This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, October 5, 2016

The Art Of Case ( The Psycho )

Author: Sad Anonim

 Prolog.

Seorang pria bernama Frank Anderson Vinch yang dulu berprofesi sebagai seorang detektif, harus berhadapan dengan sebuah situasi yang sangat membingungkan untuknya. Dia harus menjadi detektif kembali dan menyelidiki siapa pembunuh istrinya. Dalam investigasinya ia sedikit demi sedikit mendapati hal-hal yang sangat membuatnya terkejut dan bahkan tak ia sangka. 
***

Part-1: Sweet Home.

Frank yang kini telah pensiun dari dunia kedetektifan diusia muda membuat banyak orang bertanya. Kenapa ia berhenti diumurnya yang masih 45 tahun ini. Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya ia tanggapi dengan senyuman dan sepatah kata, bahwa ia hanya ingin hidup damai dengan bisnis yang sudah 5 tahun ini ia bangun.

Kehidupan Frank bisa dibilang sangatlah berkecukupan, dan sangat beruntung. Dia memiliki istri yang cantik, rumah yang terbilang besar dan mewah. Usahanya juga sangatlah berkembang, bahkan kini ia sudah memiliki 2 hotel berbintang ditengah kota. Semua ia dapatkan dari profesinya sebagai detektif dan sebuah restoran yang kini telah memiliki sedikitnya 20 cabang.

"Sayang apa kau jadi pergi memancing dengan Pak Johanson?" tanya Susan.

"Ya, aku akan memancing selama 3 hari," jawab Frank.

"Apa perlengkapanmu sudah siap?" tanya Susan lagi.

"Ah iya, hampir saja aku lupa. Aku harus membeli sebuah joran lagi," ucap Frank.

Dengan buru-buru Frank berlari kecil kekamarnya, ia mengambil dompet dan kunci mobil. Lalu ia berlari lagi menghampiri istrinya, ia mencium pipi istri yang sangat ia cintai itu dan pergi menuju toko peralatan pancing.
***

Sambil mengendarai mobilnya, Frank mendengarkan lagu-lagu yang diputarkan oleh stasiun radio yang sinyalnya berhasil ditangkap oleh antena radio di mobil Mewahnya ini. Hampir 30 menit ia menghabiskan waktunya dijalan yang tak terlalu ramai. Ia menstopkan mobilnya disebuah parkiran yang kosong, dengan perlahan ia keluar dan berjalan menuju toko peralatan pancing.

"Hay Frank," sapa sang pemilik toko.

"Hay, Alfred. Apa kau jadi ikut untuk hari sabtu nanti?" tanya Frank.

"Ya, tentu ini hal yang paling aku tunggu," ucap Afred.
 Frank tersenyum dan mengacungkan jempolnya, ia lalu berjalan kesebuah rak yang berisi beberapa joran pancing kualitas terbaik.

"Harga joran ini berapa?" tanya Frank sambil menunjukkan sebuah joran berwarna abu-abu.

"Itu 96 dollar Frank, tapi untukmu 75 dollar saja," ucap Alfred.

Frank lalu mengambil satu joran pancing itu, ia kembali berjalan menuju tempat umpan buatan. Ia berencana untuk membawa 10 umpan buatan itu untuk memancing sabtu nanti. Ia memilih tipe umpan tiruan dari sebuah ikan tongkol kecil, lalu ia mengambil sebuah kantong plastik untuk mengambil umpan hidup.
Ia memilih umpan hidup dari jangkrik dan cacing besar yang entah ia sendiri tak tau namanya.

"Semua ini berapa kawan?" tanya Frank.

"Semuanya 375 dollar Frank," ucap Alfred.

