Seorang pria bernama Frank Anderson Vinch yang dulu berprofesi sebagai seorang detektif, harus berhadapan dengan sebuah situasi yang sangat membingungkan untuknya. Dia harus menjadi detektif kembali dan menyelidiki siapa pembunuh istrinya. Dalam investigasinya ia sedikit demi sedikit mendapati hal-hal yang sangat membuatnya terkejut dan bahkan tak ia sangka.
***
Part-1: Sweet Home.
Frank yang kini telah pensiun dari dunia kedetektifan diusia muda membuat banyak orang bertanya. Kenapa ia berhenti diumurnya yang masih 45 tahun ini. Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya ia tanggapi dengan senyuman dan sepatah kata, bahwa ia hanya ingin hidup damai dengan bisnis yang sudah 5 tahun ini ia bangun.
Kehidupan Frank bisa dibilang sangatlah berkecukupan, dan sangat beruntung. Dia memiliki istri yang cantik, rumah yang terbilang besar dan mewah. Usahanya juga sangatlah berkembang, bahkan kini ia sudah memiliki 2 hotel berbintang ditengah kota. Semua ia dapatkan dari profesinya sebagai detektif dan sebuah restoran yang kini telah memiliki sedikitnya 20 cabang.
"Sayang apa kau jadi pergi memancing dengan Pak Johanson?" tanya Susan.
"Ya, aku akan memancing selama 3 hari," jawab Frank.
"Apa perlengkapanmu sudah siap?" tanya Susan lagi.
"Ah iya, hampir saja aku lupa. Aku harus membeli sebuah joran lagi," ucap Frank.
Dengan buru-buru Frank berlari kecil kekamarnya, ia mengambil dompet dan kunci mobil. Lalu ia berlari lagi menghampiri istrinya, ia mencium pipi istri yang sangat ia cintai itu dan pergi menuju toko peralatan pancing.
***
Sambil mengendarai mobilnya, Frank mendengarkan lagu-lagu yang diputarkan oleh stasiun radio yang sinyalnya berhasil ditangkap oleh antena radio di mobil Mewahnya ini. Hampir 30 menit ia menghabiskan waktunya dijalan yang tak terlalu ramai. Ia menstopkan mobilnya disebuah parkiran yang kosong, dengan perlahan ia keluar dan berjalan menuju toko peralatan pancing.
"Hay Frank," sapa sang pemilik toko.
"Hay, Alfred. Apa kau jadi ikut untuk hari sabtu nanti?" tanya Frank.
"Ya, tentu ini hal yang paling aku tunggu," ucap Afred.
Frank tersenyum dan mengacungkan jempolnya, ia lalu berjalan kesebuah rak yang berisi beberapa joran pancing kualitas terbaik.
"Harga joran ini berapa?" tanya Frank sambil menunjukkan sebuah joran berwarna abu-abu.
"Itu 96 dollar Frank, tapi untukmu 75 dollar saja," ucap Alfred.
Frank lalu mengambil satu joran pancing itu, ia kembali berjalan menuju tempat umpan buatan. Ia berencana untuk membawa 10 umpan buatan itu untuk memancing sabtu nanti. Ia memilih tipe umpan tiruan dari sebuah ikan tongkol kecil, lalu ia mengambil sebuah kantong plastik untuk mengambil umpan hidup.
Ia memilih umpan hidup dari jangkrik dan cacing besar yang entah ia sendiri tak tau namanya.
"Semua ini berapa kawan?" tanya Frank.
"Semuanya 375 dollar Frank," ucap Alfred.
Frank lalu mengambil dompetnya, ia menarik keluar sebuah kartu kredit yang terselip disalah satu kantong didompetnya. Lalu ia menyerahkan benda tipis yang terbuat dari plastik itu pada Alfred. Setelah selesai membayar, Frank langsung bergegas pulang untuk makan siang.
***
Sesampainya dirumah, ia langsung disambut sang istri yang sedang berduduk santai didepan teras rumah mereks sambil membaca sebuah majalah dan ditemani secangkir teh lemon.
"Sayang, apa makanan sudah siap?" tanya Frank.
