This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, October 5, 2016

The Art Of Case ( The Psycho )

Author: Sad Anonim

 Prolog.

Seorang pria bernama Frank Anderson Vinch yang dulu berprofesi sebagai seorang detektif, harus berhadapan dengan sebuah situasi yang sangat membingungkan untuknya. Dia harus menjadi detektif kembali dan menyelidiki siapa pembunuh istrinya. Dalam investigasinya ia sedikit demi sedikit mendapati hal-hal yang sangat membuatnya terkejut dan bahkan tak ia sangka. 
***

Part-1: Sweet Home.

Frank yang kini telah pensiun dari dunia kedetektifan diusia muda membuat banyak orang bertanya. Kenapa ia berhenti diumurnya yang masih 45 tahun ini. Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya ia tanggapi dengan senyuman dan sepatah kata, bahwa ia hanya ingin hidup damai dengan bisnis yang sudah 5 tahun ini ia bangun.

Kehidupan Frank bisa dibilang sangatlah berkecukupan, dan sangat beruntung. Dia memiliki istri yang cantik, rumah yang terbilang besar dan mewah. Usahanya juga sangatlah berkembang, bahkan kini ia sudah memiliki 2 hotel berbintang ditengah kota. Semua ia dapatkan dari profesinya sebagai detektif dan sebuah restoran yang kini telah memiliki sedikitnya 20 cabang.

"Sayang apa kau jadi pergi memancing dengan Pak Johanson?" tanya Susan.

"Ya, aku akan memancing selama 3 hari," jawab Frank.

"Apa perlengkapanmu sudah siap?" tanya Susan lagi.

"Ah iya, hampir saja aku lupa. Aku harus membeli sebuah joran lagi," ucap Frank.

Dengan buru-buru Frank berlari kecil kekamarnya, ia mengambil dompet dan kunci mobil. Lalu ia berlari lagi menghampiri istrinya, ia mencium pipi istri yang sangat ia cintai itu dan pergi menuju toko peralatan pancing.
***

Sambil mengendarai mobilnya, Frank mendengarkan lagu-lagu yang diputarkan oleh stasiun radio yang sinyalnya berhasil ditangkap oleh antena radio di mobil Mewahnya ini. Hampir 30 menit ia menghabiskan waktunya dijalan yang tak terlalu ramai. Ia menstopkan mobilnya disebuah parkiran yang kosong, dengan perlahan ia keluar dan berjalan menuju toko peralatan pancing.

"Hay Frank," sapa sang pemilik toko.

"Hay, Alfred. Apa kau jadi ikut untuk hari sabtu nanti?" tanya Frank.

"Ya, tentu ini hal yang paling aku tunggu," ucap Afred.
 Frank tersenyum dan mengacungkan jempolnya, ia lalu berjalan kesebuah rak yang berisi beberapa joran pancing kualitas terbaik.

"Harga joran ini berapa?" tanya Frank sambil menunjukkan sebuah joran berwarna abu-abu.

"Itu 96 dollar Frank, tapi untukmu 75 dollar saja," ucap Alfred.

Frank lalu mengambil satu joran pancing itu, ia kembali berjalan menuju tempat umpan buatan. Ia berencana untuk membawa 10 umpan buatan itu untuk memancing sabtu nanti. Ia memilih tipe umpan tiruan dari sebuah ikan tongkol kecil, lalu ia mengambil sebuah kantong plastik untuk mengambil umpan hidup.
Ia memilih umpan hidup dari jangkrik dan cacing besar yang entah ia sendiri tak tau namanya.

"Semua ini berapa kawan?" tanya Frank.

"Semuanya 375 dollar Frank," ucap Alfred.

Frank lalu mengambil dompetnya, ia menarik keluar sebuah kartu kredit yang terselip disalah satu kantong didompetnya. Lalu ia menyerahkan benda tipis yang terbuat dari plastik itu pada Alfred. Setelah selesai membayar, Frank langsung bergegas pulang untuk makan siang.
***

Sesampainya dirumah, ia langsung disambut sang istri yang sedang berduduk santai didepan teras rumah mereks sambil membaca sebuah majalah dan ditemani secangkir teh lemon.

"Sayang, apa makanan sudah siap?" tanya Frank.

"Sudah, isshhh kau ini. Datang-datang langsung menanyakan soal makanan," ucap Susan sambil memasang wajah cemberut.

Frank yang melihat perubahan istrinya hanya tersenyum, ia lalu berjalan mendekat kearah Susan dan langsung menggendong tubuh mungil Susan, wanita yang sangat ia cintai. Frank lalu membopong tubuh Susan menuju ruang makan.

"Uhh tubuhmu ternyata berat juga ya," ucap Frank.

Susan yang mendengar hal itu hanya bisa memukul-mukul pelan dada bidang Frank sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah. Frank berjalan melewati ruang tengah, melewati sebuah pajangan yang berbentuk lukisan yang cukup besar. Di lukisan itu ada dirinya, Susan, dan kedua anaknya Charles dan Claire yang kini sedang melanjutkan pendidikkan mereka diluar kota dan tinggal bersama kakek dan nenek mereka.

Sesampainya meja makan, Frank mendudukkan Susan kesalah satu kursi. Dan ia pun duduk berhadapan dengan Susan, meja sepanjang 1,5 meter itu dihiasi dua buah lilin yang dinyalakan oleh Frank. Kebiasaan mereka saat makan berdua.

"Mmm... Kau memasak semua ini untukku?" tanya Frank.

"Yup, ini semua makanan kesukaanmu bukan?" tanya Susan.

Diatas meja itu terdapat 4 buah masakkan, dari kepiting saus tiram, pasta lobster, steak, dan nacos. Semua itu adalah makanan kesukaan Frank. Frank langsunh melahap semua makanan itu secara rakus, ia terlihat seperti orang yang tak makan selama 3 hari. Susan yang melihat hal itu hanya bisa tertawa, ia tak menyangka Frank akan menjadi seperti ini.
***

Hujan turun dimalam yang cukup menusuk tulang, ditambah hembusan angin yang cukup kencang. Frank dan Susan duduk disofa yang berada didekat perapian sambil menonton sebuah film romantis. Dengan manjanya Susan menyandarkan kepalanya kedada Frank, Frankpun membelai lembut rambut wanita yang sudah 25 tahun menemaninya itu. Ya mereka memang menikah muda, mereka menikah saat Frank berumur 20 tahun dan Susan 18 tahun.