Frank lalu mengambil dompetnya, ia menarik keluar sebuah kartu kredit yang terselip disalah satu kantong didompetnya. Lalu ia menyerahkan benda tipis yang terbuat dari plastik itu pada Alfred. Setelah selesai membayar, Frank langsung bergegas pulang untuk makan siang.
***

Sesampainya dirumah, ia langsung disambut sang istri yang sedang berduduk santai didepan teras rumah mereks sambil membaca sebuah majalah dan ditemani secangkir teh lemon.

"Sayang, apa makanan sudah siap?" tanya Frank.

"Sudah, isshhh kau ini. Datang-datang langsung menanyakan soal makanan," ucap Susan sambil memasang wajah cemberut.

Frank yang melihat perubahan istrinya hanya tersenyum, ia lalu berjalan mendekat kearah Susan dan langsung menggendong tubuh mungil Susan, wanita yang sangat ia cintai. Frank lalu membopong tubuh Susan menuju ruang makan.

"Uhh tubuhmu ternyata berat juga ya," ucap Frank.

Susan yang mendengar hal itu hanya bisa memukul-mukul pelan dada bidang Frank sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah. Frank berjalan melewati ruang tengah, melewati sebuah pajangan yang berbentuk lukisan yang cukup besar. Di lukisan itu ada dirinya, Susan, dan kedua anaknya Charles dan Claire yang kini sedang melanjutkan pendidikkan mereka diluar kota dan tinggal bersama kakek dan nenek mereka.

Sesampainya meja makan, Frank mendudukkan Susan kesalah satu kursi. Dan ia pun duduk berhadapan dengan Susan, meja sepanjang 1,5 meter itu dihiasi dua buah lilin yang dinyalakan oleh Frank. Kebiasaan mereka saat makan berdua.

"Mmm... Kau memasak semua ini untukku?" tanya Frank.

"Yup, ini semua makanan kesukaanmu bukan?" tanya Susan.

Diatas meja itu terdapat 4 buah masakkan, dari kepiting saus tiram, pasta lobster, steak, dan nacos. Semua itu adalah makanan kesukaan Frank. Frank langsunh melahap semua makanan itu secara rakus, ia terlihat seperti orang yang tak makan selama 3 hari. Susan yang melihat hal itu hanya bisa tertawa, ia tak menyangka Frank akan menjadi seperti ini.
***

Hujan turun dimalam yang cukup menusuk tulang, ditambah hembusan angin yang cukup kencang. Frank dan Susan duduk disofa yang berada didekat perapian sambil menonton sebuah film romantis. Dengan manjanya Susan menyandarkan kepalanya kedada Frank, Frankpun membelai lembut rambut wanita yang sudah 25 tahun menemaninya itu. Ya mereka memang menikah muda, mereka menikah saat Frank berumur 20 tahun dan Susan 18 tahun.

"Kau masih saja ingat dengan film ini," ucap Susan.

"Ya, tapi semoga saja kisah cinta kita tak terpisah seperti dalam film titanic ini," ucap Frank.

Susan merapatkan pelukkannya, entah kenapa ucapan Frank barusan membuatnya sedikit takut. Frank dan Susan sesekali bercanda sambil menanti film itu habis, Frank sangat bersyukur ia bisa mendapatkan Susan yang menjadi primadona dikampus itu. Otak Susan yang pintar menjadikannya bisa memasukki universitas saat berumur 16 tahun.

"Kau sangat cantik Susan," ucap Frank sambil mengelus pelan pipi kiri istrinya itu.

"Jangan coba menggodaku Frank," ucap Susan sambil tersenyum.

Frank mendekatkan wajahnya kearah wajah Susan, perlahan keduanya saling mendekatkan bibir mereka. Dan merekapun menutup malam itu dengan suasana yang sangat romantis.
***

"Apa kau akan membawa semua ini sayang?" tanya Susan.

"Ya, aku tak tau kondisi disana seperti apa. Ini yang pertama kalinya aku kesana," ucap Frank.
Susan perlahan mendekati Frank, ia lalu memeluk Frank dari belakang.

