Author: Sad Anonim.
Jason kembali kerumahnya, ia berbaring diatas kasur empuknya setelah membersihkan diri. Ia menatap kelangit-langit, entah apa yang ada didalam pikirannya. Tiba-tiba ia tertawa sendiri, ia terus tertawa. Tatapan matanya yang biasa tajam berubah menjadi kosong. Tawanya sangatlah tulus dari dalam dirinya.
Tak sengaja, salah seorang pelayan melewati kamar Jason. Ia mendengar suara tawa Jason yang tanpa henti. Khawatir dengam keadaan tuannya, ia segera menelpon orang tua Jason untuk menemui anak mereka.
"Tuuutttt tuuuttt..... Ckrekkk... Hallo, nyonya bisakah anda kemari. Saya menghawatirkan anak anda yang tak henti-hentinya tertawa," ucap pelayan itu.
"Apa? ya baiklah aku akan segera kesana," ucap ibu Jason.
***
Ibu Jason dengan cepat mengendarai mobilnya menuju rumah anaknya. Ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya, semoga sajak kejiwaan anaknya tak benar-benar terguncang.
"CKKIITTT...."
Suara dari rem mobil mewah berjenis SUV itu terdengar cukup nyaring. Dengan buru-buru ibu Jason keluar dan membanting pintu mobilnya cukup keras, lalu ia berlari cukup cepat dan langsung masuk kerumah anaknya yang lumayan besar ini. Diumur yang tak lagi muda ini, ibu Jason masih cukup kuat untuk mengitari rumah yang hampir setengah hektar ini.
"Tok...Tok... Jason, apa kau ada didalam nak?" tanya Ibunya.
Namun Jason hanya diam, Kinna yang khawatir mencoba mendorong pintu itu. Dan untungnya pintu itu tak terkunci, perlahan Kinna mendorong pintu itu untuk melihat kondisi anaknya.
"Jason ada apa nak?" tanya ibunya.
Jason yang merasa punggungnya ditepuk langsung berbalik.
"Oh bu, maaf aku tak mendengar. Aku sedang asyik bermain game ini," ucap Jason sambil melepas earphone dari kedua telinganya.
"Ibu khawatir karena kau tertawa terus dari tadi," ucap Kinna.
"Hehe, maafkan aku bu," ucap Jason memaksakan senyumnya.
Ibu dan anak itu lalu melanjutkan pembicaraan mereka.
***
Dilain hal, disebuah rumah yang sudah hangus terbakar. Polisi dan pemadam kebakaran mencoba mencari korban yang mungkin saja jasadnya masih bisa ditemukan. Hampir seharian mereka telah mencari, namun tak satupun hasil yang mereka temukan.
"Siapa yang melakukan hal ini pada hakim Thomson?" tanya opsir Anderson.
"Entahlah, mungkin seseorang yang sangat membencinya. Kau taukan hakim Thomson adalah hakim yang korup?" ucap Kepala pemadam bernama Garry.
"Kau benar, tapi tetap saja kita harus mencari tau hal ini," ucap Andrson.
Sibuk kedua kepala instansi itu berbicara, tiba-tina salah satu anak buah mereka menghampiri mereka dan melaporkan bahwa mereka tak menemukan apa-apa. Akhirnya pencarian bukti ditempat itu dihentikan karena hari yang sudah menggelap.
***
Seiringnya waktu, kasus itu masih belum terpecahkan. Terhitung sudah sebulan berlalu, tapi semua bukti bak ditelan bumi. Jason yang mendengar berita itu hanya tersenyum sambil menyeruput coklat panas yang sekarang ada didalam cangkir yang ia pegang.
Pandangan mata Jason menerawang keatas. Tangannya merangkul sang istri dan kedua anak mereka.
"Aku sudah berhasil," ucap Jason, sambil menatap wajah istrinya yang sekarang duduk disampingnya.
"Ya, kau sudah membalaskan dendam dan hak kami sayang," ucap Samantha.
Jasonpun tersenyum, ia membelai rambut indah istrinya itu. Namun, wajah istrinya semakin mengabur dan beberapa detik kemudian menghilang dari pandangan Jason. Begitu juga dengan kedua anaknya yang sedang tersenyum padanya. Jason mencoba menangkap tangan mereka, namun seolah-olah tangannya tak bisa menyentuh tangan anaknya. Setiap ia mencoba, maka tangannya akan menembus tangan anaknya. Mata Jason membulat, ia tak ingin lagi kehilangan mereka.
