Author: Sad Anonim
"Ckkiiiieettt...."
Sam membuka pintu dan mendapati sebuah lorong gelap, decitan tikus menggema dilorong gelap ini.
"Sial sepertinya aku salah jalan," ucap Sam.
Lalu tanpa pikir panjang ia berbalik dan mencoba membuka pintu itu lagi.
"Sialan... Kenapa pintu ini bisa terkunci?" umpat Sam.
Ia mencoba mendorong pintu itu beberapa kali, namun tak ada hasil. Ia lalu berjalan kedepan mencari jalan keluar lain.
Sepanjang lorong itu hampir semua pintunya terkunci, Sam hanya bisa membuka satu pintu terakhir yang saat ia membuka pintunya bau busuk menyeruak.
Sam mencoba mencari tau asal bau ini, ia masuk dan menyorot kesegala arah. Hingga ia melihat sesuatu yang terbungkus kain, mirip seperti tubuh manusia. Sam berjalan kearahnya dan membuka kain penutup itu.
"Ciihhh, ternyata cuman patung porselen," ucap Sam.
Sam berbalik dan saat ia hendak melangkah.
"Siapa yang kau bilang porselen?" Deg! jantung Sam terasa berhenti, ia mendengar dengan jelas suara itu.
Satu hal yang ia tau, dia hanya seorang diri disini. Tanpa menengok lagi Sam langsung berlari keluar dari ruangan itu. Namun hal yang sangat membuat Sam terkejut terjadi. Kini ia berada disebuah ruangan mirip istana, yang dibagian sisi kiri dan kanannya ada sepasang tangga yang menuju keatas.
Sam tambah ketakutan dibuatnya. Buku yang ada disaku jaket Sam terbang dengan sendirinya, lalu buku itu terbuka. Buku itu menampilkan sebuah halaman yang terdapat gambar.
"Sepertinya ini peta denah ruangan ini," ucap Sam.
"Ya kau benar." "Sii... Siapa kau?" tanya Sam.
"Aku bukumu Sam, disini aku akan mengantarkanmu kesebuah rahasia yang selama ini disimpan ayahmu," ucap buku itu.
"Jangan bercanda, mana ada buku yang bisa berbicara?" ucap Sam.
"Kau yang jangan bercanda, apa tak cukup kau melihat hal-hal supranatural yang telah kau temui," ucap buku itu.
"Sial sekarang aku mulau gila," ucap Sam.
Tingg... Tenggg!! "Siapa itu?"
"Cepat lari, ambil tangga yang ada dibagian kiri itu Sam," ucap buku itu.
"Kenapa memang? itu hanya suara bel," ucap Sam.
"Ya, bel kematianmu. Cepat jangan banyak tanya," ucap buku itu.
Sam pun akhirnya mengikuti apa yang dikatakan buku itu, namun sebelum ia masuk kepintu yang ada diatas. Sam melihat sebentar kebawah karena ia mendengar suara pintu yang didobrak dengan paksa.
Dari sana keluar seorang pria besar dengan kepala tertutup kain dan besi yang tertancap hampir diseluruh badannya. Sam buru-buru masuk kedalam pintu yang tak terkunci itu, ia sempat mendengar geraman yang bisa membuat bulu kuduk merinding.
Ia terus berlari hingga mendapati sebuah gudang senjata. Bukan senjata pada umumnya, tapi ditempat itu terdapat kapak yang sangat besar.
Hampir semua senjata itu berukuran 3 kali lipat dari tubuh manusia.
"Senjata ini, apa untuk raksasa?" tanya Sam.
"Lebih tepatnya ini untuk menyiksa orang-orang yang ada dineraka," ucap buku itu yang kini sudah ada didalam saku jaket Sam.
"Neraka? ah aku semakin gila jika berlama-lama disini," ucap Sam.
Sam terus berjalan hingga ia menemukan sebuah catatan yang tergeletak diatas meja.
"Apa arti dari tulisan ini?" tanya Sam.