"Hati-hati," ucap Susan sambil membalik tubuh Frank dan mencium Frank dengan mesra.

"Ya, aku pasti akan berhati-hati. Doakan aku supaya mendapatkan ikan yang banyak," ucap Frank.

Susan hanya tersenyum, tak lama suara klakson mobil berbunyi beberapa kali. Menandakan Johanson dan Alfred sudah datang. Frank buru-buru masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.

"Bagaimana rencanamu?" tanya Johanson.

"Kita akan memulainya," ucap Frank sambil tersenyum dan mengaluarkan sebuah jorang
pancing.
***

Bersambung.

Saturday, October 1, 2016

House Of Sorrow Part-3: Who is true?

Author: Sad Anonim.



Jason kembali kerumahnya, ia berbaring diatas kasur empuknya setelah membersihkan diri. Ia menatap kelangit-langit, entah apa yang ada didalam pikirannya. Tiba-tiba ia tertawa sendiri, ia terus tertawa. Tatapan matanya yang biasa tajam berubah menjadi kosong. Tawanya sangatlah tulus dari dalam dirinya.

Tak sengaja, salah seorang pelayan melewati kamar Jason. Ia mendengar suara tawa Jason yang tanpa henti. Khawatir dengam keadaan tuannya, ia segera menelpon orang tua Jason untuk menemui anak mereka.

"Tuuutttt tuuuttt..... Ckrekkk... Hallo, nyonya bisakah anda kemari. Saya menghawatirkan anak anda yang tak henti-hentinya tertawa," ucap pelayan itu.

"Apa? ya baiklah aku akan segera kesana," ucap ibu Jason.
***

Ibu Jason dengan cepat mengendarai mobilnya menuju rumah anaknya. Ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya, semoga sajak kejiwaan anaknya tak benar-benar terguncang.

"CKKIITTT...."

Suara dari rem mobil mewah berjenis SUV itu terdengar cukup nyaring. Dengan buru-buru ibu Jason keluar dan membanting pintu mobilnya cukup keras, lalu ia berlari cukup cepat dan langsung masuk kerumah anaknya yang lumayan besar ini. Diumur yang tak lagi muda ini, ibu Jason masih cukup kuat untuk mengitari rumah yang hampir setengah hektar ini.

"Tok...Tok... Jason, apa kau ada didalam nak?" tanya Ibunya.

Namun Jason hanya diam, Kinna yang khawatir mencoba mendorong pintu itu. Dan untungnya pintu itu tak terkunci, perlahan Kinna mendorong pintu itu untuk melihat kondisi anaknya.

"Jason ada apa nak?" tanya ibunya.
Jason yang merasa punggungnya ditepuk langsung berbalik.

"Oh bu, maaf aku tak mendengar. Aku sedang asyik bermain game ini," ucap Jason sambil melepas earphone dari kedua telinganya.

"Ibu khawatir karena kau tertawa terus dari tadi," ucap Kinna.

"Hehe, maafkan aku bu," ucap Jason memaksakan senyumnya.
Ibu dan anak itu lalu melanjutkan pembicaraan mereka.
***

Dilain hal, disebuah rumah yang sudah hangus terbakar. Polisi dan pemadam kebakaran mencoba mencari korban yang mungkin saja jasadnya masih bisa ditemukan. Hampir seharian mereka telah mencari, namun tak satupun hasil yang mereka temukan.

"Siapa yang melakukan hal ini pada hakim Thomson?" tanya opsir Anderson.

"Entahlah, mungkin seseorang yang sangat membencinya. Kau taukan hakim Thomson adalah hakim yang korup?" ucap Kepala pemadam bernama Garry.

"Kau benar, tapi tetap saja kita harus mencari tau hal ini," ucap Andrson.