***
"Tidakkk..... Tidak......."
"Tenanglah, suster cepat ambilkan obat penenang," ucap seseorang berpakaian serba putih.
"Tidak... Jangan tinggalkan aku lagi... Samantha, anak-anak... Kumohonn," teriak Jason.
Dua perawat yang menahan kedua tangan Jason sampai kuwalahan dibuatnya. Untung saja suster cepat membawakan sebuah suntikan yang berisi obat penenang. Dokter dengan cepat menyuntikkan obat itu pada Jason dan membuat Jason tenang dan tertidur.
"Bagaimana kondisinya dok?" ucap Samantha.
"Dia sangat depresi nyonya, hal apa yang menyebabkan pasien menjadi depresi berat seperti ini?" tanya sang dokter.
"Ini semua terjadi setelah ia mendapat kabar bahwa sang ibu dan anak-anaknya mengalami kecelakaan mobil dan menewaskan mereka dok," ucap Samantha.
"Oh, aku turut berduka atas kejadian itu," ucap dokter.
"Apa aku boleh menjenguknya dok?" tanya Samantha.
"Tentu," jawab sang dokter sambil mempersilahkan Samantha masuk.
Disana Samantha melihat mantan suaminya duduk sambil menatap kosong kearah jendela berlapis baja.
"Jason, maafkan aku... Aku tak bisa menemanimu selamanya, aku tau. Kau sangat sayang pada mendiang ibu dan anak-anak kita, tapi sadarlah mereka sudah tenang dialam sana," ucap Samantha.
"Ini semua gara-gara Abigail!" ucap Jason.
Samantha lalu memeluk Jason.
"Jason, Abigail, Thomson, Tia, Nina, opsir Anderson, dan kepala pemadam Garry semuanya tak ada. Mereka semua hanya khayalanmu," ucap Samantha.
Samantha lalu menceritakan semua kebenaran yang terjadi pada Jason.
***
Saat itu Jason sedang menunggu, setelah menyiapkan acara makan malam spesial yang ia siapkan untuk sang istri Samantha yang marah padanya karena ia dikira menyelingkuhi Samantha. Lama Jason menunggu, namun Samantha tak kunjung datang. Akhirnya Jason mencoba untuk menjemput Samantha yang pasti berada dirumah orang tuanya.
Dengan mobil sport miliknya Jason melaju dengan cepat menuju rumah orang tua Samantha. Sesampainya disana, ia tak melihat mobil orang tua Samantha. Namun yang ada malah mobil asing yang terpakir bersebelahan dengan mobil putih keluaran BMW itu yang Jason tau pasti adalah milik Samantha.
Perlahan Jason mendekati rumah itu, dengan sangat pelan ia membuka pintu depan yang untungnya tak terkunci. Keadaan rumah sangatlah sepi, Jason yang sudah berfikir negatif langsung membuat pemikirannya itu. Perlahan Jason menaiki tangga menuju kelantai dua, tempat dimana kamar Samantha berada.
"Uhh... Ya.. Teruskan Niko... Pria bodoh itu masih saja percaya denganku yang sudah
berselingkuh denganmu," ucap suara yang sangat dikenal Jason, itu adalah suara Samantha.
Perlahan Jason mengintip dari pintu yang tak tertutup rapat itu. Mata Jason terbelalak melihat apa yang sedang dilakukan istrinya dengan seorang pria yang berada diatas tubuhnya.
"Hahaha, rencana kau menuduhnya selingkuh itu sangat berilian bukan?" tanya Niko.
Jason yang mendengar itu langsunh naik pitam. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung masuk dan menghajar pria bernama Niko itu sampai pingsan. Samantha yang melihat itu hanya bisa diam, ia sangat shock atas kedatangan Jason.
Jason yang melihat Niko sudah terkapar langsung meninggalkan mereka berdua. Dengan cepat ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
Dalam perjalanan pulang, Jason mendapat sebuah telepon.
"Ya hallo," ucap Jason.
"Apakah bapak bernama Jason Vinch?" tanya seseorang dari telepon.
"Ya saya sendiri, ini dengan siapa ya?" tanya Jason.
"Kami dari rumah sakit Gabriella pak, ingin mengabarkan bahwa saudari bernama Kinna Vinch dan dua anak mengalami kecelakaan mobil," ucap pihak rumah sakit.
"Apa? baiklah aku akan segera kesana," ucap Jason.