"Ini, kau harus menemukan senjata yang seukuran untuk membuka jalan menuju tempat aman. Dan kau harus melakukan hal itu sebelum suara bel terdengar. Kau harus melihat sekeliling, semua ada ditempat kau berasal." Sam pun mulai mencari, ia melihat kesekeliling.
Ia melihat dibalik tumpukkan senjata-senjata besar itu. Namun ia tak menemukannya, hingga tak terasa suara bel itu terdengar. Dari belakang, Sam mendengar suara pintu yang coba didobrak dengan paksa.
Sam buru-buru melihat kelubang kunci yang ada disamping pintu. Dan tiba-tiba dalam otak Sam terlintas kata-kata terakhir dari kertas yang ia temukan tadi.
"Semua ada ditempat kau berasal!" Sam lalu mengambil belati miliknya, lalu ia menancapkan belati itu dilubang kunci dan memutarnya.
Pintu terbuka dengan perlahan, Sam merasa lega namun itu hanya sesaat. Dari belakang suara geraman yang membuat bulu kuduk berdiri terdengar, suara gemerincing rantai yang terseret dilantai terdengar memenuhi isi ruangan itu.
Sam menengok kebelakang, dan mendapati pria besar yang ia lihat dibawah sedang mengambil kapak besar dan siap untuk mengejarnya. Sam cepat-cepat menarik pistolnya dan menembak kaki pria itu, namun puluru yang mengenai kaki pria itu seperti hanya angin lalu saja. Ia seperti tak merasakan apapun dan tetap berjalan kearah Sam.
"Cepat lari bodoh!" ucap buku.
Sam dengan cepat berlari dan menarik kembali pisau belati miliknya, ia langsung melompat saat melihat pintu yang baru setengah terbuka akan tertutup dengan cepat.
Sepersekian detik saja Sam terlambat mungkin tubuhnya akan terjepit dipintu itu.
"Syukurlah selamat," ucap Sam.
Brakkk!!!
Sam berbalik dan melihat.....
Bersambung
"Ckkiiiieettt...."
Sam membuka pintu dan mendapati sebuah lorong gelap, decitan tikus menggema dilorong gelap ini.
"Sial sepertinya aku salah jalan," ucap Sam.
Lalu tanpa pikir panjang ia berbalik dan mencoba membuka pintu itu lagi.
"Sialan... Kenapa pintu ini bisa terkunci?" umpat Sam.
Ia mencoba mendorong pintu itu beberapa kali, namun tak ada hasil. Ia lalu berjalan kedepan mencari jalan keluar lain.
Sepanjang lorong itu hampir semua pintunya terkunci, Sam hanya bisa membuka satu pintu terakhir yang saat ia membuka pintunya bau busuk menyeruak.
Sam mencoba mencari tau asal bau ini, ia masuk dan menyorot kesegala arah. Hingga ia melihat sesuatu yang terbungkus kain, mirip seperti tubuh manusia. Sam berjalan kearahnya dan membuka kain penutup itu.
"Ciihhh, ternyata cuman patung porselen," ucap Sam.
Sam berbalik dan saat ia hendak melangkah.
"Siapa yang kau bilang porselen?" Deg! jantung Sam terasa berhenti, ia mendengar dengan jelas suara itu.
Satu hal yang ia tau, dia hanya seorang diri disini. Tanpa menengok lagi Sam langsung berlari keluar dari ruangan itu. Namun hal yang sangat membuat Sam terkejut terjadi. Kini ia berada disebuah ruangan mirip istana, yang dibagian sisi kiri dan kanannya ada sepasang tangga yang menuju keatas.
Sam tambah ketakutan dibuatnya. Buku yang ada disaku jaket Sam terbang dengan sendirinya, lalu buku itu terbuka. Buku itu menampilkan sebuah halaman yang terdapat gambar.
"Sepertinya ini peta denah ruangan ini," ucap Sam.
"Ya kau benar." "Sii... Siapa kau?" tanya Sam.
