This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, September 26, 2016

House Of Sorrow Part-2: Ego

Author: Sad Anonim.


Hari-hari berlalu, Jason yang kini tinggal sendirian. Membuat dirinya terus dilanda kesedihan, tak ada lagi canda tawa dari dua anaknya. Tak ada lagi seseorang yang memeluknya kala ia kedinginan saat tidur. Tak ada lagi kehangatan yang selalu ia temukan didepan meja makan saat ia sarapan. Dan tak ada lagi yang menyambutnya dengan senyuman manis untuk menghilangkan penatnya setelah ia lelah seharian berkerja.

Hampir setiap hari, ia pergi dan duduk melamun didepan makam anak dan istrinya yang sengaja disusun berdampingan. Air mata menetes dari pelupuk matanya, kala ia mengingat kenangan manis yang kini hanya menjadi pelengkap penderitaan yang ia rasakan. Dan tak terasa, hari ini adalah hari dimana sidang akan dimulai.

Sidang perihal kejadian yang merenggut nyawa kedua anaknya. Ia mengutuk keras agar sang tersangka dihukum seberat-beratnya. Sengaja ia mendatangkan pengacara handal dari luar kota untuk memenangkan sidang ini. Jason selalu datang menghadapi sidang demi sidang, hingga hari penentuan tiba.

Saat itu Jason dengan setelan jas hitamnya duduk santai dengan secangkir kopi diruang persidangan. Beberapa orang yang keluarganya menjadi korban juga turut hadir, sidang berjalan sengit. Hingga hakim mengatakan keputusannya.

"Terdakwa akan dihukum dengan penarikkan SIM dan hukuman selama 1 bulan," ucap Hakim sambil mengetuk palunya.

Semua orang yang ada diruangan itu sontak berteriak. Mereka tak setuju dengan apa yang diputuskan hakim, terlebih dengan Jason. Ia yang paling emosi, bahkan ia sampai melemparkan gelas kopi yang masih terisi itu kehakim. Para petugas keamanan terpaksa turun tangan untuk menghentikn kegaduhan ini.
****

Beberapa hari setelah persidangan terakhir itu, Jason duduk sambil melihat kesmartphonenya. Ia baru saja mendapat info dari informannya tentang orang yang menabrak kedua anaknya. Ternyata orang itu adalah anak dari hakim dikota ini, namanya adalah Abigail.

"Hmmm... Pantas saja ia tak dihukum secara adil," ucap Jason.

Ia mengalihkan pandangan matanya ketaman indah yang kini terasa hampa baginya. Ia menatap taman yang ia desain dengan istrinya dulu sambil mengkhayal. Mengkhayalkan dua anaknya sedang berlarian karena dikejar sang istri. Mereka tertawa dengan lantangnya karena permainan kecil itu.

Hati Jason semakin miris, air mata kembali menetes. Ia menutup matanya dan entah dari mana, tiba-tiba terdengat seseorang yang berbicara dan memanggil dirinya.

"Jason, apa kau hanya ingin menangisi anak dan istrimu? apa kau tak ingin membalaskan semua ini? apa kau hanya pasrah menerima keadaan? oh Jason! Kau lupa siapa keluarga kita. Kau lupa siapa kakek buyutmu," ucap suara itu, suara yang berasal dari dalam dirinya.
Jason lalu membuka matanya.

"Ya, itu benar!" ucap Jason.

Ia langsung berdiri, ia menelpon informannya untuk memberikan informasi yang lebih lengkap lagi tentang keluarga itu. Mungkin saat ini Jason sudah sampai keambang batas garis kewarasannya. Yang ada didalam pikirannya hanya menuntut pembalasan atas semua ini. Setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, Jason dengan cepat menyusun rencana untuk 2 minggu kedepan.
Hari dimana Abigail akan dibebaskan dari tahanan.
***

Jason duduk didalam mobil bekas yang ia beli sengaja untuk memata-matai kehidupan dirumah yang cukup besar ditengah kota, rumah dimana Abigail tinggal.
Lama Jason memperhatikan rumah itu, sambil mencatat kebiasaan orang-orang yang ada didalam rumah itu. Ini adalah pengintaian yang ke-8 kali, semua data-data sudah lumayan matang.

Jam 06:00 Thomson dan sang istri Tia keluar dari rumah untuk berkerja dan akan pulang pada jam 5 sore. Tak ada aktifitas penting yang terjadi, karena mereka hanya memiliki satu anak. Jason keluar dari mobil itu dengan kacamata hitam dan jaket hoddie berwarna biru tua. Ia berjalan mengelilingi pagar rumah itu, untuk melihat tempat mana yang aman untuk ia naiki. Dengan bantuan drone kecil yang memang sengaja ia pesan, Jason sambil berjalan ia melihat keadaan dari pandangan drone yang sengaja ia terbangkan didekat rumah itu.
Setelah beberapa kali berkeliling, Jason kembali kedalam mobilnya. Ia menghidupkan mesin mobil dan pergi menjauh dari tempat itu.
 ***

Malam ini adalah hari dimana Abigail pulang kerumahnya, dengan senyum congkaknya ia melangkah keluar dari deretan jeruji besi itu. Sesampainya diluar, ia sudah disambut oleh kedua orang tuanya dan kekasihnya Nina.
***

Jason kini sudah berada dibalik semak-semak didekat kolam renang rumah Thomson, dengan keahliannya Jason merusak semua kamera cctv yang terpasang dirumah itu. Tak ada yang menyadari kehadiran Jason disitu. Semua sangat sempurna dan berjalan sesuai rencananya.
Tak berapa lama yang ditunggu telah tiba, Abigail, Thomson, Tia, dan Nina masuk kedalam rumah megah itu. Mereka langsung menuju keruang makan, untuk menyantap semua makanan yang ada diatas meja makan itu.

Jason dari jauh mengintai mereka dengan teropongnya. Perlahan ia berjalan kedepan, kearah pos penjaga. Dengan senjata bius yang sangat kuat. Jason menembak dua penjaga yang berjaga disekitar pos itu. Jason lalu berjalan masuk kedalam rumah itu melewati pintu belakang yang biasanya dipakai oleh para pembantu untuk masuk.