Sibuk kedua kepala instansi itu berbicara, tiba-tina salah satu anak buah mereka menghampiri mereka dan melaporkan bahwa mereka tak menemukan apa-apa. Akhirnya pencarian bukti ditempat itu dihentikan karena hari yang sudah menggelap.
***

Seiringnya waktu, kasus itu masih belum terpecahkan. Terhitung sudah sebulan berlalu, tapi semua bukti bak ditelan bumi. Jason yang mendengar berita itu hanya tersenyum sambil menyeruput coklat panas yang sekarang ada didalam cangkir yang ia pegang.
Pandangan mata Jason menerawang keatas. Tangannya merangkul sang istri dan kedua anak mereka.

"Aku sudah berhasil," ucap Jason, sambil menatap wajah istrinya yang sekarang duduk disampingnya.

"Ya, kau sudah membalaskan dendam dan hak kami sayang," ucap Samantha.

Jasonpun tersenyum, ia membelai rambut indah istrinya itu. Namun, wajah istrinya semakin mengabur dan beberapa detik kemudian menghilang dari pandangan Jason. Begitu juga dengan kedua anaknya yang sedang tersenyum padanya. Jason mencoba menangkap tangan mereka, namun seolah-olah tangannya tak bisa menyentuh tangan anaknya. Setiap ia mencoba, maka tangannya akan menembus tangan anaknya. Mata Jason membulat, ia tak ingin lagi kehilangan mereka.
***

"Tidakkk..... Tidak......."

"Tenanglah, suster cepat ambilkan obat penenang," ucap seseorang berpakaian serba putih.

"Tidak... Jangan tinggalkan aku lagi... Samantha, anak-anak... Kumohonn," teriak Jason.

Dua perawat yang menahan kedua tangan Jason sampai kuwalahan dibuatnya. Untung saja suster cepat membawakan sebuah suntikan yang berisi obat penenang. Dokter dengan cepat menyuntikkan obat itu pada Jason dan membuat Jason tenang dan tertidur.

"Bagaimana kondisinya dok?" ucap Samantha.

"Dia sangat depresi nyonya, hal apa yang menyebabkan pasien menjadi depresi berat seperti ini?" tanya sang dokter.

"Ini semua terjadi setelah ia mendapat kabar bahwa sang ibu dan anak-anaknya mengalami kecelakaan mobil dan menewaskan mereka dok," ucap Samantha.

"Oh, aku turut berduka atas kejadian itu," ucap dokter.

"Apa aku boleh menjenguknya dok?" tanya Samantha.

"Tentu," jawab sang dokter sambil mempersilahkan Samantha masuk.

Disana Samantha melihat mantan suaminya duduk sambil menatap kosong kearah jendela berlapis baja.

"Jason, maafkan aku... Aku tak bisa menemanimu selamanya, aku tau. Kau sangat sayang pada mendiang ibu dan anak-anak kita, tapi sadarlah mereka sudah tenang dialam sana," ucap Samantha.

"Ini semua gara-gara Abigail!" ucap Jason.
Samantha lalu memeluk Jason.

"Jason, Abigail, Thomson, Tia, Nina, opsir Anderson, dan kepala pemadam Garry semuanya tak ada. Mereka semua hanya khayalanmu," ucap Samantha.
Samantha lalu menceritakan semua kebenaran yang terjadi pada Jason.
***

Saat itu Jason sedang menunggu, setelah menyiapkan acara makan malam spesial yang ia siapkan untuk sang istri Samantha yang marah padanya karena ia dikira menyelingkuhi Samantha. Lama Jason menunggu, namun Samantha tak kunjung datang. Akhirnya Jason mencoba untuk menjemput Samantha yang pasti berada dirumah orang tuanya.

Dengan mobil sport miliknya Jason melaju dengan cepat menuju rumah orang tua Samantha. Sesampainya disana, ia tak melihat mobil orang tua Samantha. Namun yang ada malah mobil asing yang terpakir bersebelahan dengan mobil putih keluaran BMW itu yang Jason tau pasti adalah milik Samantha.

