Monday, September 26, 2016

House Of Sorrow Part-2: Ego

Author: Sad Anonim.


Hari-hari berlalu, Jason yang kini tinggal sendirian. Membuat dirinya terus dilanda kesedihan, tak ada lagi canda tawa dari dua anaknya. Tak ada lagi seseorang yang memeluknya kala ia kedinginan saat tidur. Tak ada lagi kehangatan yang selalu ia temukan didepan meja makan saat ia sarapan. Dan tak ada lagi yang menyambutnya dengan senyuman manis untuk menghilangkan penatnya setelah ia lelah seharian berkerja.

Hampir setiap hari, ia pergi dan duduk melamun didepan makam anak dan istrinya yang sengaja disusun berdampingan. Air mata menetes dari pelupuk matanya, kala ia mengingat kenangan manis yang kini hanya menjadi pelengkap penderitaan yang ia rasakan. Dan tak terasa, hari ini adalah hari dimana sidang akan dimulai.

Sidang perihal kejadian yang merenggut nyawa kedua anaknya. Ia mengutuk keras agar sang tersangka dihukum seberat-beratnya. Sengaja ia mendatangkan pengacara handal dari luar kota untuk memenangkan sidang ini. Jason selalu datang menghadapi sidang demi sidang, hingga hari penentuan tiba.

Saat itu Jason dengan setelan jas hitamnya duduk santai dengan secangkir kopi diruang persidangan. Beberapa orang yang keluarganya menjadi korban juga turut hadir, sidang berjalan sengit. Hingga hakim mengatakan keputusannya.

"Terdakwa akan dihukum dengan penarikkan SIM dan hukuman selama 1 bulan," ucap Hakim sambil mengetuk palunya.

Semua orang yang ada diruangan itu sontak berteriak. Mereka tak setuju dengan apa yang diputuskan hakim, terlebih dengan Jason. Ia yang paling emosi, bahkan ia sampai melemparkan gelas kopi yang masih terisi itu kehakim. Para petugas keamanan terpaksa turun tangan untuk menghentikn kegaduhan ini.
****

Beberapa hari setelah persidangan terakhir itu, Jason duduk sambil melihat kesmartphonenya. Ia baru saja mendapat info dari informannya tentang orang yang menabrak kedua anaknya. Ternyata orang itu adalah anak dari hakim dikota ini, namanya adalah Abigail.

"Hmmm... Pantas saja ia tak dihukum secara adil," ucap Jason.

Ia mengalihkan pandangan matanya ketaman indah yang kini terasa hampa baginya. Ia menatap taman yang ia desain dengan istrinya dulu sambil mengkhayal. Mengkhayalkan dua anaknya sedang berlarian karena dikejar sang istri. Mereka tertawa dengan lantangnya karena permainan kecil itu.

Hati Jason semakin miris, air mata kembali menetes. Ia menutup matanya dan entah dari mana, tiba-tiba terdengat seseorang yang berbicara dan memanggil dirinya.

"Jason, apa kau hanya ingin menangisi anak dan istrimu? apa kau tak ingin membalaskan semua ini? apa kau hanya pasrah menerima keadaan? oh Jason! Kau lupa siapa keluarga kita. Kau lupa siapa kakek buyutmu," ucap suara itu, suara yang berasal dari dalam dirinya.
Jason lalu membuka matanya.

"Ya, itu benar!" ucap Jason.

Ia langsung berdiri, ia menelpon informannya untuk memberikan informasi yang lebih lengkap lagi tentang keluarga itu. Mungkin saat ini Jason sudah sampai keambang batas garis kewarasannya. Yang ada didalam pikirannya hanya menuntut pembalasan atas semua ini. Setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, Jason dengan cepat menyusun rencana untuk 2 minggu kedepan.
Hari dimana Abigail akan dibebaskan dari tahanan.
***

Jason duduk didalam mobil bekas yang ia beli sengaja untuk memata-matai kehidupan dirumah yang cukup besar ditengah kota, rumah dimana Abigail tinggal.
Lama Jason memperhatikan rumah itu, sambil mencatat kebiasaan orang-orang yang ada didalam rumah itu. Ini adalah pengintaian yang ke-8 kali, semua data-data sudah lumayan matang.

Jam 06:00 Thomson dan sang istri Tia keluar dari rumah untuk berkerja dan akan pulang pada jam 5 sore. Tak ada aktifitas penting yang terjadi, karena mereka hanya memiliki satu anak. Jason keluar dari mobil itu dengan kacamata hitam dan jaket hoddie berwarna biru tua. Ia berjalan mengelilingi pagar rumah itu, untuk melihat tempat mana yang aman untuk ia naiki. Dengan bantuan drone kecil yang memang sengaja ia pesan, Jason sambil berjalan ia melihat keadaan dari pandangan drone yang sengaja ia terbangkan didekat rumah itu.
Setelah beberapa kali berkeliling, Jason kembali kedalam mobilnya. Ia menghidupkan mesin mobil dan pergi menjauh dari tempat itu.
 ***

Malam ini adalah hari dimana Abigail pulang kerumahnya, dengan senyum congkaknya ia melangkah keluar dari deretan jeruji besi itu. Sesampainya diluar, ia sudah disambut oleh kedua orang tuanya dan kekasihnya Nina.
***

Jason kini sudah berada dibalik semak-semak didekat kolam renang rumah Thomson, dengan keahliannya Jason merusak semua kamera cctv yang terpasang dirumah itu. Tak ada yang menyadari kehadiran Jason disitu. Semua sangat sempurna dan berjalan sesuai rencananya.
Tak berapa lama yang ditunggu telah tiba, Abigail, Thomson, Tia, dan Nina masuk kedalam rumah megah itu. Mereka langsung menuju keruang makan, untuk menyantap semua makanan yang ada diatas meja makan itu.