Disana ia melumpuhkan beberapa orang dan setelah dirasa aman. Jason lalu melemparkan bom gas bius kearah ruang makan. Tempat semua berkumpul. Semua orang yang ada dimeja makan itu terkejut dan langsung menutup hidung mereka, namun sayang hal itu sia-sia dan mereka semua tergeletak tak sadarkan diri.
***

"Plaakkk!"
Jason menampar dengan keras pipi Abigail, Abigail terbangun dan terkejut memandang Jason berdiri didepannya. Ia sungguh sangat mengenali orang kaya dikotanya ini dan tentunya orang yang telah melempar ayahnya dengan cangkir kopi saat persidangan 1 bulan yang lalu.

"Kenapa? apa yang kau lakukan?" tanya Abigail.

Jason tersenyum dan menunjuk kekiri dan kanan Abigail. Abigail seperti terhipnotis, ia menengok kearah kanan dan kiri. Matanya melotot, ia melihat kedua orang tuanya dan kekasihnya berada dalam kondisi terikat. Sama persis seperti dirinya.

"Apa yang kau mau?" tanya Abigail.

"Hanya mencari kebenaran," ucap Jason singkat.

Jason lalu berjalan mendekat kearah Thomson dan Tia yang sudah sadar dari tadi, Jason mengambil sebuah martil besar yang ia letakkan diatas sofa ruang tamu dirumah itu. Dengan pelan, Jason mengayunkan palu itu kearah paha Thomson. Thomson tentu berteriak histeris karena rasa sakit yang diciptakan oleh palu godam itu.

Muka semua orang yang barada diruangan itu menjadi pucat melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Jason. Jason yang berniat mempermainkan mereka lalu melepaskan palu itu. Ia mengambil sebilah belati dari balik kantung jaketnya. Ia mendekat kearah Nina, dengan lembut Jason mengangkat dagu gadis itu dari belakang. Ia lalu menempelkan pisau itu keleher Nina dan menariknya secara horizontal. Memberikan bekas sayatan dileher putih mulus gadis itu.
Darah segar mengalir, air mata gadis itu juga ikut mengalir merasakan nyawanya yang sebentar lagi lepas dari raganya. Abigail yang melihat itu berteriak dengan keras, namun Jason langsung menamparnya dengan keras agar ia diam kembali.

"Bagaimana? apa yang kau rasakan?" tanya Jason.

Abigail hanya bisa menitikkan air mata, melihat kekasihnya meninggal secara perlahan. Jason yang melihat hal itu lalu berdiri dibelakang Tia, ia mengayunkan palu godam yang ia ambil sebelumnya kekepala Tia.

Trakkk!! Cleecckkkk!!!
Dua kali Jason mengayunkan palu itu hingga membuat kepala Tia pecah terbelah dua. Thomson dan Abigail yang melihat itu semakin histeris dan mengutuk Jason.

"Lihat saja aku akan membalas perbuatanmu," ucap Abigail.

"Heh? membalas? hahaha, kau akan mati malam ini nak," ucap Jason.

Jason mendekat kearah Thomson, ia mengikat leher Thomson dengan tali yang menjuntai dari atas. Tali yang memang sudah disiapkan oleh Jason sebelumnya. Dengan santainya, Jason berjalan kearah lantai dua, ia lalu melemparkan karung yang entah berisi apa kebawah.

Karung itu sebelumnya telah diikat oleh Jason ketali yang menjerat leher Thomson. Saking beratnya karung itu, sampai bisa membuat tubuh gemuk Thomson terangkat dan tergantung. Jason bertepuk tangan sambil melihat Thomson yang mulai kehabisan nafas.
Tubuh gemuknya bergerak-gerak mencoba untuk melepaskan diri.

"Hahaha, kau lebih terlihat seperti ikan fugu yang terkena mata pancing," ucap Jason sambil memegangi perutnya.

Jason lalu memandang kearah Abigail. Ia sengaja menyimpan kejutan terakhir untuk Abigail. Jason berjalan kesofa dan mengeluarkan sebungkus minyak goreng dari tas yang ia letakkan tadi. Ia lalu berjalan menuju sebuah kompor yang memiliki meja yang bisa digeser, Jason lalu menggeser kompor itu mendekat kearah Abigail.

Jason menghidupkan kompor itu dan menuangkan minyak literan itu kesebuah wajan yang ia ambil saat didapur. Jason menunggu minyak itu sampai mengeluarkan sedikit asap, yang menandakan minyak itu sudah panas.

Tanpa babibu, Jason menarik tubuh Abigail yang memang lebih kecil darinya. Dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat, membuat Abigail tak bisa melawan. Ditambah efek dari bius dari Jason tadi masih membuat tubuhnya lemas.

Jason dengan senyum mengerikannya, memegang kepala bagian belakang Abigail. Dan dengan paksa ia mencelupkan wajah Abigail itu kewajan berisi minyak panas. Jason terus memegangi kepala Abigail hingga ia tak bergerak lagi. Setelah itu Jason mengangkat kepala Abigail yang kini wajahnya sudah tak berbentuk lagi.

"Hummm,, wajah goreng," ucap Jason.

Lalu tanpa rasa kasihan sedikitpun, Jason meninggalkan rumah ini dan sebelumnya membakar rumah ini terlebih dahulu.
***

Bersambung...

Saturday, September 24, 2016

House Of Sorrow Part-1: The Incident.

Author: Sad Anonim



Hari yang indah untuk seorang pria bernama Jason Vinch. Karena hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya yang ke 13 tahun. Ia sudah merancang semuanya sedemikian rupa dirumah indah miliknya ini, rumah mewah dengan gaya classic khas raja-raja pada zaman dahulu. Jason dengan tekunnya menyiapkan segalanya.

Dari makanan, minuman, hadiah, bahkan dekorasi dimeja makan yang akan menjadi tempat perayaannya untuk istri dan dua orang anaknya yang masing-masing berumur 10 dan 8 tahun.

"Apa semua ini terlihat bagus?" tanya Jason pada pelayan yang membantunya menyiapkan acara ini.