"Kau masih saja ingat dengan film ini," ucap Susan.

"Ya, tapi semoga saja kisah cinta kita tak terpisah seperti dalam film titanic ini," ucap Frank.

Susan merapatkan pelukkannya, entah kenapa ucapan Frank barusan membuatnya sedikit takut. Frank dan Susan sesekali bercanda sambil menanti film itu habis, Frank sangat bersyukur ia bisa mendapatkan Susan yang menjadi primadona dikampus itu. Otak Susan yang pintar menjadikannya bisa memasukki universitas saat berumur 16 tahun.

"Kau sangat cantik Susan," ucap Frank sambil mengelus pelan pipi kiri istrinya itu.

"Jangan coba menggodaku Frank," ucap Susan sambil tersenyum.

Frank mendekatkan wajahnya kearah wajah Susan, perlahan keduanya saling mendekatkan bibir mereka. Dan merekapun menutup malam itu dengan suasana yang sangat romantis.
***

"Apa kau akan membawa semua ini sayang?" tanya Susan.

"Ya, aku tak tau kondisi disana seperti apa. Ini yang pertama kalinya aku kesana," ucap Frank.
Susan perlahan mendekati Frank, ia lalu memeluk Frank dari belakang.

"Hati-hati," ucap Susan sambil membalik tubuh Frank dan mencium Frank dengan mesra.

"Ya, aku pasti akan berhati-hati. Doakan aku supaya mendapatkan ikan yang banyak," ucap Frank.

Susan hanya tersenyum, tak lama suara klakson mobil berbunyi beberapa kali. Menandakan Johanson dan Alfred sudah datang. Frank buru-buru masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.

"Bagaimana rencanamu?" tanya Johanson.

"Kita akan memulainya," ucap Frank sambil tersenyum dan mengaluarkan sebuah jorang
pancing.
***

Bersambung.

Saturday, October 1, 2016

House Of Sorrow Part-3: Who is true?

Author: Sad Anonim.



Jason kembali kerumahnya, ia berbaring diatas kasur empuknya setelah membersihkan diri. Ia menatap kelangit-langit, entah apa yang ada didalam pikirannya. Tiba-tiba ia tertawa sendiri, ia terus tertawa. Tatapan matanya yang biasa tajam berubah menjadi kosong. Tawanya sangatlah tulus dari dalam dirinya.

Tak sengaja, salah seorang pelayan melewati kamar Jason. Ia mendengar suara tawa Jason yang tanpa henti. Khawatir dengam keadaan tuannya, ia segera menelpon orang tua Jason untuk menemui anak mereka.

"Tuuutttt tuuuttt..... Ckrekkk... Hallo, nyonya bisakah anda kemari. Saya menghawatirkan anak anda yang tak henti-hentinya tertawa," ucap pelayan itu.

"Apa? ya baiklah aku akan segera kesana," ucap ibu Jason.
***

Ibu Jason dengan cepat mengendarai mobilnya menuju rumah anaknya. Ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya, semoga sajak kejiwaan anaknya tak benar-benar terguncang.

"CKKIITTT...."

Suara dari rem mobil mewah berjenis SUV itu terdengar cukup nyaring. Dengan buru-buru ibu Jason keluar dan membanting pintu mobilnya cukup keras, lalu ia berlari cukup cepat dan langsung masuk kerumah anaknya yang lumayan besar ini. Diumur yang tak lagi muda ini, ibu Jason masih cukup kuat untuk mengitari rumah yang hampir setengah hektar ini.

"Tok...Tok... Jason, apa kau ada didalam nak?" tanya Ibunya.

Namun Jason hanya diam, Kinna yang khawatir mencoba mendorong pintu itu. Dan untungnya pintu itu tak terkunci, perlahan Kinna mendorong pintu itu untuk melihat kondisi anaknya.

"Jason ada apa nak?" tanya ibunya.
Jason yang merasa punggungnya ditepuk langsung berbalik.

"Oh bu, maaf aku tak mendengar. Aku sedang asyik bermain game ini," ucap Jason sambil melepas earphone dari kedua telinganya.

"Ibu khawatir karena kau tertawa terus dari tadi," ucap Kinna.

"Hehe, maafkan aku bu," ucap Jason memaksakan senyumnya.
Ibu dan anak itu lalu melanjutkan pembicaraan mereka.
***

Dilain hal, disebuah rumah yang sudah hangus terbakar. Polisi dan pemadam kebakaran mencoba mencari korban yang mungkin saja jasadnya masih bisa ditemukan. Hampir seharian mereka telah mencari, namun tak satupun hasil yang mereka temukan.

"Siapa yang melakukan hal ini pada hakim Thomson?" tanya opsir Anderson.

"Entahlah, mungkin seseorang yang sangat membencinya. Kau taukan hakim Thomson adalah hakim yang korup?" ucap Kepala pemadam bernama Garry.

"Kau benar, tapi tetap saja kita harus mencari tau hal ini," ucap Andrson.

Sibuk kedua kepala instansi itu berbicara, tiba-tina salah satu anak buah mereka menghampiri mereka dan melaporkan bahwa mereka tak menemukan apa-apa. Akhirnya pencarian bukti ditempat itu dihentikan karena hari yang sudah menggelap.
***

Seiringnya waktu, kasus itu masih belum terpecahkan. Terhitung sudah sebulan berlalu, tapi semua bukti bak ditelan bumi. Jason yang mendengar berita itu hanya tersenyum sambil menyeruput coklat panas yang sekarang ada didalam cangkir yang ia pegang.
Pandangan mata Jason menerawang keatas. Tangannya merangkul sang istri dan kedua anak mereka.

"Aku sudah berhasil," ucap Jason, sambil menatap wajah istrinya yang sekarang duduk disampingnya.