Perlahan Jason mendekati rumah itu, dengan sangat pelan ia membuka pintu depan yang untungnya tak terkunci. Keadaan rumah sangatlah sepi, Jason yang sudah berfikir negatif langsung membuat pemikirannya itu. Perlahan Jason menaiki tangga menuju kelantai dua, tempat dimana kamar Samantha berada.

"Uhh... Ya.. Teruskan Niko... Pria bodoh itu masih saja percaya denganku yang sudah
berselingkuh denganmu," ucap suara yang sangat dikenal Jason, itu adalah suara Samantha.
Perlahan Jason mengintip dari pintu yang tak tertutup rapat itu. Mata Jason terbelalak melihat apa yang sedang dilakukan istrinya dengan seorang pria yang berada diatas tubuhnya.

"Hahaha, rencana kau menuduhnya selingkuh itu sangat berilian bukan?" tanya Niko.

Jason yang mendengar itu langsunh naik pitam. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung masuk dan menghajar pria bernama Niko itu sampai pingsan. Samantha yang melihat itu hanya bisa diam, ia sangat shock atas kedatangan Jason.
Jason yang melihat Niko sudah terkapar langsung meninggalkan mereka berdua. Dengan cepat ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***

Dalam perjalanan pulang, Jason mendapat sebuah telepon.

"Ya hallo," ucap Jason.

"Apakah bapak bernama Jason Vinch?" tanya seseorang dari telepon.

"Ya saya sendiri, ini dengan siapa ya?" tanya Jason.

"Kami dari rumah sakit Gabriella pak, ingin mengabarkan bahwa saudari bernama Kinna Vinch dan dua anak mengalami kecelakaan mobil," ucap pihak rumah sakit.

"Apa? baiklah aku akan segera kesana," ucap Jason.
***

Sesampainya disana, Jason langsung berlari menuju ruangan tempat ibu dan kedua anaknya dirawat. Jason langsung bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan itu.

"Bagaimana kondisi mereka dok?" tanya Jason.

"Maaf pak, kami sudah berusaha," ucap dokter itu.

Jason yang mendengar jawaban sang dokter terduduk lemas, ia memandang kearah pintu kamar rumah sakit yang ada didepannya. Lama Jason terdiam, dan saat kesadarannya kembali ia langsung berlari kearah jasad ibu dan dua anaknya. Jason menangis dengan kencang melihat orang-orang yang paling ia sayangi terbujur kaku, dokter dan perawat yang melihat kondisi Jason mencoba menenangkan Jason.
***

Pemakaman sudah dilakukan, disebuah rumah yang sengaja dipesan Jason untuk tempat pemakaman ibu dan dua anaknya. Ayah Jason yang seorang bisnisman juga hadir melihat istrinya untuk yang terakhir kalinya. Semua orang yang datang dalam acara itu menangis karena mengenang jasa dari Kinna yang banyak membantu mereka.

Namun, hanya Jason yang menatap kuburan ibu dan anaknya dengan pandangan kosong. Jiwanya terguncang dan setelah pemakaman usai, ia mengamuk. Memukul, menendang siapa saja yang ada dihadapannya. Melihat hal itu ayah Jason langsung memanggil pihak rumah sakit setelah berhasil menghentikan Jason dengan bantuan 2 security.

Didalam kamar khusus disalah satu rumah sakit jiwa yang terkenal, Jason kerap berkhayal dan berbicara sendiri. Ayahnya yang melihat itu merasa kasihan dan ia meminta dokter untuk menjaga anak sulungnya tersebut. Dua adik Jason juga turut bersedih melihat sang kakak yang menjadi gila seperti itu.
Sementara Samantha, ia akan mendapatkan warisan dari ayah Jason dan membiarkan Samantha untuk menikah lagi dengan pria lain.
***

Selesai menceritakan itu semua, Samantha langsung beranjak pergi dari kamsr Jason. Ia sengaja menceritakan hal itu agar Jason selalu menjadi gila.
***

Tamat.