"Selera anda memang sangat bagus tuan, bahkan ini sangat indah," ucap pelayang bernama Gary itu.

"Syukurlah, semoga saja dia suka. Tapi, apakah dia mau datang kemari?" ucap Jason dalam hati. Jason duduk disalah satu kursi dan melamunkan kejadian beberapa hari yang lalu.
***
Saat itu Jason dan istrinya Samantha bertengkar hebat, semuanya karena kesalah pahaman Samantha yang mengira bahwa Jason telah berselingkuh dengan sekertarisnya dikantor. Jason sudah menjelaskan semuanya, tapi Samantha tetap tak percaya dan tetap menuduh Jason selingkuh.

Samantha bahkan sampai melempar barang-barang dirumah itu, beberapa guci mahal pecah. Semua itu untungnya tak terlihay oleh anak-anak mereka. Jason terlebih dahulu menitipkan anak-anaknya pada sang nenek. Kesabaran Jason diuji saat istrinya yang sangat ia sayangi pergi dari rumah, ia tak ingin mengejarnya. Karena Jason tau, istrinya pasti pulang kerumah ayah ibunya untuk menenangkan diri.
***

Kini kembali ke masa sekarang, Jason cemas menunggu kedatangan anak dan istrinya. Untuk anak, ia tak terlalu khawatir. Karena nenek dari anak-anak itu pasti akan mengantarkan mereka kerumah. Yang menjadi perhatian Jason saat ini adalah kedatangan Samantha istrinya. Semoga saja orang tuanya bisa membujuk Samantha untuk pulang kerumah.
1 Jam sudah Jason menunggu, tapi Samantha tak kunjung terlihat. Jason hanya bisa mondar-mandir diruang tengah sambil menunggu kedatangan Samantha.

Ting...Tengg!!!

Jason dengan buru-buru menuju pintu depan, dengan harapan bahwa Samantha yang ada dibalik pintu itu. Jason memutar knop pintu itu dan menarik pintu dengan perlahan. Betapa bahagianya ia saat melihat siapa dibalik pintu itu. Seorang wanita berambut kuning sedang berdiri dengan setelan gaun indah berwarna putih dengan polesan make up tipis dan natural. Menampakkan kecantikkan alami yang ia miliki.

Jason langsung memeluk Samantha tanpa pikir panjang. Ia sangat bersyukur bahwa Samantha mau datang dan merayakan hari jadi mereka.

"Anak-anak sudah datang?" tanya Samantha.

"Belum, mungkin sebentar lagi," ucap Jason sambil merangkul istri yang paling ia cintai.
Samantha dengan manjanya membaringkan kepalanya didada Jason, dan merapatkan tubuhnya dalam pelukkan hangat pria yang sudah 13 tahun ini menjadi suaminya. Lama mereka diam dengan pikiran masing-masing, terlebih Samantha yang sangat menyesali apa yang ia perbuat beberapa hari yang lalu saat ia bertengkar dengan Jason.

Ia sangat takut akan kabar burung itu. Ia tak ingin pria yang sangat ia cintai berpaling pada wanita lain. Sedangkan Jason, ia sedang menunggu kapan datangnya anak berserta orang tuanya dan mertuanya. Pesta ini memang dibuat Jason untuk seluruh keluarganya, bahkan adik-adiknya yang berada diluar kotapun ia undang.

Tak berapa lama, bel berbunyi kembali. Anak-anak Jason telah sampai dan langsung memeluk ayah dan ibu mereka. Tanpa membuang waktu lagi karena semua tamu undangan telah datang, Jason langsung mengajak semua tamunya untuk makan dimeja makan. Sebelum acara makan dimulai, Jason menyempatkan diri untuk berpidato.

"Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untukku. Karena hari ini adalah hari dimana perayaan ulang tahun pernikahanku yang ke 13 tahun. Puji syukur kita panjatkan pada tuhan yang sudah memberikan dan membolehkan kita berkumpul pada acara malam ini. Jadi, kita mulai acara makannya," ucap Jason.

Mereka yang ada dimeja makan ini langsung menyantap makanan-makanan lezat yang ada dihadapan mereka. Ada kalkun panggang, kepiting saus tiram, lobster dan masakan-masakan mahal dan istimewa lainnya yang terhidang di meja makan besar ini.
***

Setelah perayaan makan malam itu, Jason mengajak istri dan anaknya untuk pergi berlibur kesebuah taman bermain terkenal dikota mereka. Anak-anak mereka sungguh sangat senang mendapatkan kabar seperti itu. Dan saat itu juga, mereka langsung pergi menuju tempat rekreasi itu.
***

Sesampainya disana, mereka langsung mencoba wahana anak-anak. Dari komedi putar hingga mencoba game melempar bola yang berhadiah boneka. Jason yang memiliki basic tentara melempar bola-bola itu dengan tepat. Ia menghadiahkan sebuah boneka beruang untuk anak perempuannya dan sebuah boneka kelinci yang sangat cantik untuk istri tercintanya.
Jason juga tak lupa membelikan sebuah mobil remote control untuk anak laki-lakinya. Mobil mainan yang bisa dibilang mahal. Mereka hampir seharian menghabiskan waktu mereka untuk mencoba wahana-wahana permainan yang ada ditempat permainan itu.

Semua tampak bahagia, namun saat tiba-tiba sebuah insiden terjadi. Saat itu kedua anak-anak mereka berlari kesebrang jalan untuk membeli hotdog. Jalanan yang cukup aman untuk dilalui berubah seketika, saat sebuah mobil melaju dengan kencang dan tak terkendali. Mobil itu menerjang beberapa orang termasuk kedua anak Jason.