"Ya, kau sudah membalaskan dendam dan hak kami sayang," ucap Samantha.

Jasonpun tersenyum, ia membelai rambut indah istrinya itu. Namun, wajah istrinya semakin mengabur dan beberapa detik kemudian menghilang dari pandangan Jason. Begitu juga dengan kedua anaknya yang sedang tersenyum padanya. Jason mencoba menangkap tangan mereka, namun seolah-olah tangannya tak bisa menyentuh tangan anaknya. Setiap ia mencoba, maka tangannya akan menembus tangan anaknya. Mata Jason membulat, ia tak ingin lagi kehilangan mereka.
***

"Tidakkk..... Tidak......."

"Tenanglah, suster cepat ambilkan obat penenang," ucap seseorang berpakaian serba putih.

"Tidak... Jangan tinggalkan aku lagi... Samantha, anak-anak... Kumohonn," teriak Jason.

Dua perawat yang menahan kedua tangan Jason sampai kuwalahan dibuatnya. Untung saja suster cepat membawakan sebuah suntikan yang berisi obat penenang. Dokter dengan cepat menyuntikkan obat itu pada Jason dan membuat Jason tenang dan tertidur.

"Bagaimana kondisinya dok?" ucap Samantha.

"Dia sangat depresi nyonya, hal apa yang menyebabkan pasien menjadi depresi berat seperti ini?" tanya sang dokter.

"Ini semua terjadi setelah ia mendapat kabar bahwa sang ibu dan anak-anaknya mengalami kecelakaan mobil dan menewaskan mereka dok," ucap Samantha.

"Oh, aku turut berduka atas kejadian itu," ucap dokter.

"Apa aku boleh menjenguknya dok?" tanya Samantha.

"Tentu," jawab sang dokter sambil mempersilahkan Samantha masuk.

Disana Samantha melihat mantan suaminya duduk sambil menatap kosong kearah jendela berlapis baja.

"Jason, maafkan aku... Aku tak bisa menemanimu selamanya, aku tau. Kau sangat sayang pada mendiang ibu dan anak-anak kita, tapi sadarlah mereka sudah tenang dialam sana," ucap Samantha.

"Ini semua gara-gara Abigail!" ucap Jason.
Samantha lalu memeluk Jason.

"Jason, Abigail, Thomson, Tia, Nina, opsir Anderson, dan kepala pemadam Garry semuanya tak ada. Mereka semua hanya khayalanmu," ucap Samantha.
Samantha lalu menceritakan semua kebenaran yang terjadi pada Jason.
***

Saat itu Jason sedang menunggu, setelah menyiapkan acara makan malam spesial yang ia siapkan untuk sang istri Samantha yang marah padanya karena ia dikira menyelingkuhi Samantha. Lama Jason menunggu, namun Samantha tak kunjung datang. Akhirnya Jason mencoba untuk menjemput Samantha yang pasti berada dirumah orang tuanya.

Dengan mobil sport miliknya Jason melaju dengan cepat menuju rumah orang tua Samantha. Sesampainya disana, ia tak melihat mobil orang tua Samantha. Namun yang ada malah mobil asing yang terpakir bersebelahan dengan mobil putih keluaran BMW itu yang Jason tau pasti adalah milik Samantha.

Perlahan Jason mendekati rumah itu, dengan sangat pelan ia membuka pintu depan yang untungnya tak terkunci. Keadaan rumah sangatlah sepi, Jason yang sudah berfikir negatif langsung membuat pemikirannya itu. Perlahan Jason menaiki tangga menuju kelantai dua, tempat dimana kamar Samantha berada.

"Uhh... Ya.. Teruskan Niko... Pria bodoh itu masih saja percaya denganku yang sudah
berselingkuh denganmu," ucap suara yang sangat dikenal Jason, itu adalah suara Samantha.
Perlahan Jason mengintip dari pintu yang tak tertutup rapat itu. Mata Jason terbelalak melihat apa yang sedang dilakukan istrinya dengan seorang pria yang berada diatas tubuhnya.

"Hahaha, rencana kau menuduhnya selingkuh itu sangat berilian bukan?" tanya Niko.

Jason yang mendengar itu langsunh naik pitam. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung masuk dan menghajar pria bernama Niko itu sampai pingsan. Samantha yang melihat itu hanya bisa diam, ia sangat shock atas kedatangan Jason.
Jason yang melihat Niko sudah terkapar langsung meninggalkan mereka berdua. Dengan cepat ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***

Dalam perjalanan pulang, Jason mendapat sebuah telepon.

"Ya hallo," ucap Jason.

"Apakah bapak bernama Jason Vinch?" tanya seseorang dari telepon.

"Ya saya sendiri, ini dengan siapa ya?" tanya Jason.

"Kami dari rumah sakit Gabriella pak, ingin mengabarkan bahwa saudari bernama Kinna Vinch dan dua anak mengalami kecelakaan mobil," ucap pihak rumah sakit.

"Apa? baiklah aku akan segera kesana," ucap Jason.
***

Sesampainya disana, Jason langsung berlari menuju ruangan tempat ibu dan kedua anaknya dirawat. Jason langsung bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan itu.

"Bagaimana kondisi mereka dok?" tanya Jason.

"Maaf pak, kami sudah berusaha," ucap dokter itu.

Jason yang mendengar jawaban sang dokter terduduk lemas, ia memandang kearah pintu kamar rumah sakit yang ada didepannya. Lama Jason terdiam, dan saat kesadarannya kembali ia langsung berlari kearah jasad ibu dan dua anaknya. Jason menangis dengan kencang melihat orang-orang yang paling ia sayangi terbujur kaku, dokter dan perawat yang melihat kondisi Jason mencoba menenangkan Jason.
***

Pemakaman sudah dilakukan, disebuah rumah yang sengaja dipesan Jason untuk tempat pemakaman ibu dan dua anaknya. Ayah Jason yang seorang bisnisman juga hadir melihat istrinya untuk yang terakhir kalinya. Semua orang yang datang dalam acara itu menangis karena mengenang jasa dari Kinna yang banyak membantu mereka.