***
Sesampainya disana, Jason langsung berlari menuju ruangan tempat ibu dan kedua anaknya dirawat. Jason langsung bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana kondisi mereka dok?" tanya Jason.
"Maaf pak, kami sudah berusaha," ucap dokter itu.
Jason yang mendengar jawaban sang dokter terduduk lemas, ia memandang kearah pintu kamar rumah sakit yang ada didepannya. Lama Jason terdiam, dan saat kesadarannya kembali ia langsung berlari kearah jasad ibu dan dua anaknya. Jason menangis dengan kencang melihat orang-orang yang paling ia sayangi terbujur kaku, dokter dan perawat yang melihat kondisi Jason mencoba menenangkan Jason.
***
Pemakaman sudah dilakukan, disebuah rumah yang sengaja dipesan Jason untuk tempat pemakaman ibu dan dua anaknya. Ayah Jason yang seorang bisnisman juga hadir melihat istrinya untuk yang terakhir kalinya. Semua orang yang datang dalam acara itu menangis karena mengenang jasa dari Kinna yang banyak membantu mereka.
Namun, hanya Jason yang menatap kuburan ibu dan anaknya dengan pandangan kosong. Jiwanya terguncang dan setelah pemakaman usai, ia mengamuk. Memukul, menendang siapa saja yang ada dihadapannya. Melihat hal itu ayah Jason langsung memanggil pihak rumah sakit setelah berhasil menghentikan Jason dengan bantuan 2 security.
Didalam kamar khusus disalah satu rumah sakit jiwa yang terkenal, Jason kerap berkhayal dan berbicara sendiri. Ayahnya yang melihat itu merasa kasihan dan ia meminta dokter untuk menjaga anak sulungnya tersebut. Dua adik Jason juga turut bersedih melihat sang kakak yang menjadi gila seperti itu.
Sementara Samantha, ia akan mendapatkan warisan dari ayah Jason dan membiarkan Samantha untuk menikah lagi dengan pria lain.
***
Selesai menceritakan itu semua, Samantha langsung beranjak pergi dari kamsr Jason. Ia sengaja menceritakan hal itu agar Jason selalu menjadi gila.
***
Tamat.
Jason kembali kerumahnya, ia berbaring diatas kasur empuknya setelah membersihkan diri. Ia menatap kelangit-langit, entah apa yang ada didalam pikirannya. Tiba-tiba ia tertawa sendiri, ia terus tertawa. Tatapan matanya yang biasa tajam berubah menjadi kosong. Tawanya sangatlah tulus dari dalam dirinya.
Tak sengaja, salah seorang pelayan melewati kamar Jason. Ia mendengar suara tawa Jason yang tanpa henti. Khawatir dengam keadaan tuannya, ia segera menelpon orang tua Jason untuk menemui anak mereka.
"Tuuutttt tuuuttt..... Ckrekkk... Hallo, nyonya bisakah anda kemari. Saya menghawatirkan anak anda yang tak henti-hentinya tertawa," ucap pelayan itu.
"Apa? ya baiklah aku akan segera kesana," ucap ibu Jason.
***
Ibu Jason dengan cepat mengendarai mobilnya menuju rumah anaknya. Ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya, semoga sajak kejiwaan anaknya tak benar-benar terguncang.
"CKKIITTT...."
Suara dari rem mobil mewah berjenis SUV itu terdengar cukup nyaring. Dengan buru-buru ibu Jason keluar dan membanting pintu mobilnya cukup keras, lalu ia berlari cukup cepat dan langsung masuk kerumah anaknya yang lumayan besar ini. Diumur yang tak lagi muda ini, ibu Jason masih cukup kuat untuk mengitari rumah yang hampir setengah hektar ini.
"Tok...Tok... Jason, apa kau ada didalam nak?" tanya Ibunya.
Namun Jason hanya diam, Kinna yang khawatir mencoba mendorong pintu itu. Dan untungnya pintu itu tak terkunci, perlahan Kinna mendorong pintu itu untuk melihat kondisi anaknya.
"Jason ada apa nak?" tanya ibunya.
Jason yang merasa punggungnya ditepuk langsung berbalik.
"Oh bu, maaf aku tak mendengar. Aku sedang asyik bermain game ini," ucap Jason sambil melepas earphone dari kedua telinganya.
"Ibu khawatir karena kau tertawa terus dari tadi," ucap Kinna.