Para korban yang terkena sambaran mobil terpenta jauh, begitu juga dengan anak-anak Jason. Jason yang melihat hal itu langsung berlari kearah kedua anak mereka yang terlempar beberapa meter dari tempat kejadian. Jason langsung merangkul anak laki-lakinya yang beberapa detik yang lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
Jason menangis sejadi-jadinya saat menyadari anaknya meninggal dalam pelukkannya. Selang beberapa menit, mobil ambulance tiba dan langsung mengangkat para jenazah untuk dilarikan kerumah sakit.
***

Sesampainya dirumah sakit, Jason mencoba menenangkan Samantha yang terus menangis menerima kabar bahwa kedua anak mereka telah meninggal. Jason terus memeluk istrinya yang sangat shock itu. Jason tak bisa banyak bicara, ia pun juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Samantha alami. Namun, ia mencoba untuk tetap tegar. Akhirnya Jason mengajak Samantha pulang untuk membenahi acara pemakanan kedua anaknya.
***

Acara pemakaman dilakukan, Samantha adalah orang yang paling histeris saat itu. Ia menangis dengan kencang sejadi-jadinya. Kedua orang tuanya dan orang tua Jason mencoba membujuk dan menghiburnya, namun semua nihil. Samantha masih menangis sampai jasad kedua anak mereka dimakamkan.
***

Kini, seminggu sudah setelah hari pemakaman itu. Samantha masih sering menangis, Jason yang melihat kesedihan Samantha hanya bisa memandang nanar kearah istri tercintanya. Ia sangat menyesali kenapa pada saat itu ia mengajak mereka berlibur dan tak menghabiskan waktu saja dirumah sambil bermain monopili atau catur.
Jason yang tak bisa menghibur Samantha meminta bantuan pada kedua orang tuanya. Dan akhirnya Samantha dibawa pulang kerumah orang tuanya untuk beberapa waktu. ***
Kesedihan semakin menyelimuti Jason, istrinya Samantha. Ditemukan bunuh diri didalam kamarnya. Jason semakin terguncang, ia tak menyangka sang istri akan mengambil jalan pintas seperti itu. Jason hanya bisa menangisi kepergian istrinya. Dan kini rumah itu semakin sepi, sesepi hati sang pemiliknya.
Bersambung...

Friday, September 16, 2016

Silent Syndrom

#Riddle
Author: Sad Anonim.
Level: Medium.


 



Toni sedang duduk disebuah ruangan yang sangat ia kenali. Ruangan yang berbentuk persegi dengan cat berwarna putih yang sudah kusam. Ia hanya duduk diam memandang lurus kedepan, entah apa yang membuatnya seperti itu.

Dan tiba-tiba suara gemerincing dari besi yang dipukulkan kedinding semen berbunyi. Di depan Toni, seorang pria bertubuh besar berdiri sambil menggenggam sebuah parang besar. Pria bertubuh besar itu perlahan berjalan mendekat.

Lalu pria itu mengangkat parang besarnya itu dan menebaskannya keleher Toni. Namun tampak ekspresi diwajah Toni tetap seperti awal, memandang lurus kedepan seolah-olah ia tak merasakan apapun, ia hanya diam. Darah mulai mengucur kebawah dan semuanya mulai menjadi gelap.


Silahkan jawab dikomentar.

Wednesday, September 14, 2016

The Photo Model

Author: Sad Anonim. 


Aku memiliki seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang model. Dia kerap kali diminta untuk berfoto dengan aksesoris seperti kelinci, tak heran. Suaminya adalah seorang fotografer yang terkenal dikotaku. Ya tak salah banyak orang yang menyebut mereka pasangan yang serasi. Namun, hal yang membuatku terganggu mulai terjadi. 

Tepatnya setelah dua tahun mereka menikah dan menjadi tetanggaku. Keributan mulai sering terdengar diantara mereka, entah apa yang mereka ributkan. Aku tak terlalu peduli, namun malam itu. Suara mereka mengganggu tidurku yang sedang nyenyaknya. Aku mendengar mereka meributkan pose foto. 

Hanya POSE!! sialan sekali mereka. Besoknya aku melihat sang suami pergi menggunakan mobil jeep miliknya, tiba-tiba terlintas dibenakku untuk menghampiri Claren istri dari Anton. Aku berniat ingin menanyakan perihal keributan mereka tadi malam yang sangat menggangguku. 

Ting-tong!! "Ya, tunggu sebentar." 

 "Oh hay Alex, ada apa?" tanya Claren. 

"Boleh aku masuk?" tanyaku. 

 "Tentu, silahkan," ucapnya. Aku langsung masuk dan duduk disofa ruang tamunya. 

 "Claren, apa aku boleh tau apa masalah kalian berdua? sungguh malam tadi aku tak bisa tidur karena kalian," tanyaku. 

Wajah Claren langsung berubah menjadi sedih, ia menceritakan semuanya. Masalah mereka adalah masalah yang sangat rumit, karena ia tak mau berpose fulgar. Astaga! aku bingung dengan Anton, sebegitu teganya ia memamerkan tubuh istrinya sendiri. Aku lalu menghampirinya dan memegang tangannya. 

"Itu hakmu, walaupun dia suamimu. Kau tetap memiliki hak atas ini," ucapku.

"Terima kasih Alex," ucap Claren sambil terisak dan memelukku. 

Tiba-tiba pintu terbuka, Anton tanpa babibu langsung memukul kepalaku yang langsung membuatku pingsan. 
*** 

Aku terbangun dengan kondisi terikat disebuah kursi. Mataku mencoba untuk terbiasa dengan kondisi ruangan yang cukup terang ini, aku melihat kesebelah kiri. Dan mendapati Claren yang berada dalam posisi yang sama denganku. 

"Kau sudah bangun rupanya!" ucap Anton. Aku menatap kearahnya dengan pandangan takut, karena aku melihat ia memegang sebuah pisau ditangan kanannya. 

"Tenang saja, aku tak akan melukaimu sekarang. Aku ingin bermain dengan penghianat ini," ucap Anton. 
Anton mendekat kearah Claren, ia menampar pipi wanita cantik itu dengan keras hingga aku bisa melihat bekas merah dipipi kanannya. 

 "Apa ini balasan untukku? aku hanya memintamu berpose panas dengan aksesoris telinga kelinci ini tapi kau menolaknya dan bahkan kau menghianatiku," ucap Anton. 

"Kau salah paham Anton, aku tak melakukan apa-apa," ucap Claren. 

 "Ya itu benar, kau salah paham Anton!" ucapku cukup keras. 