"Sudah, isshhh kau ini. Datang-datang langsung menanyakan soal makanan," ucap Susan sambil memasang wajah cemberut.
Frank yang melihat perubahan istrinya hanya tersenyum, ia lalu berjalan mendekat kearah Susan dan langsung menggendong tubuh mungil Susan, wanita yang sangat ia cintai. Frank lalu membopong tubuh Susan menuju ruang makan.
"Uhh tubuhmu ternyata berat juga ya," ucap Frank.
Susan yang mendengar hal itu hanya bisa memukul-mukul pelan dada bidang Frank sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah. Frank berjalan melewati ruang tengah, melewati sebuah pajangan yang berbentuk lukisan yang cukup besar. Di lukisan itu ada dirinya, Susan, dan kedua anaknya Charles dan Claire yang kini sedang melanjutkan pendidikkan mereka diluar kota dan tinggal bersama kakek dan nenek mereka.
Sesampainya meja makan, Frank mendudukkan Susan kesalah satu kursi. Dan ia pun duduk berhadapan dengan Susan, meja sepanjang 1,5 meter itu dihiasi dua buah lilin yang dinyalakan oleh Frank. Kebiasaan mereka saat makan berdua.
"Mmm... Kau memasak semua ini untukku?" tanya Frank.
"Yup, ini semua makanan kesukaanmu bukan?" tanya Susan.
Diatas meja itu terdapat 4 buah masakkan, dari kepiting saus tiram, pasta lobster, steak, dan nacos. Semua itu adalah makanan kesukaan Frank. Frank langsunh melahap semua makanan itu secara rakus, ia terlihat seperti orang yang tak makan selama 3 hari. Susan yang melihat hal itu hanya bisa tertawa, ia tak menyangka Frank akan menjadi seperti ini.
***
Hujan turun dimalam yang cukup menusuk tulang, ditambah hembusan angin yang cukup kencang. Frank dan Susan duduk disofa yang berada didekat perapian sambil menonton sebuah film romantis. Dengan manjanya Susan menyandarkan kepalanya kedada Frank, Frankpun membelai lembut rambut wanita yang sudah 25 tahun menemaninya itu. Ya mereka memang menikah muda, mereka menikah saat Frank berumur 20 tahun dan Susan 18 tahun.
"Kau masih saja ingat dengan film ini," ucap Susan.
"Ya, tapi semoga saja kisah cinta kita tak terpisah seperti dalam film titanic ini," ucap Frank.
Susan merapatkan pelukkannya, entah kenapa ucapan Frank barusan membuatnya sedikit takut. Frank dan Susan sesekali bercanda sambil menanti film itu habis, Frank sangat bersyukur ia bisa mendapatkan Susan yang menjadi primadona dikampus itu. Otak Susan yang pintar menjadikannya bisa memasukki universitas saat berumur 16 tahun.
"Kau sangat cantik Susan," ucap Frank sambil mengelus pelan pipi kiri istrinya itu.
"Jangan coba menggodaku Frank," ucap Susan sambil tersenyum.
Frank mendekatkan wajahnya kearah wajah Susan, perlahan keduanya saling mendekatkan bibir mereka. Dan merekapun menutup malam itu dengan suasana yang sangat romantis.
***
"Apa kau akan membawa semua ini sayang?" tanya Susan.
"Ya, aku tak tau kondisi disana seperti apa. Ini yang pertama kalinya aku kesana," ucap Frank.
Susan perlahan mendekati Frank, ia lalu memeluk Frank dari belakang.
"Hati-hati," ucap Susan sambil membalik tubuh Frank dan mencium Frank dengan mesra.
"Ya, aku pasti akan berhati-hati. Doakan aku supaya mendapatkan ikan yang banyak," ucap Frank.
Susan hanya tersenyum, tak lama suara klakson mobil berbunyi beberapa kali. Menandakan Johanson dan Alfred sudah datang. Frank buru-buru masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.
"Bagaimana rencanamu?" tanya Johanson.
"Kita akan memulainya," ucap Frank sambil tersenyum dan mengaluarkan sebuah jorang
pancing.
***
Bersambung.