"Aku bukumu Sam, disini aku akan mengantarkanmu kesebuah rahasia yang selama ini disimpan ayahmu," ucap buku itu.
"Jangan bercanda, mana ada buku yang bisa berbicara?" ucap Sam.
"Kau yang jangan bercanda, apa tak cukup kau melihat hal-hal supranatural yang telah kau temui," ucap buku itu.
"Sial sekarang aku mulau gila," ucap Sam.
Tingg... Tenggg!! "Siapa itu?"
"Cepat lari, ambil tangga yang ada dibagian kiri itu Sam," ucap buku itu.
"Kenapa memang? itu hanya suara bel," ucap Sam.
"Ya, bel kematianmu. Cepat jangan banyak tanya," ucap buku itu.
Sam pun akhirnya mengikuti apa yang dikatakan buku itu, namun sebelum ia masuk kepintu yang ada diatas. Sam melihat sebentar kebawah karena ia mendengar suara pintu yang didobrak dengan paksa.
Dari sana keluar seorang pria besar dengan kepala tertutup kain dan besi yang tertancap hampir diseluruh badannya. Sam buru-buru masuk kedalam pintu yang tak terkunci itu, ia sempat mendengar geraman yang bisa membuat bulu kuduk merinding.
Ia terus berlari hingga mendapati sebuah gudang senjata. Bukan senjata pada umumnya, tapi ditempat itu terdapat kapak yang sangat besar.
Hampir semua senjata itu berukuran 3 kali lipat dari tubuh manusia.
"Senjata ini, apa untuk raksasa?" tanya Sam.
"Lebih tepatnya ini untuk menyiksa orang-orang yang ada dineraka," ucap buku itu yang kini sudah ada didalam saku jaket Sam.
"Neraka? ah aku semakin gila jika berlama-lama disini," ucap Sam.
Sam terus berjalan hingga ia menemukan sebuah catatan yang tergeletak diatas meja.
"Apa arti dari tulisan ini?" tanya Sam.
"Ini, kau harus menemukan senjata yang seukuran untuk membuka jalan menuju tempat aman. Dan kau harus melakukan hal itu sebelum suara bel terdengar. Kau harus melihat sekeliling, semua ada ditempat kau berasal." Sam pun mulai mencari, ia melihat kesekeliling.
Ia melihat dibalik tumpukkan senjata-senjata besar itu. Namun ia tak menemukannya, hingga tak terasa suara bel itu terdengar. Dari belakang, Sam mendengar suara pintu yang coba didobrak dengan paksa.
Sam buru-buru melihat kelubang kunci yang ada disamping pintu. Dan tiba-tiba dalam otak Sam terlintas kata-kata terakhir dari kertas yang ia temukan tadi.
"Semua ada ditempat kau berasal!" Sam lalu mengambil belati miliknya, lalu ia menancapkan belati itu dilubang kunci dan memutarnya.
Pintu terbuka dengan perlahan, Sam merasa lega namun itu hanya sesaat. Dari belakang suara geraman yang membuat bulu kuduk berdiri terdengar, suara gemerincing rantai yang terseret dilantai terdengar memenuhi isi ruangan itu.
Sam menengok kebelakang, dan mendapati pria besar yang ia lihat dibawah sedang mengambil kapak besar dan siap untuk mengejarnya. Sam cepat-cepat menarik pistolnya dan menembak kaki pria itu, namun puluru yang mengenai kaki pria itu seperti hanya angin lalu saja. Ia seperti tak merasakan apapun dan tetap berjalan kearah Sam.
"Cepat lari bodoh!" ucap buku.
Sam dengan cepat berlari dan menarik kembali pisau belati miliknya, ia langsung melompat saat melihat pintu yang baru setengah terbuka akan tertutup dengan cepat.
Sepersekian detik saja Sam terlambat mungkin tubuhnya akan terjepit dipintu itu.
"Syukurlah selamat," ucap Sam.
Brakkk!!!
Sam berbalik dan melihat.....
Bersambung







0 comments:
Post a Comment