"Hehe, maafkan aku bu," ucap Jason memaksakan senyumnya.
Ibu dan anak itu lalu melanjutkan pembicaraan mereka.
***
Dilain hal, disebuah rumah yang sudah hangus terbakar. Polisi dan pemadam kebakaran mencoba mencari korban yang mungkin saja jasadnya masih bisa ditemukan. Hampir seharian mereka telah mencari, namun tak satupun hasil yang mereka temukan.
"Siapa yang melakukan hal ini pada hakim Thomson?" tanya opsir Anderson.
"Entahlah, mungkin seseorang yang sangat membencinya. Kau taukan hakim Thomson adalah hakim yang korup?" ucap Kepala pemadam bernama Garry.
"Kau benar, tapi tetap saja kita harus mencari tau hal ini," ucap Andrson.
Sibuk kedua kepala instansi itu berbicara, tiba-tina salah satu anak buah mereka menghampiri mereka dan melaporkan bahwa mereka tak menemukan apa-apa. Akhirnya pencarian bukti ditempat itu dihentikan karena hari yang sudah menggelap.
***
Seiringnya waktu, kasus itu masih belum terpecahkan. Terhitung sudah sebulan berlalu, tapi semua bukti bak ditelan bumi. Jason yang mendengar berita itu hanya tersenyum sambil menyeruput coklat panas yang sekarang ada didalam cangkir yang ia pegang.
Pandangan mata Jason menerawang keatas. Tangannya merangkul sang istri dan kedua anak mereka.
"Aku sudah berhasil," ucap Jason, sambil menatap wajah istrinya yang sekarang duduk disampingnya.
"Ya, kau sudah membalaskan dendam dan hak kami sayang," ucap Samantha.
Jasonpun tersenyum, ia membelai rambut indah istrinya itu. Namun, wajah istrinya semakin mengabur dan beberapa detik kemudian menghilang dari pandangan Jason. Begitu juga dengan kedua anaknya yang sedang tersenyum padanya. Jason mencoba menangkap tangan mereka, namun seolah-olah tangannya tak bisa menyentuh tangan anaknya. Setiap ia mencoba, maka tangannya akan menembus tangan anaknya. Mata Jason membulat, ia tak ingin lagi kehilangan mereka.
***
"Tidakkk..... Tidak......."
"Tenanglah, suster cepat ambilkan obat penenang," ucap seseorang berpakaian serba putih.
"Tidak... Jangan tinggalkan aku lagi... Samantha, anak-anak... Kumohonn," teriak Jason.
Dua perawat yang menahan kedua tangan Jason sampai kuwalahan dibuatnya. Untung saja suster cepat membawakan sebuah suntikan yang berisi obat penenang. Dokter dengan cepat menyuntikkan obat itu pada Jason dan membuat Jason tenang dan tertidur.
"Bagaimana kondisinya dok?" ucap Samantha.
"Dia sangat depresi nyonya, hal apa yang menyebabkan pasien menjadi depresi berat seperti ini?" tanya sang dokter.
"Ini semua terjadi setelah ia mendapat kabar bahwa sang ibu dan anak-anaknya mengalami kecelakaan mobil dan menewaskan mereka dok," ucap Samantha.
"Oh, aku turut berduka atas kejadian itu," ucap dokter.
"Apa aku boleh menjenguknya dok?" tanya Samantha.
"Tentu," jawab sang dokter sambil mempersilahkan Samantha masuk.
Disana Samantha melihat mantan suaminya duduk sambil menatap kosong kearah jendela berlapis baja.
"Jason, maafkan aku... Aku tak bisa menemanimu selamanya, aku tau. Kau sangat sayang pada mendiang ibu dan anak-anak kita, tapi sadarlah mereka sudah tenang dialam sana," ucap Samantha.
"Ini semua gara-gara Abigail!" ucap Jason.
Samantha lalu memeluk Jason.
"Jason, Abigail, Thomson, Tia, Nina, opsir Anderson, dan kepala pemadam Garry semuanya tak ada. Mereka semua hanya khayalanmu," ucap Samantha.
Samantha lalu menceritakan semua kebenaran yang terjadi pada Jason.
***
Saat itu Jason sedang menunggu, setelah menyiapkan acara makan malam spesial yang ia siapkan untuk sang istri Samantha yang marah padanya karena ia dikira menyelingkuhi Samantha. Lama Jason menunggu, namun Samantha tak kunjung datang. Akhirnya Jason mencoba untuk menjemput Samantha yang pasti berada dirumah orang tuanya.