Namun, hanya Jason yang menatap kuburan ibu dan anaknya dengan pandangan kosong. Jiwanya terguncang dan setelah pemakaman usai, ia mengamuk. Memukul, menendang siapa saja yang ada dihadapannya. Melihat hal itu ayah Jason langsung memanggil pihak rumah sakit setelah berhasil menghentikan Jason dengan bantuan 2 security.

Didalam kamar khusus disalah satu rumah sakit jiwa yang terkenal, Jason kerap berkhayal dan berbicara sendiri. Ayahnya yang melihat itu merasa kasihan dan ia meminta dokter untuk menjaga anak sulungnya tersebut. Dua adik Jason juga turut bersedih melihat sang kakak yang menjadi gila seperti itu.
Sementara Samantha, ia akan mendapatkan warisan dari ayah Jason dan membiarkan Samantha untuk menikah lagi dengan pria lain.
***

Selesai menceritakan itu semua, Samantha langsung beranjak pergi dari kamsr Jason. Ia sengaja menceritakan hal itu agar Jason selalu menjadi gila.
***

Tamat.

Insomnia

Author: Sad Anonim.



Disini, aku akan menceritakan sebuah kisah yang terjadi pada seorang penderita insomnia.
Entah kenapa, malam ini perasaanku sangat tak nyaman. Seperti ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi padaku. Dari tadi aku hanya mondar-mandir didepan jendela kamar yang kubuka gordennya. Sesekali aku melihat keluar jendela, namun hanya gelapnya malam yang menemaniku saat ini. Lampu temaram yang dipasang ditiang-tiang lampy dijalan hanya menambah kesan horor.

Aku yakin, tak akan ada orang yang mau keluar pada malam hari seperti ini. Entah kenapa, ini yang pertama kali untukku. Merasa tak nyaman atas penyakit insomnia yang aku derita sejak 1 bulan yang lalu. Merasa tak nyaman saat bangun sendiri ditengah malam yang gelap ini.
Hampir setengah jam aku berjalan mondar-mandir. Iseng aku mengambil teleskopku dan memasangnya didepan jendela kamarku. Aku meneropong kearah rumah yang ada diseberang jalan, sebuah rumah bertingkat dua bergaya minimalis yang ditinggali dua orang gadis yang sangat cantik dan sexy dikompleks ini.

Sungguh, bahkan akupun tertarik pada mereka. Aku mendekatkan mataku kearah corong teleskop ini, mencoba mencari dan melihat kondisi rumah yang lampunya masih menyala itu.

"Ah mungkin mereka sedang berpesta dengan pacar mereka," ucapku dalam hati.

Aku terus mengamati kondisi rumah itu. Lama aku hanya melihat jendela kosong, namun saat aku hendak menghentikan kegiatan mengintipku. Aku melihat seseorang yang berjalan mengendap-endap dari satu jendela ke jendela yang lainnya.

Lalu orang itu berhenti disebuah jendela yang menurutku adalah kamar dua gadis itu. Orang itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mataku terbelalak melihat bentuk bayangan dari benda yang dipegang orang itu. Itu sebuah pisau dapur. Orang itu lalu mengayunkan pisaunya kebawah seperti menghujam sesuatu, lalu lampu dijendela itu mati.

Dengan spontan aku langsung menutup jendela kamarku dan mematikan lampu kamarku yang menyala. Aku berharap orang itu tak melihatku. Sesekali aku mengintip dari celah gorden yang aku buka sedikit untuk melihat orang itu, apakah ia akan berjalan menghampiri rumahku seperti halnya adegan difilm-film horror yang sering ku lihat.

Namun, untung aku tak melihat pria itu. Aku lalu memutuskan berbaring dikasurku. Setengah jam aku memandang lurus ke plafon rumahku yang dicat berwarna putih ini. Dan saat mataku hampir terlelap, aku mendengar suara pintu belakang rumahku yang terbuka. Aku langsung melompat dan mengambil pemukul baseball yang biasa aku simpan dibawah kasur.
Dengan perlahan aku keluar dari kamarku yang berada dilantai dua. Aku turun dan langsung menyalakan lampu.

"Ah ternyata kau Carlos, aku kira siapa," ucapku.

"Haha, Eric apa kau ingin memukulku dengan tongkat itu?" tanyanya.

"Ya, bisa dibilang begitu. Apa kau mendapatkan dua gadis itu?" tanyaku.

"Ya, lihat lah ini," ucap Carlos sambil membuka dua karung yang sudah ia letakkan dilantai entah kapan.

"Bagus, kita bisa menjadikan mereka budak kita, bawa mereka kelantai bawah," ucapku.

"Cih.. Kau hanya bisa memerintah. Angkatlah satu, kau kira ini enteng?" ucap Carlos.

"Ya ya, baik lah," ucapku dengan berat hati.

Monday, September 26, 2016

House Of Sorrow Part-2: Ego

Author: Sad Anonim.


Hari-hari berlalu, Jason yang kini tinggal sendirian. Membuat dirinya terus dilanda kesedihan, tak ada lagi canda tawa dari dua anaknya. Tak ada lagi seseorang yang memeluknya kala ia kedinginan saat tidur. Tak ada lagi kehangatan yang selalu ia temukan didepan meja makan saat ia sarapan. Dan tak ada lagi yang menyambutnya dengan senyuman manis untuk menghilangkan penatnya setelah ia lelah seharian berkerja.

Hampir setiap hari, ia pergi dan duduk melamun didepan makam anak dan istrinya yang sengaja disusun berdampingan. Air mata menetes dari pelupuk matanya, kala ia mengingat kenangan manis yang kini hanya menjadi pelengkap penderitaan yang ia rasakan. Dan tak terasa, hari ini adalah hari dimana sidang akan dimulai.

Sidang perihal kejadian yang merenggut nyawa kedua anaknya. Ia mengutuk keras agar sang tersangka dihukum seberat-beratnya. Sengaja ia mendatangkan pengacara handal dari luar kota untuk memenangkan sidang ini. Jason selalu datang menghadapi sidang demi sidang, hingga hari penentuan tiba.