"Diam kau! baiklah aku akan memulai ini dari dirimu terlebih dahulu," ucap Anton. 
 Anton berjalan kearahku, ia mengangkat tinggi pisau itu dan menghunuskannya kearahku. 

Brakk!!! Tubuh Anton jatuh kesamping kanan, dibelakangnya aku melihat Claren dengan kursi plastik yang menjadi tempat ia duduk tadi. Entah dari mana Claren bisa melepaskan diri, tapi aku bersyukur selamat dari serangan Anton. Claren berulang kali memukulkan kursi itu kekepala Anton hingga darah keluar dari kepalanya. 

"Akhirnya aku bisa membunuhmu Anton!" ucap Claren. 

Claren mengambil pisau ditangan Anton dan.... 

Crugghh!!! 

Claren tersentak saat merasakan punggungnya ditusuk oleh benda keras. 
Nafasnya tercekat ditenggorokkannya dan akhirnya ia jatuh perlahan kelantai. 

 "Jangan pernah terlena Claren. Karena masih ada aku disini, dan ingatlah tak semua orang menyukaimu," ucapku. 

Tamat.

Sunday, September 11, 2016

Poltergeist Part-3: Wrong Way

Author: Sad Anonim



"Ckkiiiieettt...." 

Sam membuka pintu dan mendapati sebuah lorong gelap, decitan tikus menggema dilorong gelap ini. 

"Sial sepertinya aku salah jalan," ucap Sam. 

Lalu tanpa pikir panjang ia berbalik dan mencoba membuka pintu itu lagi. 

"Sialan... Kenapa pintu ini bisa terkunci?" umpat Sam. 
Ia mencoba mendorong pintu itu beberapa kali, namun tak ada hasil. Ia lalu berjalan kedepan mencari jalan keluar lain. 

Sepanjang lorong itu hampir semua pintunya terkunci, Sam hanya bisa membuka satu pintu terakhir yang saat ia membuka pintunya bau busuk menyeruak. 

Sam mencoba mencari tau asal bau ini, ia masuk dan menyorot kesegala arah. Hingga ia melihat sesuatu yang terbungkus kain, mirip seperti tubuh manusia. Sam berjalan kearahnya dan membuka kain penutup itu.

"Ciihhh, ternyata cuman patung porselen," ucap Sam. 

Sam berbalik dan saat ia hendak melangkah.

"Siapa yang kau bilang porselen?" Deg! jantung Sam terasa berhenti, ia mendengar dengan jelas suara itu.

Satu hal yang ia tau, dia hanya seorang diri disini. Tanpa menengok lagi Sam langsung berlari keluar dari ruangan itu. Namun hal yang sangat membuat Sam terkejut terjadi. Kini ia berada disebuah ruangan mirip istana, yang dibagian sisi kiri dan kanannya ada sepasang tangga yang menuju keatas. 

Sam tambah ketakutan dibuatnya. Buku yang ada disaku jaket Sam terbang dengan sendirinya, lalu buku itu terbuka. Buku itu menampilkan sebuah halaman yang terdapat gambar. 

"Sepertinya ini peta denah ruangan ini," ucap Sam. 
 "Ya kau benar." "Sii... Siapa kau?" tanya Sam. 

 "Aku bukumu Sam, disini aku akan mengantarkanmu kesebuah rahasia yang selama ini disimpan ayahmu," ucap buku itu.

"Jangan bercanda, mana ada buku yang bisa berbicara?" ucap Sam. 

"Kau yang jangan bercanda, apa tak cukup kau melihat hal-hal supranatural yang telah kau temui," ucap buku itu. 
"Sial sekarang aku mulau gila," ucap Sam. 

Tingg... Tenggg!! "Siapa itu?"

"Cepat lari, ambil tangga yang ada dibagian kiri itu Sam," ucap buku itu. 

"Kenapa memang? itu hanya suara bel," ucap Sam. 

 "Ya, bel kematianmu. Cepat jangan banyak tanya," ucap buku itu. 

Sam pun akhirnya mengikuti apa yang dikatakan buku itu, namun sebelum ia masuk kepintu yang ada diatas. Sam melihat sebentar kebawah karena ia mendengar suara pintu yang didobrak dengan paksa. 

Dari sana keluar seorang pria besar dengan kepala tertutup kain dan besi yang tertancap hampir diseluruh badannya. Sam buru-buru masuk kedalam pintu yang tak terkunci itu, ia sempat mendengar geraman yang bisa membuat bulu kuduk merinding. 

Ia terus berlari hingga mendapati sebuah gudang senjata. Bukan senjata pada umumnya, tapi ditempat itu terdapat kapak yang sangat besar.
Hampir semua senjata itu berukuran 3 kali lipat dari tubuh manusia. 

"Senjata ini, apa untuk raksasa?" tanya Sam. 

"Lebih tepatnya ini untuk menyiksa orang-orang yang ada dineraka," ucap buku itu yang kini sudah ada didalam saku jaket Sam.

"Neraka? ah aku semakin gila jika berlama-lama disini," ucap Sam. 
 Sam terus berjalan hingga ia menemukan sebuah catatan yang tergeletak diatas meja.

"Apa arti dari tulisan ini?" tanya Sam.

"Ini, kau harus menemukan senjata yang seukuran untuk membuka jalan menuju tempat aman. Dan kau harus melakukan hal itu sebelum suara bel terdengar. Kau harus melihat sekeliling, semua ada ditempat kau berasal." Sam pun mulai mencari, ia melihat kesekeliling. 

Ia melihat dibalik tumpukkan senjata-senjata besar itu. Namun ia tak menemukannya, hingga tak terasa suara bel itu terdengar. Dari belakang, Sam mendengar suara pintu yang coba didobrak dengan paksa. 

Sam buru-buru melihat kelubang kunci yang ada disamping pintu. Dan tiba-tiba dalam otak Sam terlintas kata-kata terakhir dari kertas yang ia temukan tadi.

"Semua ada ditempat kau berasal!" Sam lalu mengambil belati miliknya, lalu ia menancapkan belati itu dilubang kunci dan memutarnya. 