Jason dari jauh mengintai mereka dengan teropongnya. Perlahan ia berjalan kedepan, kearah pos penjaga. Dengan senjata bius yang sangat kuat. Jason menembak dua penjaga yang berjaga disekitar pos itu. Jason lalu berjalan masuk kedalam rumah itu melewati pintu belakang yang biasanya dipakai oleh para pembantu untuk masuk.

Disana ia melumpuhkan beberapa orang dan setelah dirasa aman. Jason lalu melemparkan bom gas bius kearah ruang makan. Tempat semua berkumpul. Semua orang yang ada dimeja makan itu terkejut dan langsung menutup hidung mereka, namun sayang hal itu sia-sia dan mereka semua tergeletak tak sadarkan diri.
***

"Plaakkk!"
Jason menampar dengan keras pipi Abigail, Abigail terbangun dan terkejut memandang Jason berdiri didepannya. Ia sungguh sangat mengenali orang kaya dikotanya ini dan tentunya orang yang telah melempar ayahnya dengan cangkir kopi saat persidangan 1 bulan yang lalu.

"Kenapa? apa yang kau lakukan?" tanya Abigail.

Jason tersenyum dan menunjuk kekiri dan kanan Abigail. Abigail seperti terhipnotis, ia menengok kearah kanan dan kiri. Matanya melotot, ia melihat kedua orang tuanya dan kekasihnya berada dalam kondisi terikat. Sama persis seperti dirinya.

"Apa yang kau mau?" tanya Abigail.

"Hanya mencari kebenaran," ucap Jason singkat.

Jason lalu berjalan mendekat kearah Thomson dan Tia yang sudah sadar dari tadi, Jason mengambil sebuah martil besar yang ia letakkan diatas sofa ruang tamu dirumah itu. Dengan pelan, Jason mengayunkan palu itu kearah paha Thomson. Thomson tentu berteriak histeris karena rasa sakit yang diciptakan oleh palu godam itu.

Muka semua orang yang barada diruangan itu menjadi pucat melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Jason. Jason yang berniat mempermainkan mereka lalu melepaskan palu itu. Ia mengambil sebilah belati dari balik kantung jaketnya. Ia mendekat kearah Nina, dengan lembut Jason mengangkat dagu gadis itu dari belakang. Ia lalu menempelkan pisau itu keleher Nina dan menariknya secara horizontal. Memberikan bekas sayatan dileher putih mulus gadis itu.
Darah segar mengalir, air mata gadis itu juga ikut mengalir merasakan nyawanya yang sebentar lagi lepas dari raganya. Abigail yang melihat itu berteriak dengan keras, namun Jason langsung menamparnya dengan keras agar ia diam kembali.

"Bagaimana? apa yang kau rasakan?" tanya Jason.

Abigail hanya bisa menitikkan air mata, melihat kekasihnya meninggal secara perlahan. Jason yang melihat hal itu lalu berdiri dibelakang Tia, ia mengayunkan palu godam yang ia ambil sebelumnya kekepala Tia.

Trakkk!! Cleecckkkk!!!
Dua kali Jason mengayunkan palu itu hingga membuat kepala Tia pecah terbelah dua. Thomson dan Abigail yang melihat itu semakin histeris dan mengutuk Jason.

"Lihat saja aku akan membalas perbuatanmu," ucap Abigail.

"Heh? membalas? hahaha, kau akan mati malam ini nak," ucap Jason.

Jason mendekat kearah Thomson, ia mengikat leher Thomson dengan tali yang menjuntai dari atas. Tali yang memang sudah disiapkan oleh Jason sebelumnya. Dengan santainya, Jason berjalan kearah lantai dua, ia lalu melemparkan karung yang entah berisi apa kebawah.

Karung itu sebelumnya telah diikat oleh Jason ketali yang menjerat leher Thomson. Saking beratnya karung itu, sampai bisa membuat tubuh gemuk Thomson terangkat dan tergantung. Jason bertepuk tangan sambil melihat Thomson yang mulai kehabisan nafas.
Tubuh gemuknya bergerak-gerak mencoba untuk melepaskan diri.

"Hahaha, kau lebih terlihat seperti ikan fugu yang terkena mata pancing," ucap Jason sambil memegangi perutnya.

Jason lalu memandang kearah Abigail. Ia sengaja menyimpan kejutan terakhir untuk Abigail. Jason berjalan kesofa dan mengeluarkan sebungkus minyak goreng dari tas yang ia letakkan tadi. Ia lalu berjalan menuju sebuah kompor yang memiliki meja yang bisa digeser, Jason lalu menggeser kompor itu mendekat kearah Abigail.

Jason menghidupkan kompor itu dan menuangkan minyak literan itu kesebuah wajan yang ia ambil saat didapur. Jason menunggu minyak itu sampai mengeluarkan sedikit asap, yang menandakan minyak itu sudah panas.

Tanpa babibu, Jason menarik tubuh Abigail yang memang lebih kecil darinya. Dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat, membuat Abigail tak bisa melawan. Ditambah efek dari bius dari Jason tadi masih membuat tubuhnya lemas.

Jason dengan senyum mengerikannya, memegang kepala bagian belakang Abigail. Dan dengan paksa ia mencelupkan wajah Abigail itu kewajan berisi minyak panas. Jason terus memegangi kepala Abigail hingga ia tak bergerak lagi. Setelah itu Jason mengangkat kepala Abigail yang kini wajahnya sudah tak berbentuk lagi.

"Hummm,, wajah goreng," ucap Jason.

Lalu tanpa rasa kasihan sedikitpun, Jason meninggalkan rumah ini dan sebelumnya membakar rumah ini terlebih dahulu.
***

Bersambung...

0 comments:

Post a Comment