Saat itu Jason dengan setelan jas hitamnya duduk santai dengan secangkir kopi diruang persidangan. Beberapa orang yang keluarganya menjadi korban juga turut hadir, sidang berjalan sengit. Hingga hakim mengatakan keputusannya.

"Terdakwa akan dihukum dengan penarikkan SIM dan hukuman selama 1 bulan," ucap Hakim sambil mengetuk palunya.

Semua orang yang ada diruangan itu sontak berteriak. Mereka tak setuju dengan apa yang diputuskan hakim, terlebih dengan Jason. Ia yang paling emosi, bahkan ia sampai melemparkan gelas kopi yang masih terisi itu kehakim. Para petugas keamanan terpaksa turun tangan untuk menghentikn kegaduhan ini.
****

Beberapa hari setelah persidangan terakhir itu, Jason duduk sambil melihat kesmartphonenya. Ia baru saja mendapat info dari informannya tentang orang yang menabrak kedua anaknya. Ternyata orang itu adalah anak dari hakim dikota ini, namanya adalah Abigail.

"Hmmm... Pantas saja ia tak dihukum secara adil," ucap Jason.

Ia mengalihkan pandangan matanya ketaman indah yang kini terasa hampa baginya. Ia menatap taman yang ia desain dengan istrinya dulu sambil mengkhayal. Mengkhayalkan dua anaknya sedang berlarian karena dikejar sang istri. Mereka tertawa dengan lantangnya karena permainan kecil itu.

Hati Jason semakin miris, air mata kembali menetes. Ia menutup matanya dan entah dari mana, tiba-tiba terdengat seseorang yang berbicara dan memanggil dirinya.

"Jason, apa kau hanya ingin menangisi anak dan istrimu? apa kau tak ingin membalaskan semua ini? apa kau hanya pasrah menerima keadaan? oh Jason! Kau lupa siapa keluarga kita. Kau lupa siapa kakek buyutmu," ucap suara itu, suara yang berasal dari dalam dirinya.
Jason lalu membuka matanya.

"Ya, itu benar!" ucap Jason.

Ia langsung berdiri, ia menelpon informannya untuk memberikan informasi yang lebih lengkap lagi tentang keluarga itu. Mungkin saat ini Jason sudah sampai keambang batas garis kewarasannya. Yang ada didalam pikirannya hanya menuntut pembalasan atas semua ini. Setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, Jason dengan cepat menyusun rencana untuk 2 minggu kedepan.
Hari dimana Abigail akan dibebaskan dari tahanan.
***

Jason duduk didalam mobil bekas yang ia beli sengaja untuk memata-matai kehidupan dirumah yang cukup besar ditengah kota, rumah dimana Abigail tinggal.
Lama Jason memperhatikan rumah itu, sambil mencatat kebiasaan orang-orang yang ada didalam rumah itu. Ini adalah pengintaian yang ke-8 kali, semua data-data sudah lumayan matang.

Jam 06:00 Thomson dan sang istri Tia keluar dari rumah untuk berkerja dan akan pulang pada jam 5 sore. Tak ada aktifitas penting yang terjadi, karena mereka hanya memiliki satu anak. Jason keluar dari mobil itu dengan kacamata hitam dan jaket hoddie berwarna biru tua. Ia berjalan mengelilingi pagar rumah itu, untuk melihat tempat mana yang aman untuk ia naiki. Dengan bantuan drone kecil yang memang sengaja ia pesan, Jason sambil berjalan ia melihat keadaan dari pandangan drone yang sengaja ia terbangkan didekat rumah itu.
Setelah beberapa kali berkeliling, Jason kembali kedalam mobilnya. Ia menghidupkan mesin mobil dan pergi menjauh dari tempat itu.
 ***

Malam ini adalah hari dimana Abigail pulang kerumahnya, dengan senyum congkaknya ia melangkah keluar dari deretan jeruji besi itu. Sesampainya diluar, ia sudah disambut oleh kedua orang tuanya dan kekasihnya Nina.
***

Jason kini sudah berada dibalik semak-semak didekat kolam renang rumah Thomson, dengan keahliannya Jason merusak semua kamera cctv yang terpasang dirumah itu. Tak ada yang menyadari kehadiran Jason disitu. Semua sangat sempurna dan berjalan sesuai rencananya.
Tak berapa lama yang ditunggu telah tiba, Abigail, Thomson, Tia, dan Nina masuk kedalam rumah megah itu. Mereka langsung menuju keruang makan, untuk menyantap semua makanan yang ada diatas meja makan itu.

Jason dari jauh mengintai mereka dengan teropongnya. Perlahan ia berjalan kedepan, kearah pos penjaga. Dengan senjata bius yang sangat kuat. Jason menembak dua penjaga yang berjaga disekitar pos itu. Jason lalu berjalan masuk kedalam rumah itu melewati pintu belakang yang biasanya dipakai oleh para pembantu untuk masuk.

Disana ia melumpuhkan beberapa orang dan setelah dirasa aman. Jason lalu melemparkan bom gas bius kearah ruang makan. Tempat semua berkumpul. Semua orang yang ada dimeja makan itu terkejut dan langsung menutup hidung mereka, namun sayang hal itu sia-sia dan mereka semua tergeletak tak sadarkan diri.
***

"Plaakkk!"
Jason menampar dengan keras pipi Abigail, Abigail terbangun dan terkejut memandang Jason berdiri didepannya. Ia sungguh sangat mengenali orang kaya dikotanya ini dan tentunya orang yang telah melempar ayahnya dengan cangkir kopi saat persidangan 1 bulan yang lalu.

"Kenapa? apa yang kau lakukan?" tanya Abigail.

Jason tersenyum dan menunjuk kekiri dan kanan Abigail. Abigail seperti terhipnotis, ia menengok kearah kanan dan kiri. Matanya melotot, ia melihat kedua orang tuanya dan kekasihnya berada dalam kondisi terikat. Sama persis seperti dirinya.

"Apa yang kau mau?" tanya Abigail.

"Hanya mencari kebenaran," ucap Jason singkat.