Pintu terbuka dengan perlahan, Sam merasa lega namun itu hanya sesaat. Dari belakang suara geraman yang membuat bulu kuduk berdiri terdengar, suara gemerincing rantai yang terseret dilantai terdengar memenuhi isi ruangan itu. 

Sam menengok kebelakang, dan mendapati pria besar yang ia lihat dibawah sedang mengambil kapak besar dan siap untuk mengejarnya. Sam cepat-cepat menarik pistolnya dan menembak kaki pria itu, namun puluru yang mengenai kaki pria itu seperti hanya angin lalu saja. Ia seperti tak merasakan apapun dan tetap berjalan kearah Sam. 

"Cepat lari bodoh!" ucap buku. 

Sam dengan cepat berlari dan menarik kembali pisau belati miliknya, ia langsung melompat saat melihat pintu yang baru setengah terbuka akan tertutup dengan cepat. 
Sepersekian detik saja Sam terlambat mungkin tubuhnya akan terjepit dipintu itu. 

"Syukurlah selamat," ucap Sam. 

Brakkk!!! 

Sam berbalik dan melihat.....

Bersambung

Saturday, September 3, 2016

Mia

Author: Sad Anonim. 






Saat itu aku berjalan ditrotoar selepas pulang sekolah, kau tiba-tiba menepuk pelan bahuku. Aku menoleh dan melihat wajah cantikmu sedang menunduk malu. Aku sedikit heran, sikapmu tak berubah saat bertemu denganku. 


Padahal sudah 3 bulan ini kita menjalin hubungan, tapi hal itulah yang membuatku makin menyayangimu. Aku paham apa yang kau mau, kau pasti ingin pulang bersamaku. Aku hanya bisa tersenyum saat melihat wajahmu memerah saat aku mengajakmu pulang bersama. Sambil berjalan, sesekali aku melihat wajah cantikmu. 

Kau bahkan tetap terlihat cantik walaupun aku melihatmu dari samping. Terkadang pandangan kita tak sengaja bertemu, aku tersenyum saat kau langsung membuang muka dan memukul pelan lenganku karena malu. Tak terasa kita sudah sampai, rumah kita hanya terhalang satu rumah milik Paman Arthur. 

Aku ingat betul sesaat sebelum masuk kedalam rumah, kau memintaku untuk menemuimu ditaman. Aku tersenyum lalu mengiyakan ajakkannya, tentu saja aku mau. Sebab hari ini adalah hari spesial untuk kami, hari dimana kami mengikat janji 4 bulan yang lalu. Baru beberapa langkah, kau kembali keluar dan mengatakan padaku akan datang jam 3 sore. 

Aku mengangguk lalu kembali meneruskan langkahku. Sesampainya dirumah, aku melepaskan seluruh pakaian seragamku, mengganti dengan pakaian rumah dan mengecheck tabunganku. Syukurlah, uang ditabungan ini cukup banyak. 
Aku mengambil setengahnya dan pergi membeli sekuntum bunga dan sekotak coklat kesukaanmu. 

Aku datang setengah jam lebih dulu, dan duduk di sebuah kursi nomer tiga yang menatap langsung kebahu jalan. Tempat dimana aku mengungkapkan perasaanku pada gadis cantik yang kini menjadi kekasihku. 

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, jalanan lumayan padat dan banyak orang berlalu lalang dijalan ini. Mataku berfokus mencari keberadaannya, dan disana... 

Diseberang jalan itu, berdiri seorang gadis cantik dengan setelan jaket pink dan celana jeans hitam berdiri diantara padatnya orang. Aku melihat tingkah lucunya yang menatap kekiri-dan kekanan saat hendak menyeberang dizebracross, saat kau berdesakkan dengan orang-orang itu. Aku yang kasihan melihatmu berdiri dan berjalan menuju bahu jalan, aku menunggumu disisi lain dari zebracross ini. Saat itu kau melihatku dan tersenyum sembari melambaikan tangan padaku. 

Aku membalas lambaian tanganmu dengan senyum. Entah kenapa saat itu begitu terasa lama, dan tiba-tiba. Senyum diwajahmu berubah, aku tak sanggup mengingat hal itu. Saat itu tubuhmu melayang terpental beberapa meter akibat sebuah mobil yang kehilangan kendali dan menabrak dirimu dan beberapa orang lain. 

Aku sungguh sangat shock, namun itu hanya sebentar. Aku tersadar dan langsung berlari kearahmu, memeluk erat dirimu. Sungguh aku tak bisa melihat dirimu dalam keadaan terluka sedikitpun. Dan kini tubuhmu dipenuhi luka dan darah, aku dengan cepat meminta tolong untuk memanggil ambulance. Dan mengantarkanmu menuju rumah sakit. 

*** "Ayah, ayah! ayo lampunya sudah hijau," ucap gadis kecil yang berdiri sambil memegang tangan kananku. 

Aku lalu tersenyum padanya dan meletakkan sekotak coklat dan sekuntum bunga Melati yang sangat disukai olehnya. Lalu aku melangkah menyebrangi zebracross ini dan menuju taman, aku duduk dibangku nomer 3. Dan entah itu hanya ilusi atau apa. Aku melihatmu berdiri djtengah jalan, tersenyum melihatku. Kau masih tetap sama, kecantikkanmu tak luntur oleh waktu. Tak seperti diriku yang kini sudah menua. Sungguh, betapa rindunya aku pada dirimu. Sampai aku mengkhayalkan bahwa kau masih berdiri disana. Mia.

Mobil Keramat

Author: Sad Anonim.



Aku ingat betul mobil itu telah memakan korban sebanyak 3 orang. Dan semuanya adalah kolektor barang antik, karena mobil itu adalah mobil tahun 80an. Entah kenapa setiap pemilik selalu mati dengan keadaan seperti tersentrum. Polisi kebingungan dengan kejadian-kejadian yang menewaskan mereka. Tak ada tanda penyerangan dan kerusakkan pada mobil, semua aman dan lancar.


