri dari Anton. Aku berniat ingin menanyakan perihal keributan mereka tadi malam yang sangat menggangguku. 

Ting-tong!! "Ya, tunggu sebentar." 

 "Oh hay Alex, ada apa?" tanya Claren. 

"Boleh aku masuk?" tanyaku. 

 "Tentu, silahkan," ucapnya. Aku langsung masuk dan duduk disofa ruang tamunya. 

 "Claren, apa aku boleh tau apa masalah kalian berdua? sungguh malam tadi aku tak bisa tidur karena kalian," tanyaku. 

Wajah Claren langsung berubah menjadi sedih, ia menceritakan semuanya. Masalah mereka adalah masalah yang sangat rumit, karena ia tak mau berpose fulgar. Astaga! aku bingung dengan Anton, sebegitu teganya ia memamerkan tubuh istrinya sendiri. Aku lalu menghampirinya dan memegang tangannya. 

"Itu hakmu, walaupun dia suamimu. Kau tetap memiliki hak atas ini," ucapku.

"Terima kasih Alex," ucap Claren sambil terisak dan memelukku. 

Tiba-tiba pintu terbuka, Anton tanpa babibu langsung memukul kepalaku yang langsung membuatku pingsan. 
*** 

Aku terbangun dengan kondisi terikat disebuah kursi. Mataku mencoba untuk terbiasa dengan kondisi ruangan yang cukup terang ini, aku melihat kesebelah kiri. Dan mendapati Claren yang berada dalam posisi yang sama denganku. 

"Kau sudah bangun rupanya!" ucap Anton. Aku menatap kearahnya dengan pandangan takut, karena aku melihat ia memegang sebuah pisau ditangan kanannya. 

"Tenang saja, aku tak akan melukaimu sekarang. Aku ingin bermain dengan penghianat ini," ucap Anton. 
Anton mendekat kearah Claren, ia menampar pipi wanita cantik itu dengan keras hingga aku bisa melihat bekas merah dipipi kanannya. 

 "Apa ini balasan untukku? aku hanya memintamu berpose panas dengan aksesoris telinga kelinci ini tapi kau menolaknya dan bahkan kau menghianatiku," ucap Anton. 

"Kau salah paham Anton, aku tak melakukan apa-apa," ucap Claren. 

 "Ya itu benar, kau salah paham Anton!" ucapku cukup keras. 

"Diam kau! baiklah aku akan memulai ini dari dirimu terlebih dahulu," ucap Anton. 
 Anton berjalan kearahku, ia mengangkat tinggi pisau itu dan menghunuskannya kearahku. 

Brakk!!! Tubuh Anton jatuh kesamping kanan, dibelakangnya aku melihat Claren dengan kursi plastik yang menjadi tempat ia duduk tadi. Entah dari mana Claren bisa melepaskan diri, tapi aku bersyukur selamat dari serangan Anton. Claren berulang kali memukulkan kursi itu kekepala Anton hingga darah keluar dari kepalanya. 

"Akhirnya aku bisa membunuhmu Anton!" ucap Claren. 

Claren mengambil pisau ditangan Anton dan.... 

Crugghh!!! 

Claren tersentak saat merasakan punggungnya ditusuk oleh benda keras. 
Nafasnya tercekat ditenggorokkannya dan akhirnya ia jatuh perlahan kelantai. 

 "Jangan pernah terlena Claren. Karena masih ada aku disini, dan ingatlah tak semua orang menyukaimu," ucapku. 

Tamat.

0 comments:

Post a Comment