Jason lalu berjalan mendekat kearah Thomson dan Tia yang sudah sadar dari tadi, Jason mengambil sebuah martil besar yang ia letakkan diatas sofa ruang tamu dirumah itu. Dengan pelan, Jason mengayunkan palu itu kearah paha Thomson. Thomson tentu berteriak histeris karena rasa sakit yang diciptakan oleh palu godam itu.

Muka semua orang yang barada diruangan itu menjadi pucat melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Jason. Jason yang berniat mempermainkan mereka lalu melepaskan palu itu. Ia mengambil sebilah belati dari balik kantung jaketnya. Ia mendekat kearah Nina, dengan lembut Jason mengangkat dagu gadis itu dari belakang. Ia lalu menempelkan pisau itu keleher Nina dan menariknya secara horizontal. Memberikan bekas sayatan dileher putih mulus gadis itu.
Darah segar mengalir, air mata gadis itu juga ikut mengalir merasakan nyawanya yang sebentar lagi lepas dari raganya. Abigail yang melihat itu berteriak dengan keras, namun Jason langsung menamparnya dengan keras agar ia diam kembali.

"Bagaimana? apa yang kau rasakan?" tanya Jason.

Abigail hanya bisa menitikkan air mata, melihat kekasihnya meninggal secara perlahan. Jason yang melihat hal itu lalu berdiri dibelakang Tia, ia mengayunkan palu godam yang ia ambil sebelumnya kekepala Tia.

Trakkk!! Cleecckkkk!!!
Dua kali Jason mengayunkan palu itu hingga membuat kepala Tia pecah terbelah dua. Thomson dan Abigail yang melihat itu semakin histeris dan mengutuk Jason.

"Lihat saja aku akan membalas perbuatanmu," ucap Abigail.

"Heh? membalas? hahaha, kau akan mati malam ini nak," ucap Jason.

Jason mendekat kearah Thomson, ia mengikat leher Thomson dengan tali yang menjuntai dari atas. Tali yang memang sudah disiapkan oleh Jason sebelumnya. Dengan santainya, Jason berjalan kearah lantai dua, ia lalu melemparkan karung yang entah berisi apa kebawah.

Karung itu sebelumnya telah diikat oleh Jason ketali yang menjerat leher Thomson. Saking beratnya karung itu, sampai bisa membuat tubuh gemuk Thomson terangkat dan tergantung. Jason bertepuk tangan sambil melihat Thomson yang mulai kehabisan nafas.
Tubuh gemuknya bergerak-gerak mencoba untuk melepaskan diri.

"Hahaha, kau lebih terlihat seperti ikan fugu yang terkena mata pancing," ucap Jason sambil memegangi perutnya.

Jason lalu memandang kearah Abigail. Ia sengaja menyimpan kejutan terakhir untuk Abigail. Jason berjalan kesofa dan mengeluarkan sebungkus minyak goreng dari tas yang ia letakkan tadi. Ia lalu berjalan menuju sebuah kompor yang memiliki meja yang bisa digeser, Jason lalu menggeser kompor itu mendekat kearah Abigail.

Jason menghidupkan kompor itu dan menuangkan minyak literan itu kesebuah wajan yang ia ambil saat didapur. Jason menunggu minyak itu sampai mengeluarkan sedikit asap, yang menandakan minyak itu sudah panas.

Tanpa babibu, Jason menarik tubuh Abigail yang memang lebih kecil darinya. Dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat, membuat Abigail tak bisa melawan. Ditambah efek dari bius dari Jason tadi masih membuat tubuhnya lemas.

Jason dengan senyum mengerikannya, memegang kepala bagian belakang Abigail. Dan dengan paksa ia mencelupkan wajah Abigail itu kewajan berisi minyak panas. Jason terus memegangi kepala Abigail hingga ia tak bergerak lagi. Setelah itu Jason mengangkat kepala Abigail yang kini wajahnya sudah tak berbentuk lagi.

"Hummm,, wajah goreng," ucap Jason.

Lalu tanpa rasa kasihan sedikitpun, Jason meninggalkan rumah ini dan sebelumnya membakar rumah ini terlebih dahulu.
***

Bersambung...

Saturday, September 24, 2016

House Of Sorrow Part-1: The Incident.

Author: Sad Anonim



Hari yang indah untuk seorang pria bernama Jason Vinch. Karena hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya yang ke 13 tahun. Ia sudah merancang semuanya sedemikian rupa dirumah indah miliknya ini, rumah mewah dengan gaya classic khas raja-raja pada zaman dahulu. Jason dengan tekunnya menyiapkan segalanya.

Dari makanan, minuman, hadiah, bahkan dekorasi dimeja makan yang akan menjadi tempat perayaannya untuk istri dan dua orang anaknya yang masing-masing berumur 10 dan 8 tahun.

"Apa semua ini terlihat bagus?" tanya Jason pada pelayan yang membantunya menyiapkan acara ini.

"Selera anda memang sangat bagus tuan, bahkan ini sangat indah," ucap pelayang bernama Gary itu.

"Syukurlah, semoga saja dia suka. Tapi, apakah dia mau datang kemari?" ucap Jason dalam hati. Jason duduk disalah satu kursi dan melamunkan kejadian beberapa hari yang lalu.
***
Saat itu Jason dan istrinya Samantha bertengkar hebat, semuanya karena kesalah pahaman Samantha yang mengira bahwa Jason telah berselingkuh dengan sekertarisnya dikantor. Jason sudah menjelaskan semuanya, tapi Samantha tetap tak percaya dan tetap menuduh Jason selingkuh.