Kami pihak showroom yang menjual mobil itu terpaksa menariknya lagi. Dan mengganti cat dari mobil itu agar bisa dijual dengan harga yang tinggi. Aku bekerja sebagai montir dishowroom itu. Entah kenapa aku merasa tak nyaman dengan mobil ini, seperti ada sesuatu yang berbahaya dalam mobil ini.

Tapi percuma saja jika aku memberitahukan hal ini pada pemilik showroom ini. Orang gendut yang kikir itu tak akan mau tau, yang terpenting ia mendapatkan uang untuk bermain wanita seperti biasa yang ia lakukan saat showroom ini tutup.

Iseng, aku membuat mobil itu menyerupai mobil antik milik atasanku itu. Kebetulan tipe mobil miliknya sama dengan mobil ini. Aku hanya perlu mengganti interior dan warna cat mobil ini menjadi hitam dan gold. Aku sengaja mengambil kunci mobil atasanku yang ia letakkan di saku jasnya, aku tak perlu takut ketahuan. Karena ruangan tempat dia menaruh jasnya adalah ruangan yang tak memiliki cctv. Aku lalu membuat kunci mobil itu sama persis dengan kunci mobil milik atasanku.

Dan saat hari menjelang malam, aku melihat dia menaiki mobil itu. Dia mengatakan padaku hendak pergi kepuncak untuk berkumpul dengan teman-temannya disebuah villa untuk pesta seks. Aku hanya tersenyum tipis mendengar tujuan hinanya itu. Dan aku membawa mobil antik miliknya yang asli kedalam showroom. Setelah itu aku pulang kerumahku untuk beristirahat.

***

Keesokkan paginya, kebetulan hari ini hari libur, aku hanya bermalas-malasan didepan tv. Dan saat aku tak sengaja melihat siaran berita. Aku melihat mobil yang tak asing.
Itu adalah mobil atasanku. Disana aku melihat polisi mengeluarkan tubuh atasanku yang sudah terbujur kaku. Kondisinya sama persis dengan 3 orang yang mati oleh mobil itu. Aku tersenyum puas saat melihat hal itu.

Dengan cepat aku berdiri dan berlari menuju kamarku. Disana aku membuka laci meja kerjaku dan mengeluarkan sebuah surat palsu yang kubuat dengan bantuan salah seorang pejabat pemerintah dikota ini.

Surat ini adalah surat harta kepemilikkan dari showroom dan semua kekayaan atasanku yang adalah seorang tanpa keluarga. Aku tertawa puas dengan mobil antik itu.

Mobil bekas milik ayahku yang kusetting jika dalam kondisi mesin yang panas akan membuat konsleting dengan tegangan yang tak membuat mobil itu terbakar tapi cukup untuk membunuh manusia saat sang pengemudi menekan klakson mobil. Dan sekarang aku akan memodifikasi mobil itu lagi. Dan akan mencari mangsa yang lebih kaya dari mereka ber empat.

HAHAHAHAHAHA.

Jangan Melanggar!

Author: Sad Anonim. 




Cerita ini diambil dari cerita creepypasta yang berjudul The Nail. 

"Waktunya untuk tidur, The Nail sudah dekat." 

"Tapi anak penurut tak perlu takut."

"Tutup mata kirimu, lalu yang kanan."

"Saatnya ucapkan selamat malam." 

Lagu itu selalu dinyanyikan saat menjelang tidur. Tak bosannya lagu itu dinyanyikan disebuah panti asuhan besar yang ada ditengah kota agar para anak kecil ini tertidur dikamarnya masing-masing. 
Hingga suatu saat, anak nakal yang bernama Terry iseng dan membalikkan lagu itu. Ia menutup mata kanannya terlebih dahulu dan menutup mata kirinya. Ia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa hal ini hanys lelucon.

Tak ada makhluk seperti yang diceritakan oleh pengasuhnya saat menyanyikan lagu ini, semua hanya untuk menakuti anak-anak disini dan membuat mereka cepat tertidur. Terry yang terkenal nakal itu lalu berlari berputar-putar dikamarnya hingga ia kelelahan dan berbaring dikasurnya. Terry menyanyikan lagu itu lagi dengan versi terbalik. 

Dan kini dari sudut matanya terlihat sosok tinggi berdiri diujung kamarnya. Terry sepontan menutup matanya, dan beberapa saat kemudian ia membuka lagi matanya. 
Ia tak melihat lagi sosok itu, namun saat matanya melihat kesamping kiri kasurnya ia sangat amat terkejut. Wajahnya menjadi pucat saat melihat sosok itu sudah berdiri disamping kasurnya dan mengangkat satu tangannya. Kuku-kuku jari tangannya sangat panjang dan terlihat seperti sebuah pisau. 

Terry yang penakut menjadi shock dan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia menatap lekat sosok itu, kini tangan sosok itu sudah hinggap disamping kiri mata Terry. Perlahan jari tajam itu menempel disela matanya dan menekan masuk hingga membuat Terry berteriak. 
Namun dengan cepat sosok itu menutup mulut Terry dengan tangan kirinya. Kuku itu melesat masuk kedalam mata kiri Terry lalu sosok itu mengangkat tangannya hingga mata kiri Terry ikut keluar karena melekat dikuku sosok itu. 

Kini sosok itu melihat Terry yang sekarat. Ia lalu merobek baju Terry, dengan kukunya sosok itu menarik garis lurus dari dada Terry hingga keperutnya. Perlahan kuku-kuku tangan sosok itu menusuk masuk kedalam perut Terry dan menariknya kesisi yang berlawanan. Sosok itu dengan perlahan mengambil ginjal, hati dan jantung milik Terry. 

Kemudian sosok itu memasukkan semua organ dalam Terry itu kedalam sebuah box khusus yang ia letakkan disamping sosok itu. Sosok itu lalu berjalan menuju pintu dan memutar knopnya. Ia lalu berjalan menelusuri lorong hingga berhenti didepan sebuah pintu, ia mendorong pintu itu dengan perlahan dan disana sudah menunggu dua orang perawat. 

"Bagaimana apa semua berhasil?" tanya seorang perawat yang bernama Lisa. 