Insomnia

Author: Sad Anonim.



Disini, aku akan menceritakan sebuah kisah yang terjadi pada seorang penderita insomnia.
Entah kenapa, malam ini perasaanku sangat tak nyaman. Seperti ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi padaku. Dari tadi aku hanya mondar-mandir didepan jendela kamar yang kubuka gordennya. Sesekali aku melihat keluar jendela, namun hanya gelapnya malam yang menemaniku saat ini. Lampu temaram yang dipasang ditiang-tiang lampy dijalan hanya menambah kesan horor.

Aku yakin, tak akan ada orang yang mau keluar pada malam hari seperti ini. Entah kenapa, ini yang pertama kali untukku. Merasa tak nyaman atas penyakit insomnia yang aku derita sejak 1 bulan yang lalu. Merasa tak nyaman saat bangun sendiri ditengah malam yang gelap ini.
Hampir setengah jam aku berjalan mondar-mandir. Iseng aku mengambil teleskopku dan memasangnya didepan jendela kamarku. Aku meneropong kearah rumah yang ada diseberang jalan, sebuah rumah bertingkat dua bergaya minimalis yang ditinggali dua orang gadis yang sangat cantik dan sexy dikompleks ini.

Sungguh, bahkan akupun tertarik pada mereka. Aku mendekatkan mataku kearah corong teleskop ini, mencoba mencari dan melihat kondisi rumah yang lampunya masih menyala itu.

"Ah mungkin mereka sedang berpesta dengan pacar mereka," ucapku dalam hati.

Aku terus mengamati kondisi rumah itu. Lama aku hanya melihat jendela kosong, namun saat aku hendak menghentikan kegiatan mengintipku. Aku melihat seseorang yang berjalan mengendap-endap dari satu jendela ke jendela yang lainnya.

Lalu orang itu berhenti disebuah jendela yang menurutku adalah kamar dua gadis itu. Orang itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mataku terbelalak melihat bentuk bayangan dari benda yang dipegang orang itu. Itu sebuah pisau dapur. Orang itu lalu mengayunkan pisaunya kebawah seperti menghujam sesuatu, lalu lampu dijendela itu mati.

Dengan spontan aku langsung menutup jendela kamarku dan mematikan lampu kamarku yang menyala. Aku berharap orang itu tak melihatku. Sesekali aku mengintip dari celah gorden yang aku buka sedikit untuk melihat orang itu, apakah ia akan berjalan menghampiri rumahku seperti halnya adegan difilm-film horror yang sering ku lihat.

Namun, untung aku tak melihat pria itu. Aku lalu memutuskan berbaring dikasurku. Setengah jam aku memandang lurus ke plafon rumahku yang dicat berwarna putih ini. Dan saat mataku hampir terlelap, aku mendengar suara pintu belakang rumahku yang terbuka. Aku langsung melompat dan mengambil pemukul baseball yang biasa aku simpan dibawah kasur.
Dengan perlahan aku keluar dari kamarku yang berada dilantai dua. Aku turun dan langsung menyalakan lampu.

"Ah ternyata kau Carlos, aku kira siapa," ucapku.

"Haha, Eric apa kau ingin memukulku dengan tongkat itu?" tanyanya.

"Ya, bisa dibilang begitu. Apa kau mendapatkan dua gadis itu?" tanyaku.

"Ya, lihat lah ini," ucap Carlos sambil membuka dua karung yang sudah ia letakkan dilantai entah kapan.

"Bagus, kita bisa menjadikan mereka budak kita, bawa mereka kelantai bawah," ucapku.

"Cih.. Kau hanya bisa memerintah. Angkatlah satu, kau kira ini enteng?" ucap Carlos.

"Ya ya, baik lah," ucapku dengan berat hati.