Samantha bahkan sampai melempar barang-barang dirumah itu, beberapa guci mahal pecah. Semua itu untungnya tak terlihay oleh anak-anak mereka. Jason terlebih dahulu menitipkan anak-anaknya pada sang nenek. Kesabaran Jason diuji saat istrinya yang sangat ia sayangi pergi dari rumah, ia tak ingin mengejarnya. Karena Jason tau, istrinya pasti pulang kerumah ayah ibunya untuk menenangkan diri.
***

Kini kembali ke masa sekarang, Jason cemas menunggu kedatangan anak dan istrinya. Untuk anak, ia tak terlalu khawatir. Karena nenek dari anak-anak itu pasti akan mengantarkan mereka kerumah. Yang menjadi perhatian Jason saat ini adalah kedatangan Samantha istrinya. Semoga saja orang tuanya bisa membujuk Samantha untuk pulang kerumah.
1 Jam sudah Jason menunggu, tapi Samantha tak kunjung terlihat. Jason hanya bisa mondar-mandir diruang tengah sambil menunggu kedatangan Samantha.

Ting...Tengg!!!

Jason dengan buru-buru menuju pintu depan, dengan harapan bahwa Samantha yang ada dibalik pintu itu. Jason memutar knop pintu itu dan menarik pintu dengan perlahan. Betapa bahagianya ia saat melihat siapa dibalik pintu itu. Seorang wanita berambut kuning sedang berdiri dengan setelan gaun indah berwarna putih dengan polesan make up tipis dan natural. Menampakkan kecantikkan alami yang ia miliki.

Jason langsung memeluk Samantha tanpa pikir panjang. Ia sangat bersyukur bahwa Samantha mau datang dan merayakan hari jadi mereka.

"Anak-anak sudah datang?" tanya Samantha.

"Belum, mungkin sebentar lagi," ucap Jason sambil merangkul istri yang paling ia cintai.
Samantha dengan manjanya membaringkan kepalanya didada Jason, dan merapatkan tubuhnya dalam pelukkan hangat pria yang sudah 13 tahun ini menjadi suaminya. Lama mereka diam dengan pikiran masing-masing, terlebih Samantha yang sangat menyesali apa yang ia perbuat beberapa hari yang lalu saat ia bertengkar dengan Jason.

Ia sangat takut akan kabar burung itu. Ia tak ingin pria yang sangat ia cintai berpaling pada wanita lain. Sedangkan Jason, ia sedang menunggu kapan datangnya anak berserta orang tuanya dan mertuanya. Pesta ini memang dibuat Jason untuk seluruh keluarganya, bahkan adik-adiknya yang berada diluar kotapun ia undang.

Tak berapa lama, bel berbunyi kembali. Anak-anak Jason telah sampai dan langsung memeluk ayah dan ibu mereka. Tanpa membuang waktu lagi karena semua tamu undangan telah datang, Jason langsung mengajak semua tamunya untuk makan dimeja makan. Sebelum acara makan dimulai, Jason menyempatkan diri untuk berpidato.

"Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untukku. Karena hari ini adalah hari dimana perayaan ulang tahun pernikahanku yang ke 13 tahun. Puji syukur kita panjatkan pada tuhan yang sudah memberikan dan membolehkan kita berkumpul pada acara malam ini. Jadi, kita mulai acara makannya," ucap Jason.

Mereka yang ada dimeja makan ini langsung menyantap makanan-makanan lezat yang ada dihadapan mereka. Ada kalkun panggang, kepiting saus tiram, lobster dan masakan-masakan mahal dan istimewa lainnya yang terhidang di meja makan besar ini.
***

Setelah perayaan makan malam itu, Jason mengajak istri dan anaknya untuk pergi berlibur kesebuah taman bermain terkenal dikota mereka. Anak-anak mereka sungguh sangat senang mendapatkan kabar seperti itu. Dan saat itu juga, mereka langsung pergi menuju tempat rekreasi itu.
***

Sesampainya disana, mereka langsung mencoba wahana anak-anak. Dari komedi putar hingga mencoba game melempar bola yang berhadiah boneka. Jason yang memiliki basic tentara melempar bola-bola itu dengan tepat. Ia menghadiahkan sebuah boneka beruang untuk anak perempuannya dan sebuah boneka kelinci yang sangat cantik untuk istri tercintanya.
Jason juga tak lupa membelikan sebuah mobil remote control untuk anak laki-lakinya. Mobil mainan yang bisa dibilang mahal. Mereka hampir seharian menghabiskan waktu mereka untuk mencoba wahana-wahana permainan yang ada ditempat permainan itu.

Semua tampak bahagia, namun saat tiba-tiba sebuah insiden terjadi. Saat itu kedua anak-anak mereka berlari kesebrang jalan untuk membeli hotdog. Jalanan yang cukup aman untuk dilalui berubah seketika, saat sebuah mobil melaju dengan kencang dan tak terkendali. Mobil itu menerjang beberapa orang termasuk kedua anak Jason.

Para korban yang terkena sambaran mobil terpenta jauh, begitu juga dengan anak-anak Jason. Jason yang melihat hal itu langsung berlari kearah kedua anak mereka yang terlempar beberapa meter dari tempat kejadian. Jason langsung merangkul anak laki-lakinya yang beberapa detik yang lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
Jason menangis sejadi-jadinya saat menyadari anaknya meninggal dalam pelukkannya. Selang beberapa menit, mobil ambulance tiba dan langsung mengangkat para jenazah untuk dilarikan kerumah sakit.
***

Sesampainya dirumah sakit, Jason mencoba menenangkan Samantha yang terus menangis menerima kabar bahwa kedua anak mereka telah meninggal. Jason terus memeluk istrinya yang sangat shock itu. Jason tak bisa banyak bicara, ia pun juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Samantha alami. Namun, ia mencoba untuk tetap tegar. Akhirnya Jason mengajak Samantha pulang untuk membenahi acara pemakanan kedua anaknya.
***

Acara pemakaman dilakukan, Samantha adalah orang yang paling histeris saat itu. Ia menangis dengan kencang sejadi-jadinya. Kedua orang tuanya dan orang tua Jason mencoba membujuk dan menghiburnya, namun semua nihil. Samantha masih menangis sampai jasad kedua anak mereka dimakamkan.
***

Kini, seminggu sudah setelah hari pemakaman itu. Samantha masih sering menangis, Jason yang melihat kesedihan Samantha hanya bisa memandang nanar kearah istri tercintanya. Ia sangat menyesali kenapa pada saat itu ia mengajak mereka berlibur dan tak menghabiskan waktu saja dirumah sambil bermain monopili atau catur.
Jason yang tak bisa menghibur Samantha meminta bantuan pada kedua orang tuanya. Dan akhirnya Samantha dibawa pulang kerumah orang tuanya untuk beberapa waktu. ***
Kesedihan semakin menyelimuti Jason, istrinya Samantha. Ditemukan bunuh diri didalam kamarnya. Jason semakin terguncang, ia tak menyangka sang istri akan mengambil jalan pintas seperti itu. Jason hanya bisa menangisi kepergian istrinya. Dan kini rumah itu semakin sepi, sesepi hati sang pemiliknya.
Bersambung...