Dengan mobil sport miliknya Jason melaju dengan cepat menuju rumah orang tua Samantha. Sesampainya disana, ia tak melihat mobil orang tua Samantha. Namun yang ada malah mobil asing yang terpakir bersebelahan dengan mobil putih keluaran BMW itu yang Jason tau pasti adalah milik Samantha.
Perlahan Jason mendekati rumah itu, dengan sangat pelan ia membuka pintu depan yang untungnya tak terkunci. Keadaan rumah sangatlah sepi, Jason yang sudah berfikir negatif langsung membuat pemikirannya itu. Perlahan Jason menaiki tangga menuju kelantai dua, tempat dimana kamar Samantha berada.
"Uhh... Ya.. Teruskan Niko... Pria bodoh itu masih saja percaya denganku yang sudah
berselingkuh denganmu," ucap suara yang sangat dikenal Jason, itu adalah suara Samantha.
Perlahan Jason mengintip dari pintu yang tak tertutup rapat itu. Mata Jason terbelalak melihat apa yang sedang dilakukan istrinya dengan seorang pria yang berada diatas tubuhnya.
"Hahaha, rencana kau menuduhnya selingkuh itu sangat berilian bukan?" tanya Niko.
Jason yang mendengar itu langsunh naik pitam. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung masuk dan menghajar pria bernama Niko itu sampai pingsan. Samantha yang melihat itu hanya bisa diam, ia sangat shock atas kedatangan Jason.
Jason yang melihat Niko sudah terkapar langsung meninggalkan mereka berdua. Dengan cepat ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
Dalam perjalanan pulang, Jason mendapat sebuah telepon.
"Ya hallo," ucap Jason.
"Apakah bapak bernama Jason Vinch?" tanya seseorang dari telepon.
"Ya saya sendiri, ini dengan siapa ya?" tanya Jason.
"Kami dari rumah sakit Gabriella pak, ingin mengabarkan bahwa saudari bernama Kinna Vinch dan dua anak mengalami kecelakaan mobil," ucap pihak rumah sakit.
"Apa? baiklah aku akan segera kesana," ucap Jason.
***
Sesampainya disana, Jason langsung berlari menuju ruangan tempat ibu dan kedua anaknya dirawat. Jason langsung bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana kondisi mereka dok?" tanya Jason.
"Maaf pak, kami sudah berusaha," ucap dokter itu.
Jason yang mendengar jawaban sang dokter terduduk lemas, ia memandang kearah pintu kamar rumah sakit yang ada didepannya. Lama Jason terdiam, dan saat kesadarannya kembali ia langsung berlari kearah jasad ibu dan dua anaknya. Jason menangis dengan kencang melihat orang-orang yang paling ia sayangi terbujur kaku, dokter dan perawat yang melihat kondisi Jason mencoba menenangkan Jason.
***
Pemakaman sudah dilakukan, disebuah rumah yang sengaja dipesan Jason untuk tempat pemakaman ibu dan dua anaknya. Ayah Jason yang seorang bisnisman juga hadir melihat istrinya untuk yang terakhir kalinya. Semua orang yang datang dalam acara itu menangis karena mengenang jasa dari Kinna yang banyak membantu mereka.
Namun, hanya Jason yang menatap kuburan ibu dan anaknya dengan pandangan kosong. Jiwanya terguncang dan setelah pemakaman usai, ia mengamuk. Memukul, menendang siapa saja yang ada dihadapannya. Melihat hal itu ayah Jason langsung memanggil pihak rumah sakit setelah berhasil menghentikan Jason dengan bantuan 2 security.
Didalam kamar khusus disalah satu rumah sakit jiwa yang terkenal, Jason kerap berkhayal dan berbicara sendiri. Ayahnya yang melihat itu merasa kasihan dan ia meminta dokter untuk menjaga anak sulungnya tersebut. Dua adik Jason juga turut bersedih melihat sang kakak yang menjadi gila seperti itu.
Sementara Samantha, ia akan mendapatkan warisan dari ayah Jason dan membiarkan Samantha untuk menikah lagi dengan pria lain.
***
Selesai menceritakan itu semua, Samantha langsung beranjak pergi dari kamsr Jason. Ia sengaja menceritakan hal itu agar Jason selalu menjadi gila.
***
Tamat.







0 comments:
Post a Comment