"Semua sudah selesai, anak itu melanggarnya dan kita mendapatkan organ dalamnya untuk membiayai panti asuhan ini," tanya sosok itu yang adalah seorang pria berjenggot yang bernama Justin. 

"Kini giliranmu mengambil anak nakal yang ada dijalan untuk korban kita selanjutnya Cecil," ucap Justin sambil menepuk pelan bahu perawat yang berambut pirang itu.

Poltergeist Part-2: I'am Afraid

Author: Sad Anonim




"Bu... Buku ini?" 

Sepintas kenangan masa lalu Sam berputar kembali diotaknya. Ia mengingat saat dimana ia bermain dengan ayahnya diruang tengah. Mereka sedang bermain video game, hari yang begitu panas membuat mereka berdua malas untuk keluar rumah. 
Sam selalu menang dari ayahnya dalam permainan tinju yang mereka mainkan. Tak ada yang aneh hari itu, sampai ayahnya memberikan sebuah bungkus kado kecil. 
Kado itu adalah hadiah untuk hari ulang tahun Sam yang bahkan Sam telah lupa.

"Ini untukmu nak!" ucap Ayah Sam sambil mengelus pelan kepala anaknya.

"Ini apa ayah?" tanya Sam.

"Bukalah, simpan dengan baik ya. Ini akan sangat membantumu nanti," ucap Ayah Sam. 

Sam lalu membuka hadiah itu, sebuah buku tebal bercover tulisan aneh membuat Sam bertanya-tanya.

"Jangan bingung, sampai saatnya tiba kau akan mengetahui apa manfaat buku ini," ucap Ayah Sam sambil mengelus pelan kepala anaknya. 

Kini kembali kedunia nyata, Sam membuka lembaran pertama buku itu. Ia ingat betul buku itu menghilang bersama ayahnya 10 tahun yang lalu. Dihalaman pertama buku itu tertulis dengan huruf besar. 

 "Kau tak boleh kembali, kau akan bertemu dengan ayahmu." Sam mengernyitkan dahinya, ia sungguh penasaran dengan buku dan tempat ini. 

Namun, ia tetap mengingat tugasnya disini. Untuk mencari tempat penyimpanan narkoba. Sam lalu berdiri, ia keluar dari ruangan itu sambil melihat kesekeliling. Ia tak ingin mengalami kejutan dari makhluk yang bahkan tak pernah ia percayai. 
Perlahan Sam menyorotkan lampus senternya kearah lorong yang sangat gelap itu. Entah dari mana tiba-tiba suara tetesan air terdengar memenuhi lorong gelap itu. Dengan sangat perlahan, kaki gemetar Sam melangkah menuju suara asing itu. 

Bohong jika orang-orang tak takut dengan keadaan seperti Sam saat ini. Bahkan tentara yang memiliki prestasi dipeperanganpun pasti akan gemetar. Satu pintu membuat Sam penasaran. Pintu itu berwarna coklat, berbeda dengan pintu yang lain. Sam berjalan mendekat selangkah demi selangkah, dan saat ia hendak menyentuh gagang pintu itu. 

Angin dingin langsung menerpa tubuh Sam, dan saat ia menghadap kekanan. Sebuah wajah yang hancur sebelahnya dengan mulut yang berbentuk O.
Wajah Sam langsung pucat, hal yang sangat tak ia inginkan benar-benar terjadi. Hal yang sering ia liat difilm-film jepang ataupun horror dari negara lain. Setelah itu sosok itu berteriak dengan nyaringnya disamping telinga Sam. 

Sam langsung terduduk lemas, semua persendiannya seperti lolos dari tubuhnya. Perempuan itu mendekat kearah Sam, namun saat Sam memejamkan matanya karena takut. Semua menjadi hening! Sam tetap memejamkan matanya untuk beberapa saat sebelum ia membukanya. 

Dan..... 

Wajah itu tepat didepan hidung Sam dengan posisi terbalik. Sam tak tau lagi harus apa, sungguh ia sangat ingin pingsan saat itu namun tubuhnya tak mau melaksanakan apa yang otaknya pikirkan. Tiba-tiba buku itu melayang keluar dari jaket yang dikenakan oleh Sam. 

Sosok itu berteriak seperti orang yang ketakutan dan menghilang begitu saja, Sam keheranan dengan semua itu. Ia lalu mengambil buku yang masih melayang itu dan menyimpannya kembali. Sungguh ia sangat ingin berlari keluar dari tempat ini. 

Namun rasa penasarannya lebih besar dari ketakutannya, ia memutar pelan knop pintu itu dan mendorongnya. Sebuah tangga terpampang didepan Sam, perlahan ia menaiki satu-persatu anak tangga itu. Hingga ia menemukan sebuah pintu besar dengan dua knop yang sudah berkarat. 
Sam mengeluarkan dua buah peniti, untuk membuka kunci dipintu itu. Sam yang sudah berpengalaman dalam membuka pintu yang terkunci dengan mudah membukanya. 

Dan saat ia mendorong pintu itu, aroma tak sedap langsung menusuk hidung Sam. Bau yang bahkan lebih busuk dari mayat yang telah berhari-hari dibiarkan. Sam tak menyangka, gedung yang terlihat kecil ini ternyata sangatlah besar. Sam mengarahkan lampu senternya, pemandangan yang sangat mengerikan terlihat. 

Dinding-dinding dipenuhi dengam bercak darah dan beberapa organ tubuh manusia yang tergantung dan tergeletak sembarangan. Sam tak akan muntah dengan hal ini, karena ia pernah melihat yang bahkan lebih buruk dari kondisi ini terkecuali saat ia bertemu makhluk astral tadi. Sam menarik pistolnya dari sarung pistol dipinggangnya, dengan kondisi siap menembak Sam berjalan dan melihat lorong yang terbelah menjadi dua. 

Dipersimpangan lorong itu terdapat dua buah pintu yang berwarna putih dan coklat. Sam memilih pintu berwarna putih, pintu itu sebenarnya adalah pintu yang salah. 
Dan pintu itu akan mengantarkan Sam kesebuah hal yang lebih mengerikan dan lebih membingungkannya lagi. 

Bersambung (Part-2).