Friday, September 16, 2016

Silent Syndrom

#Riddle
Author: Sad Anonim.
Level: Medium.


 



Toni sedang duduk disebuah ruangan yang sangat ia kenali. Ruangan yang berbentuk persegi dengan cat berwarna putih yang sudah kusam. Ia hanya duduk diam memandang lurus kedepan, entah apa yang membuatnya seperti itu.

Dan tiba-tiba suara gemerincing dari besi yang dipukulkan kedinding semen berbunyi. Di depan Toni, seorang pria bertubuh besar berdiri sambil menggenggam sebuah parang besar. Pria bertubuh besar itu perlahan berjalan mendekat.

Lalu pria itu mengangkat parang besarnya itu dan menebaskannya keleher Toni. Namun tampak ekspresi diwajah Toni tetap seperti awal, memandang lurus kedepan seolah-olah ia tak merasakan apapun, ia hanya diam. Darah mulai mengucur kebawah dan semuanya mulai menjadi gelap.


Silahkan jawab dikomentar.

Wednesday, September 14, 2016

The Photo Model

Author: Sad Anonim. 


Aku memiliki seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang model. Dia kerap kali diminta untuk berfoto dengan aksesoris seperti kelinci, tak heran. Suaminya adalah seorang fotografer yang terkenal dikotaku. Ya tak salah banyak orang yang menyebut mereka pasangan yang serasi. Namun, hal yang membuatku terganggu mulai terjadi. 

Tepatnya setelah dua tahun mereka menikah dan menjadi tetanggaku. Keributan mulai sering terdengar diantara mereka, entah apa yang mereka ributkan. Aku tak terlalu peduli, namun malam itu. Suara mereka mengganggu tidurku yang sedang nyenyaknya. Aku mendengar mereka meributkan pose foto. 

Hanya POSE!! sialan sekali mereka. Besoknya aku melihat sang suami pergi menggunakan mobil jeep miliknya, tiba-tiba terlintas dibenakku untuk menghampiri Claren istri dari Anton. Aku berniat ingin menanyakan perihal keributan mereka tadi malam yang sangat menggangguku. 

Ting-tong!! "Ya, tunggu sebentar." 

 "Oh hay Alex, ada apa?" tanya Claren. 

"Boleh aku masuk?" tanyaku. 

 "Tentu, silahkan," ucapnya. Aku langsung masuk dan duduk disofa ruang tamunya. 

 "Claren, apa aku boleh tau apa masalah kalian berdua? sungguh malam tadi aku tak bisa tidur karena kalian," tanyaku. 

Wajah Claren langsung berubah menjadi sedih, ia menceritakan semuanya. Masalah mereka adalah masalah yang sangat rumit, karena ia tak mau berpose fulgar. Astaga! aku bingung dengan Anton, sebegitu teganya ia memamerkan tubuh istrinya sendiri. Aku lalu menghampirinya dan memegang tangannya. 

"Itu hakmu, walaupun dia suamimu. Kau tetap memiliki hak atas ini," ucapku.

"Terima kasih Alex," ucap Claren sambil terisak dan memelukku. 

Tiba-tiba pintu terbuka, Anton tanpa babibu langsung memukul kepalaku yang langsung membuatku pingsan. 
*** 

Aku terbangun dengan kondisi terikat disebuah kursi. Mataku mencoba untuk terbiasa dengan kondisi ruangan yang cukup terang ini, aku melihat kesebelah kiri. Dan mendapati Claren yang berada dalam posisi yang sama denganku. 

"Kau sudah bangun rupanya!" ucap Anton. Aku menatap kearahnya dengan pandangan takut, karena aku melihat ia memegang sebuah pisau ditangan kanannya. 

"Tenang saja, aku tak akan melukaimu sekarang. Aku ingin bermain dengan penghianat ini," ucap Anton. 
Anton mendekat kearah Claren, ia menampar pipi wanita cantik itu dengan keras hingga aku bisa melihat bekas merah dipipi kanannya. 

 "Apa ini balasan untukku? aku hanya memintamu berpose panas dengan aksesoris telinga kelinci ini tapi kau menolaknya dan bahkan kau menghianatiku," ucap Anton. 

"Kau salah paham Anton, aku tak melakukan apa-apa," ucap Claren. 

 "Ya itu benar, kau salah paham Anton!" ucapku cukup keras. 

"Diam kau! baiklah aku akan memulai ini dari dirimu terlebih dahulu," ucap Anton. 
 Anton berjalan kearahku, ia mengangkat tinggi pisau itu dan menghunuskannya kearahku. 

Brakk!!! Tubuh Anton jatuh kesamping kanan, dibelakangnya aku melihat Claren dengan kursi plastik yang menjadi tempat ia duduk tadi. Entah dari mana Claren bisa melepaskan diri, tapi aku bersyukur selamat dari serangan Anton. Claren berulang kali memukulkan kursi itu kekepala Anton hingga darah keluar dari kepalanya. 

"Akhirnya aku bisa membunuhmu Anton!" ucap Claren. 

Claren mengambil pisau ditangan Anton dan.... 

Crugghh!!! 

Claren tersentak saat merasakan punggungnya ditusuk oleh benda keras. 
Nafasnya tercekat ditenggorokkannya dan akhirnya ia jatuh perlahan kelantai. 

 "Jangan pernah terlena Claren. Karena masih ada aku disini, dan ingatlah tak semua orang menyukaimu," ucapku. 

Tamat.